Keabnormalan waria

Be a Man mengabaikan kualitas-kualitas lain untuk menjadi laki-laki, misalnya menjadi laki-laki yang penuh cinta kasih, merawat, mengedepankan win-win solution, mengedepankan kesetaraan daripada superioritas dan seterusnya.

Be a Man menilai waria sebagai sebuah abnormalitas sehingga harus dibenahi dan dinormalkan karena kalau tidak, akan membuat masyarakat menjadi rusak atas keabnormalan waria. Sehingga Be a Man tetap melihat waria sebagai sampah masyarakat yang harus dibersihkan. Sikap ini bila dibiarkan akan menumbuh suburkan sikap tidak toleran terhadap pilihan-pilihan hidup seseorang yang merupakan hak yang paling asasi.

Ini masih dari buku ‘Warna-Warni Lelaki’ oleh Nur Hasyim. Saya menuntaskannya disela membaca buku lain, ‘Analisis Bursa Efek’ karya Sjahrir, buku lawas terbitan Juni 1995.

Saat tulisan ini ditulis ada beberapa hal yang lewat dan sedikit penting. Pertama, Manchester United menang atas Fulham 4 – 1. Kedua, Manchester City pada akhirnya harus kalah (juga akhirnya) dari Chelsea 0 – 2. Ketiga, saya akhirnya deposit uang di Indodax, setelah sekian tahun hanya melihat dan mengamati saja. Keempat, melawan Leicester City, Tottenham harusnya menang.

Advertisements

Pernah denger belum, azab bencong mati tertimpa ricecooker!

“Eh, kamu itu apa ndak pernah nonton tivi? Itu ada sinetron azab bencong mati tertimpa rice-cooker-nya sendiri?”

Ini hari yang menyenangkan. Kantor mengadakan kegiatan outbond. Sekaligus merupakan perayaan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Direktur Eksekutif sedang bertugas, Direktur divisi saya pun demikian. Tapi, itu bukan jadi masalah, acara tetap berlangsung. Meriah. Meriah karena kehadiran teman-teman dari, saya bingung menyebutnya apa, ‘wanita yang terjebak dalam tubuh lelaki?’ atau ‘lelaki yang ingin jadi seorang wanita?’, saya kira, mereka baik dan fun orangnya.

Sebut saja Ajeng, mengungkapkan rasa terimakasihnya pada staf dari divisi Kesehatan Masyarakat khususnya, karena ia kini lebih aware dengan masalah kesehatan dirinya sendiri. Memang, salah satu fokus dari divisi ini adalah, pengurangan – kalau bisa menihilkan – jumlah virus HIV AIDS di kalangan mereka.

Sekitar 26 orang dibagi menjadi dua kelompok. Campur. Outbond adalah obat stres ampuh, saya kira, apalagi dengan mereka ini. Guyonannya itu asli, jauh dari guyonan yang biasa saya dengarkan.

“Eh, jangan begitu lho, aku lagi mens.” ucap Dewiq, yang nama aslinya sebut saja Doni.

Dan temannya menyahut, “Loh, emang kamu bisa mens? Kan laki.” Suasana cair. Staf mencemaskan saya dan satu rekan magang. Takut kami digoda. Padahal sudah dari tadi-tadi sebelum acara dimulai. Hahaha. Saya sih, biasa saja. Sikap tidak takut itu malah bikin mereka juga bersikap biasa saja, dalam artian ‘friendly’. Bukan biasa yang ‘menjauh’ dan ‘sinis’. Fun kok.

“Kamu udah pernah pegang payudara belum. Ini pegang punyaku. Gak papa.” tawar seorang kawan itu ke saya sambil tertawa lebar. Saya bingung mau apa. Untung temannya menyahut, “Gak enak ding, Rie. Enakan punya pacarmu.”

Si penawar tak mau kalah, “Ndak punya pacarmu belum tentu boleh. Punyaku boleh. Hahaha.” beberapa detik kemudian dia nyeletuk, “Loh, kok aku yang nafsu, ya?”.

Kami tertawa.

Saya sibuk bersenang-senang. Menikmati momen. Hingga foto dan video tak ada. Untung dari kantor ada yang bertugas dokumentasi. Saya akan minta filenya untuk kenang-kenangan.

Hari yang indah.

