Malam ngencuk — pagi lupa

Argumentasi lemah. Arogan. Data-data kurang mendukung. Terlalu menggebu-gebu. Bahasa terlalu ‘warung kopi’, apalagi untuk tayangan sekelas ‘Indonesia Lawyers Club’. Karni Ilyas sempat menyayangkan argumentasi yang dikeluarkan oleh Mahmud Syaltout, karena ILC tayangan ‘live’. Tidak bisa diedit. Arti dari kalimat, “seperti semalam ngencuk, pagi lupa,” yang diucapkan cukup mengherankan bila disampaikan dalam diskusi yang intelek. Ngencuk kurang lebih, artinya, bersetubuh?

Banyak koreksi terhadap Badan Intelijen Negara [BIN], kepolisian, dan negara. Wajar, tapi terlalu mengambang. Ucapan BIN tidak becus bekerja, bahkan lebih baik diganti Banser, terdengar seperti melucu tapi, jujur saja, kering. Kekeringan itu, diguyur oleh Maruli Tampubolon yang tampil sempurna yang menyanyikan hits Koes Plus, “Andaikan Kau Datang”.

Saya menunggu kuliah gratis dari Prof. Mahfud M.D. dan Rocky Gerung.

Advertisements

ILC last night

Last tuesday I was watching ILC [Indonesia Lawyers Club] as usual. The topic itself for me is to heavy that surely I am not into [more about law], there’s so much opinion I can’t reach. Yusril Ihza Mahendra giving a new perspective that not all of us obliged to have  an opinion about everything, including the case of Setya Novanto. In mean, all of us couldn’t see Setya Novanto as ‘public enemy’ – as a bad guy right here. In fact, I don’t how I got this ‘angry’ and ‘bad’ feeling to Setya Novanto as a figure. I try to figure it out.

Tempo mengendus kasus korupsi E-KTP sejak 2011

Sekira kemarin, saya sempat menonton acara di TV One sebelum pergi untuk mengikuti karnaval 17-an. Saya lupa nama acaranya namun topik yang dibahas adalah seputar misteri kematian saksi kunci E-KTP Johannes Marliem. Ada empat orang narasumber yang dihadirkan; Pemimpin Redaksi Koran Tempo, seorang dari LPSK [Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban], satu orang pengamat, dan Juru Bicara KPK Febri Diansyah.

Yang menarik dari pembahasan kemarin Koran Tempo telah mengendus bau tak sedap dari proyek E-KTP sejak 2011 lalu mengikutinya hingga saat ini. Sedang LPSK baru bertindak, untuk melindungi Johannes Marliem karena kesaksiannya penting baru pada 2012. Bahkan narasumber dari LPSK mengaku mengetahui hal ini setelah membaca laporan yang diturunkan Koran Tempo.