Libur lupa bawa buku

Lupa bawa satu buku menarik dari ribuan buku menarik di perpustakaan kantor. Saya lupa pula judulnya. Yang jelas, tentang ‘perempuan’, ‘feminisme’, dan ‘pemberdayaan’. Jumat jadi hari yang panjang, saya tugas ‘lapangan’ yang menyenangkan. Ke Klaten. Antar-antar undangan dan obrol macam-macam, dari perkembangan pemberdayaan perempuan hingga hal-hal klenik yang ada di pemilihan kepala desa. Bapak BPD dari sebuah desa bilang, “Mas, boleh percaya boleh tidak tapi memang hal-hal seperti itu memang ada!”. Saya mengangguk saja. Tak ambil urusan soal itu.

Ini hari libur. Kebetulan badan sedang tak enak. Syahdunya memang baca buku saja. Tapi lupa bawa buku. Tak ingin dulu membaca banyak-banyak dari layar monitor. Di kantor telah terpapar keterlaluan seringnya.

Minggu pertama magang, ibu-ibu PKK dan komunitas yang menyenangkan

Magang kemarin saya tidak di kantor. Sama sekali. Menyenangkan. Kenapa? Karena sistem di tempat magang saya tidak rigid. Tidak seperti magang di instansi pemerintahan atau swasta. LSM lebih fleksibel. Kemarin, saya tugas lapangan. Menemani kepala divisi untuk hadir di acara kumpul PKK ibu-ibu. Pengorganisasian masa. Masa-nya ya, ibu-ibu tadi.

Mendengarkan sekaligus memberi arahan tentang langkah-langkah preventif jika terjadi tindak kekerasan kepada perempuan (yang telah menikah, tentunya). Yang membuat senang adalah, dapat ilmu baru; mengenai pernikahan, cerai, dan hak asuh anak. Kedua, perut kenyang. Bukan hanya camilan tapi juga makan besar. Pulang-pulang tim kami diberi bekal masing-masing dua kilo buah mangga langsung petik.

Saat ini, di internet, saya mencari formulir pendaftaran asuransi pendidikan. Kisahnya, ada pasangan suami isteri yang bercerai. Anaknya masih kecil. Kasus ini pidana. Si isteri bersedia mencabut gugatan asal pendidikan anaknya terjamin. Ia pilih asuransi pendidikan.

Saya kurang paham mengenai asuransi, tanya ke bank untuk minta formulir: tidak diberi. Katanya, harus pendaftar langsung yang mendaftarkannya, dan syarat selanjutnya adalah memiliki tabungan di bank tersebut. Makanya, sekarang saya cari asuransi semacam Prudential, Allianz, dsb, yang bukan ‘bank’.


Senin nanti, jadi minggu kedua magang. Senin, saya tugas lapangan lagi, Ke daerah lagi. Menyenangkan.

Oh iya, kalau pembaca bertanya kenapa blog ini kok isinya tentang perempuan dan LGBTQ serta hal-hal sejenis, itu karena saya, yang punya blog, memang sedang berurusan dengan hal-hal itu.

Jumat kemarin di kantor, komunitas LGBTQ datang untuk rapat rutin dengan tim dari divisi KesMas (Kesehatan Masyarakat). Saya kurang paham bahasannya. Saya bersalaman dengan mereka sebelum rapat dimulai, karena diminta untuk foto dokumentasi sebentar. Saya kira, mereka orang yang baik dan ramah. Lucu-lucu juga.

Rapat kemarin intinya adalah pendataan jumlah LSL (Lelaki Seks Lelaki), Waria, dan sebagainya di daerah masing-masing. Jadi, mereka diberdayakan. Karena ‘mereka’ ini rentan sekali dengan masalah kesehatan, sebut saja contohnya HIV AIDS. Saya tanya ke tim dari Divisi KesMas, jawabannya begini, “komunitas LGBTQ ini rentan karena dari gaya hidupnya yang suka berganti-ganti pasangan.”


Saya tak sabar untuk menanti kejutan-kejutan berikutnya.

Di tempat magang ini, saya seperti belajar feminisme dari akar rumput. Yang contoh kasusnya konkret sekali dan berwawasan lokal. Dalam kelas-kelas kan, feminisme itu rasanya tinggi dan mengawang sekali.

Kodrat atau gender, perempuan laki-laki

Saya mulai magang mulai hari Minggu kemarin. Ini adalah naskah notulensi yang saya kerjakan. Diskusi itu bertajuk ‘Rehabilitasi Transformatif untuk Perempuan Korban Kekerasan, namun diskusinya sendiri dimulai dari awal sekali: terkait kodrat dan gender.

IBU FITRI (MODERATOR DAN PEMATERI)

Diskusi dimulai pukul 10.00, Ibu Fitri sebagai moderator dan pemateri mengajak peserta untuk ice-breaking sebelum masuk ke materinya.

Selamat pagi teman-teman, datang diacara diskusi ini. Tujuan kita adalah bersama bersama. Nanti ada narasumber. Semua pengetahuan itu harus disampaikan, sekecil apapun itu.

Sekilas, kalau berbicara ‘gender’ apa yang terlintas di benak kalian?

PESERTA A

Konstruksi sosial.

PESERTA B

Peran.

PESERTA C

Penempatan yang sesuai.

IBU FITRI

Lagi, apa itu gender? Ada tanggapan lain?

PESERTA D

“Gender adalah kesadaran akan potensi diri bahwa manusia itu memiliki dua sisi; feminisme dan maskulinisme. Ketika seseorang mengerti soal gender maka ia akan mengetahui kapan ia bertindak maskulin dan juga kapan bertindak feminim. Jadi gender bisa berlaku untuk perempuan dan juga laki-laki.”

IBU FITRI

Jadi pengaruhnya, ada berbagai macam. Bisa jadi personal diri bisa jadi dari lingkungan. Ada lagi yang lain? Kalau tidak ada, jika saya bilang kodrat? Apa yang ada dalam benak teman-teman.

 PESERTA A

Fitroh.

PESERTA B

Bawaan biologis.

PESERTA D

Sesuatu yang tidak bisa diubah.

PESERTA E

Kalau saya sendiri bilang, kodrat itu malah, suami istri contohnya, boleh memperjuangkan gender, jika sesuai kodratnya. Jadi misal, kita, istri, kita boleh berkarir, tapi harus dimusyawarahkan bersama suami. Komunikasi itu penting.

IBU FITRI

Kalau kita mau mengaitkan gender dengan fitroh, lalu idealisme gitu, ya, itu sangat berbeda. Kalau misal fitroh, itu kan saklek ya, tidak bisa diubah. Tapi gender, itu masih bisa diubah. Karena gender merupakan hasil dari konstruksi sosial yang terkait dengan tempat, waktu, budaya. “Sejak awal bayi tidak memiliki perbedaan baik laki ataupun perempuan. Yang berbeda hanya alat kelamin. Dan keluarga yang menciptakan konstruksi sosial yang awal dan terus menerus, hal itu menyebabkan adanya ketidakadilan gender. Kemudian lingkungan masyarakat turut menyumbang dalam konstruksi sosial yang mengesampingkan posisi perempuan”.

Maka, yang paling penting adalah membangun kesadaran secara bersama agar yang namanya kekerasan terhadap perempuan itu menurun. Jadi bila mendapat informasi sedikit, bisa disebar agar para perempuan semakin sadar akan kekerasan ini.

Satu hal yang perlu dipahami adalah, persoalan gender ini tidak akan stagnan, namun akan berkembang terus. Hal tersebut disebabkan oleh salah satunya waktu dan tempat. Satu tempat dengan tempat lainnya bisa sangat berbeda, persoalan gender di Indonesia dengan Amerika Serikat itu sangat jelas berbeda. Begitu pula dengan waktu, Indonesia di awal kemerdekaannya dengan Indonesia kini berbeda persoalan gender yang dihadapinya. Yang ketiga adalah faktor budaya, budaya. Pada waktu jaman dulu, misal persoalan gender itu bisa dipahami sebagai perempuan yang ikut berperang, kalau kini perempuan tergabung dalam sebuah emansipasi. Seperti itu.

Kini perempuan, begitu, harus sadar akan ketidakadilan peran yang dihasilkan dari konstruksi sosial itu tadi. Contohnya, perempuan tidak lagi hanya dijadikan ‘konco wingking’ atau hanya melakukan pekerjaan domestik; menyapu, mengepel, mencuci, menyeterika, ‘melayani’. Dan ini tidak bisa dikaitkan dengan kodrat, atau kewajiban. Hal ini, bisa timbul sebab dari diri sendiri, lingkungan keluarga, atau masyarakat pada umumnya.

Konstruksi sosial yang mengakibatkan perempuan, misalnya, dalam keluarga tidak memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan dalam keluarga. Kalau laki-laki tidak bekerja misal, tidak mampu memimpin keluarga, karena situasi sosial tidak mendukung, lalu apa yang terjadi? Lingkungan pasti mencemooh, menggunjingkan. Karena perempuan, itu dianggap sebagai subordinat, bekerja di wilayah domestik bukan di ranah publik.

Terkait hal itu, maka laki-laki oleh masyarakat, dicap sebagai kepala keluarga. Mencari nafkah utama, memimpin, dan memutuskan. Hal ini sudah dilabelkan sejak ia lahir. Makanya, saat perempuan mampu bekerja di rumah, tapi juga mampu mencari ekonomi di rumah, maka ia disebut pencari nafkah kedua. Masyarakat menggunjingkan apakah suaminya di rumah tidak bekerja. Akhirnya, si wanita menjadi beban ganda; ia bekerja dalam rumah tapi juga bekerja di publik.

Maka dari itu, setelah peserta diskusi ini selesai dari sini, diharapkan saat kembali ke lingkungannya masing-masing mampu mengembangkan apa-apa yang didapat selama diskusi ini berlangsung.

ADA PESERTA DISKUSI YANG INGIN MENANGGAPI?

PESERTA B

Saya ingin menanggapi terkait pengambilan keputusan dalam keluarga. Kebetulan keluarga saya menganut demokrasi, jadi setiap pengambilan keputusan, saya menginformasikan kepada orangtua. Nanti orangtua mengembalikan ke saya, ‘jika dirimu sanggup maka lakukanlah’. Jadi, orangtua saya diberikan keleluasaan tapi juga diberi tanggung jawab untuk menerima konsekuensinya. Jadi, tidak selalu laki-laki yang selalu menjadi pengambil keputusan. Tinggal bagaimana pengetahuan yang cukup dimiliki oleh keluarga dan lingkungan.

Pertanyaan saya, solusi yang terbaik bagi sahabat-sahabat saya untuk mengetahui apa itu gender?

IBU FITRI

Kita prosesnya bertahap. Bahwa, di sini pun, kita belum tentu sepaham pemikirannya. Terus kemudian misal secara pengetahuan sama, namun refleksinya, implementasinya beda antara satu dengan yang lain. Atau ia sudah punya pemahaman terkait gender, namun bisa jadi ia melawan, bisa jadi berbeda konstruksi pemahamannya. Pengaruhnya itu bisa macam-macam; keluarga; lingkungan; agama; bahkan negara.

Solusinya, kita bangun dulu fondasinya. Nah, prosesnya itu bisa menjawab bagaimana solusinya nanti. Karena itu, ini sekarang kita baru mencoba membangun pemahamannya dulu.

[ . . . ]

IBU LIZA

Saya ingin memulai dengan, apa yang diharapkan orangtua kepada kalian selaku anak perempuan?

(Peserta Diskusi); Pintar masak, bisa dandan, rajin membantu pekerjaan rumah.

IBU LIZA

Ayo kita sekarang membahas mengenai kodrat suami dan kodrat istri. Mulai dari laki-laki dulu: menurut kalian kodrat sebagai suami apa?

PESERTA G

Bekerja.

PESERTA H

Memimpin.

PESERTA G

Bertanggungjawab.

PESERTA H

Menunjuki jalan.

PESERTA G

Memimpin bukan hanya ekonomi tapi juga idealisme.

IBU LIZA

Lalu kodrat sebagai istri menurut teman-teman apa?

(Peserta Diskusi); hamil dan melahirkan, memasak, menyapu, mengepel, ngurus anak, menyusui, melayani.

IBU LIZA

Kodrat perempuan seperti sudah dijelaskan oleh teman-teman diskusi adalah yang disebutkan tadi, hamil dan menyusui. Apakah peran tersebut bisa diganti oleh laki-laki? Karena laki-laki tidak memiliki kemampuan untuk mengandung, tidak punya rahim. Hanya Tuhan yang bisa buat rahim. Jadi, yang potensi untuk melahirkan dan menyusui. Sehingga ini tidak bisa dipertukarkan.

Melayani secara seks, misalnya, apakah itu kodrat seorang istri? Tidak. Karena seks kan kemauan kedua belah pihak. Seks adalah kebutuhan makhluk hidup, bukan hanya laki-laki. Lalu apakah melayani secara seksual bagi perempuan adalah wajib? Bisa ditelaah lagi, jika perempuan itu sedang haid misal, atau perempuan sedang lelah dan lain-lain sehingga tidak ada gairah untuk melayani suami, bisa dikomunikasikan kepada suami. Sehingga kata ‘wajib’ masih bisa dikritisi.

(Peserta Diskusi)

Dalam pemahaman saya, dalam fiqih itu, suami sebaiknya mengetahui siklus haid dari istrinya. Atau, istri bisa melayani suami tidak hanya melalui vagina, namun dengan cara yang lain. Namun, hukumnya tetap wajib melayani suami.

IBU DILA

Saya di sini bukan untuk mendebat apalagi membawa masalah yang sedang kita bahas ini terkait dengan agama, nanti saya keliru, takutnya nanti jadi debat yang panjang. Tapi saya ingin memberi perspektif tentang Hak Seksual dan Hak Reproduksi. Karena dari sini, kita bisa melihat di mana posisi perempuan; dilayani atau melayani?

Kita, manusia, pasti pernah merasakan yang namanya gairah seksual? Iya tidak. Karena gairah seksual itu merupakan kodrat manusia, baik perempuan ataupun laki-laki sama-sama merasakan. Kebutuhan biologis itu ada di setiap manusia, maka apakah perempuan tidak berhak untuk dilayani? Konteks melayani dan dilayani di sini, kebutuhan yang sama, ini saya tidak masuk ke pembahasan agama, ya. Tapi kebutuhan seksual itu sama antara perempuan dan laki-laki.

Komunikasi menjadi penting dalam hubungan relasi ini, karena seks adalah hubungan intim yang membutuhkan kedua belah pihak. Tidak ada penindasan. Dan sebagainya, nanti setelah istirahat akan dilanjutkan mengenai penindasan, kekerasan, hak seksual dan hak reproduksi, itu nanti akan dibahas sehabis ini.

(Peserta Diskusi)

Saya lebih akan memandang masalah ini dari sudut pandang sejarah, karena segala sesuatu kan tidak bisa dilepaskan dari sejarahnya. Dari sejarahnya, emansipasi misalnya, Kartini sadar akan pentingnya emansipasi justru saat ia surat-suratan dengan kawannya di luar negeri. Meski sudah banyak perempuan yang bergerak misal, tapi kita sedikit sekali mendengar tentang peran perempuan yang ada dalam buku sejarah misalnya.

Peran perempuan dalam proses dari dan menuju proklamasi kemerdekaan Indonesia, tidak ditulis dengan baik. Barangkali kita juga harus mengingat dalam Sumpah Pemuda ada perempuan yang berbicara, tapi tidak ditulis. Kenapa itu bisa terjadi? Kenapa seakan sejarah mendiskreditkan perempuan.

IBU DILA

Topik ini semakin menarik. Saya ingin memulai dari isu ‘Ibuisme’, sebenarnya kan dari 1928 itu sudah ada kongres wanita pertama, itu tempatnya di Jogjakarta. Di situ ada banyak sekali ormas-ormas kegamaan islam, itu ada banyak sekali. Bukan organisasi keagamaan ya, tapi organisasi perempuan yang dibentuk karena ketidakadilan perannya. Isu-nya belum seperti sekarang ini, ‘human trafficking’, tidak, tapi masih serupa poligami, dan sebagainya.

Tapi, pada sejarah, perempuan sudah sadar akan pentingnya peran dirinya sendiri. Jika perempuan bergerak, misalnya, itu bisa mengubah dunia. Perempuan itu, power-nya luar biasa. Ia bisa memengaruhi saudaranya, bisa memengaruhi anaknya, memengaruhi ibunya. Coba bila perempuan memiliki satu tujuan bersama lalu bergerak.

Makanya, pada tahun 1970-an, isu Ibuisme berkembang, dengan programnya yaitu PKK, dan implementasi lainnya yang banyak macamnya, tapi intinya adalah mendukung suami. Isinya PKK itu memasak, demo-nya demo memasak. Jadi tugasnya hanya mendukung kerja suami. Karena jangan sampai, pada 1970 perempuan bergerak, karena pada saat itu Indonesia sedang membangun. Belum lagi, pada 1940-an Indonesia baru mau merdeka, negara lain sudah merdeka duluan, jadi prosesnya agar perempuan ‘setara’ seperti itu butuh proses yang panjang. Dan Ibuisme ini, masih berlangsung hingga kini.

Dalam Panca Dharma Wanita, misal bila istri memiliki penghasilan lebih besar dari suami, ia tetap saja disebut sebagai pencari nafkah tambahan. Padahal tambahannya lebih besar.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh kita untuk membangun pemahaman soal gender? Ini mengingatkan kita, nanti setelah diskusi ini kita mau melakukan apa. Harapannya nanti setelah dari sini, ini semua agen-agen perubahan pulang, ke lembaganya masing-masing, bisa menyebarkan yang telah kita bahas di organisasinya, di pergaulan, atau paling minimal untuk diri sendiri. Misal nanti kita pulang lalu, sampai di rumah masih bilang kalau, perempuan harus masak, ya ini masih belum ada perubahan. Tapi, bila kemudian ini kita komunikasikan misalnya, bahwa ini bukan kewajiban istri saja.

Jadi, sebenarnya posisi laki-laki dan perempuan itu sama (sederajat), tidak ada yang memimpin atau dipimpin sebetulnya. Dipimpin dan memimpin itu, perlu ditelisik lebih jauh lagi. Siapa yang menciptakan? Apa tujuannya? Kenapa gerakan perempuan dilemahkan? 1928 mereka sudah Kongres kok, kenapa semenjak itu perempuan dilemahkan. Karena laki-laki, sadar akan potensi itu, perempuan bisa masuk dalam level manapun, di RT bisa, level Kelurahan bisa, lewat PKK bisa, lewat Kader Kesehatan bisa, maka perempuan itu punya power yang kuat. Inilah kenapa gerakan perempuan dilemahkan.

IBU LIZA

Sampai di sini teman-teman, kodrat itu apa?

PESERTA B

Pemberian dari Tuhan yang tidak dapat diubah.

IBU LIZA

Gender itu?

PESERTA F

Sesuatu hal yang dibentuk oleh konstruksi sosial yang bisa diubah dan dipertukarkan.

IBU LIZA

Ini adalah kontruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat sesuai dengan kondisinya, sesuai dengan waktunya. Jadi, bila kita berbicara peran suami dan peran istri kita sedang membicarakan gender. Jangan bilang ini kodrat. Kalau kita berbicara soal-soal pemberian Tuhan, yang tidak bisa diubah, itu kita berbicara persoalan gender. Kalau kita bisa tidak bisa memahami perbedaan kodrat dan gender, kita tidak bisa sampai bisa pada ketidakadilan gender bila dasarnya saja belum dipahami.

Naskahnya masih panjang, saya tidak akan memasukkan semuanya di sini. Saya yakin, akan belajar banyak sekali selama magang di sini. Terutama untuk mempertajam perspektif feminisme saya, juga perspektif lain, seperti, senin kemarin kawan-kawan dari LGBTQ datang ke kantor untuk memberi laporan dan ‘curhat-curhat’.

Bebek goreng Lamongan pinggir jalan

“Itu yang bantu-bantu jualan siapa Bu?”

“Oh itu ponakan-ponakan di kampung, Nang. Saya mintai tolong bantu-bantu di sini. Daripada mereka di kampung tidak sekolah mending saya ajak kerja di sini. Daripada nganggur di kampung.”

Ini yang selalu saya suka dari para pengusaha. Mereka mendirikan usaha bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kemaslahatan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Salah satunya menyediakan lapangan pekerjaan. Mengangkat derajat perekonomian bersama.

Saya teringat unen-unen Jawa: “urip itu urup”. Hidup itu bisa menerangi kegelapan sekitarmu. Bermanfaat untuk sesama. Jadi, sukses bukan masalah seberapa banyak kamu punya harta. Tapi seberapa banyak kamu bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitarmu.

Oh iya, jika kalian ndilalah kok ya lagi selo mampir di Semarang tak ada salahnya mampir ke sini. Selain banyak menu yang tersedia, masalah harga juga masih wajar kok, terjangkaulah untuk anak-nak mahasiswa juga. Yang sedang pedekate sama gebetan tak ada salahnya coba ajak makan ke sini. Ya, siapa tahu setelah ngemplok sambel di sini kebimbangannya hilang dan langsung menerima kamu sebagai teman terbaiknya. Saya jamin itu, asal kalian mampir ke sini ngajak saya juga haha.

Dwi Andri Yatmo menulis dengan legit tentang warung lamongan di situs Minum Kopi.

Saya juga punya pengalaman yang hampir sama dengan warung sejenis. Meski warung lamongan begitu banyaknya, saya baru mencicipinya kemarin itu malam. Kaham – seorang teman yang jauh jauh dari Semarang – datang larut malam lantas mengajak santap malam.

Penjualnya adalah ibu paruh baya yang berdandan menor, dibantu oleh pemuda seusia saya. Saat kami datang, si pemuda makan begitu lahapnya. Ia tak lupa menyunggingkan senyum ke kami. Sebelum mengangsurkan sekali lagi nasi dan daging lele goreng ke mulutnya. Begitu lahapnya pemuda ini makan, pikir saya pemuda ini belum makan tiga hari.

Warungnya tepat di pinggir jalan utama Solo – Semarang. Tapi kami, lesehan di belakang tenda, di lantai emperan depan dealer motor. Di depan kami, adalah jalan raya, truk-truk kontainer, bis malam, tenda warung, lengkap dengan si ibu yang sedang menggoreng bebek goreng pesanan kami, wajan, gas LPG, beberapa ember besar untuk mencuci, dan sandal kami sendiri. Warung makan jenis ini, tidak mengutamakan estetika.

Saya ingat betul, habis makan, ia mencuci piringnya sendiri, mengambil air, menggaruk-garuk tangannya yang mungkin kena nyamuk, mengambil air dengan ember di keran yang tak jauh dari kami duduk lesehan, lantas ia mengantar pesanan.

“Monggo, Mas!” katanya sambil tersenyum.

Kaham makan jatahnya dengan lahap, mirip cara makan si pemuda tadi. Cara makannya membuat siapapun yang melihat tak akan lagi menyia-nyiakan makanan yang ada: penuh syukur dalam tindakan. Sambil menikmati suasana asing ini, saya makan. Sesuap-sesuap. Nyatanya, bebek goreng penuh minyak itu, tandas juga meski belum lama saya makan di rumah. Tidak terlalu spesial memang, tapi enak karena citarasa lain.

Truk menutupi pandangan kami ke jalan. Ada tiga truk dari Jakarta yang mampir. Si ibu girang, si yang murah senyum – senyum kembali, menawari, “unjukane nopo, Mas?”

Sopir truk mengambil posisi sama dengan kami, lesehan. Beberapa tersenyum ke saya. Hangat sekali. Beberapa mengajak ngobrol, sementara yang lain kami dengar mengumpati jadwal kirim muatan yang menggila, bos yang maunya cepat, dan obrolan ringan-ringan saja. Selingannya, sama dengan kami, lihat ke sana-ke mari menikmati malam.

Saya bahagia betul makan bersama orang-orang yang penuh syukur di warung tenda malam kemarin. Tak masalah lesehan, depan kami ember cucian, asap kendaraan atau sandal kami sendiri, makan kami lahap sekali.

Meditasi dalam aktifitas harian

Beberapa latihan meditasi yang dapat dikembangkan sebagai suatu latihan dasar serta merupakan bagian kesibukan Anda dalam kehidupan sehari-hari adalah:

  1. Latihan Untuk Kesehatan: Kalau Anda sedang berjalan-jalan di suatu tempat, peganglah ketiga cita-cita ini dalam pikiran Anda, yaitu; berbahagia, sehat, dan kuat. Ulangilah kata-kata terebut di dalam batin. Pusatkan pikiran pada kata-kata ini sehingga Anda dapat merasakan seolah-olah kata-kata tersebut terpeta pada seluruh tubuh Anda.
  2. Latihan Berpikir: Jika Anda sedang berpikir mengenai sesuatu hal, pikiran harus sungguh-sungguh dipusatkan pada obyek yang sedang dipikirkan. Pertahankanlah pemusatan pikiran itu dalam obyek yang sedang direnungkan saja. Jangan beri kesempatan pikiran dimasuki oleh sesuatu hal lain atau yang tidak ada hubungannya dengan perenungan.
  3. Latihan Dalam Kehidupan Sehari-hari: Kalau Anda sedang membaca buku, pusatkanlah pandangan mata dan pikiran pada buku tersebut. Kalau sedang membersihkan lantai, pusatkanlah pikiran Anda pada pekerjaan menyapu. Kalau sedang menulis surat, pusatkanlah pikiran Anda pada surat tersebut. Belajarlah memusatkan pikiran pada segala sesuatu yang sedang dikerjakan dari saat ke saat. Inilah yang disebut: “hidup saat ini” atau “hidup saat sekarang”.

Saya akan mempraktekkannya mulai sekarang. Mungkin akan dipadukan dengan puasa, olahraga lebih rutin, dan menyediakan sehari dalam seminggu hanya mengonsumsi buah-buahan saja. Pernah beberapa kali mencoba untuk meditasi ala Buddhist, dan gagal, sebab saya tidak bisa betul-betul memusatkan pikiran dan ‘diam’ saja. Ketika meditasi, pikiran saya masih memikirkan hal-hal yang sifatnya duniawi; notifikasi ponsel, teringat Youtube, 9Gag, Instagram, skripsi, jalan-jalan, dan sebagainya.

Setelah baca tulisan di website Samaggi Phala jadi sedikit lebih ‘tercerahkan’, terutama di poin ketiga, yang menyebut kalau latihan meditasi itu bisa dilakukan saat beraktifitas namun memusatkanlah perhatian sepenuhnya pada aktifitas tersebut.


Samaggi Phala: “Pengenalan Dasar Meditasi“.

Its Monday, Have a Nice Day

I don’t want blog something serious today. Its monday.

In two days learning how ‘markdown’ works. Found this site, a site (or, a blog?) about coding and programming, pretty easy to learn, for curios person like me with no skill. You might knew if I am learning Github Pages also, I am glad if you willing to check the result here. I am still dealing with ‘markdown’ now, and yes, very curios another programming languages works. I also want write more in english.

Have a nice day!

Do I need anti-virus software?

If you are used to Windows or Mac OS, you are probably also used to having anti-virus software running all of the time. Anti-virus software runs in the background, constantly checking for computer viruses that might find their way onto your computer and cause problems.

Anti-virus software does exist for Linux, but you probably don’t need to use it. Viruses that affect Linux are still very rare. Some argue that this is because Linux is not as widely used as other operating systems, so no one writes viruses for it. Others argue that Linux is intrinsically more secure, and security problems that viruses could make use of are fixed very quickly.

Whatever the reason, Linux viruses are so rare that you don’t really need to worry about them at the moment.

If you want to be extra-safe, or if you want to check for viruses in files that you are passing between yourself and people using Windows and Mac OS, you can still install anti-virus software. Check in the software installer or search online; a number of applications are available.

Taken from Ubuntu Desktop Guide. That’s why I use Linux.

 

Memasang aplikasi Wordpress di Ubuntu 18.04

Ada dua aplikasi ‘mainstream’ yang ternyata tersedia di Ubuntu Software. Pertama Spotify dan kedua adalah WordPress. Hanya satu yang saya install dan coba: WordPress. Jadi update post kali ini berbeda dari yang biasanya. Tidak lagi lewat browser di laptop atau aplikasi Android, tapi lewat aplikasi di desktop.

Dulu saya pernah install Spotify, tapi waktu upgrade Ubuntu, hilang. Sebetulnya, Spotify for Desktop tak terlalu berguna juga. Karena, meski berlangganan lewat paket pelajar yang murah, saya harus stop demi menghemat pengeluaran. Youtube lebih oke. Pun begitu, saya jarang mendengarkan musik lewat laptop.

Ukuran aplikasi WordPress ini cukup besar: 184 MB. Pada saat yang sama saya menginstall pula Atom (saya kurang jelas aplikasi apa, tapi menginstallnya pada sistem, mungkin ini aplikasi text editor, yang jelas untuk taman bermain saya dengan kode-kode komputer dan sistem) hasilnya puas sih.

Tujuan saya menulis blog masih sama: membaca setiap hari. Mungkin Anda sekalian mengenal karakter blog ini yang kalau menulis pendek, sekedar kutipan, atau hanya berbagi link. Itu artinya, saya membaca artikelnya utuh-utuh lalu membaginya di sini. Bagi saya sendiri, artikel-artikel yang menarik – menurut penilaian saya tentunya – minimal sudah diselamatkan.

Untuk urusan gaya menulis blog ini, saya mengikuti gaya-nya blogger politik Amerika sana. Mungkin Anda mengenal Andrew Sullivan, Ann Althouse, Jason Kottke, Taegan Goddard, atau Jeralyn E. Merritt.  Lebih dari itu, memang saya cocok dengan gaya blog seperti ini.