Moto-moto wisudawan

Hari yang melelahkan tapi juga menyenangkan. Memotret orang-orang yang dilanda kebahagiaan: para wisudawan. Menyenangkan betul. Yang sadar kamera hasilnya bagus, yang candid juga oke. Tapi kalau mau lebih oke dan sip ya.. ke studio foto profesional. Foto wisuda dijamin lebih membekas, apalagi fotonya dengan keluarga. 

Advertisements

Alpha 65

Basically, yesterday I became an official photographer to ‘someone’ who celebrates his graduation. It was great fun, good meals, and a lot of fun there. I took many photos and video-footage. I shot using Sony Alpha 65, not my usual camera since prefer using Canon-cameras. Today, I wanna go out and create something with the camera.

Bagaimana cepatnya pelanggan tergiur dengan diskon

12.03 AM: Checking email and get an exclusive offer from NAMA. Go to their website and making purchase Lite No. 322, with an promotional code in it.

The detail:

12: 30 AM: 6 months of waiting? Thinking for a while, AHH cheap money, NO PROBLEM!

12.35 AM: Driving through the night to the nearest Auto Teller Machine a.k.a ATM.

12.36 AM: Already paid.

Hey, thanks for the offer, Nama! I am okay with waiting. Forget about the title ’cause I am just happy with your offer. Happy me! Rwwwr.

Sedikit sekali mengenai financial freedom

Beberapa aplikasi baru di Android saya; Paypal; Pegadaian Digital; Surveyon; Stockbit; iPot Go; CNBC Indonesia; Ovo; dan saya juga menggunakan Skrill. Baru sadar dengan yang namanya, ‘financial freedom’. Laptop Linux saya terinstall lagi IQ Option, aplikasi trading saham, forex, blockchain, dan binary.

Sadar akan kondisi ‘keuangan’ itu bikin saya ‘picky’ untuk membeli barang atau mengalokasikan keuangan.

Kalau dirangkum, dari video ‘financial freedom’ sudah ditonton di Youtube juga baca-baca tulisan dari para ‘pakar keuangan’, saya harus mulai menabung dalam instumen ini; saham; reksadana; emas; blockchain; lalu hal-hal lain yang saya lupa jenisnya apa tapi di dalamnya ada tanah; rumah yang disewakan; properti; ruko; dan sebagainya.


Tapi ya, tapi, ini kisah beberapa rekan mahasiswa yang lulus: golek duit ki ya angel – cari uang itu susah. Kalau mahasiswa lulus misal, mau buka usaha dagang atau wiraswasta sepertinya sulit. Ada stigma negatif dari lingkungan. Kan, kalau lulus S1 harusnya kerjanya kantoran. Pakaian necis. Dan lain-lain.

Seorang teman, gara-gara malu, malahan ingin merantau ke luar pulau karena bingung mau kerja di mana. Pertanian jurusannya. Lowongan CPNS tahun ini membutuhkan banyak sekali lulusan keguruan, bukan pertanian.

Tentu sedikit-sedikit, saya yang sedang menulis skripsi gamang juga. “Ah, tapi saya kan kreatif,” kemudian dilanjutkan, “internet membuka begitu banyak peluang, harus yakin.”


Kalau ada pernah mendengar Steven and the Coconut Treez, dalam lagunya, ‘Bebas Merdeka’ liriknya begini: “Banyak yang bertanya, aku ini mau jadi apa? Kalau gak kuliah, juga gak kerja. Tapi ku jawab ini aku adanya.”

Yang dulu dulu, yang cadas-cadas

Ini catatan saya tulis di 2014. Masih SMA waktu itu, belum tambah bobot 12 kilo, masih unyu-unyunya, dan penggemar musik cadas sebagai arena pencarian jati diri. Saat dibaca ulang, reaksi saya seperti ini, “apa maksut anak satu ini?”. Berikut artikel utuhnya yang saya beri judul: “Catatan New Aggression 2014 at Graha Korpri Salatiga”.

‘We are there for you, Here are the some flat large family, We Metalcore’

Salatiga (20/9) menjadi hari jadi Helleluyah Merchandise yang keempat memproduksi merchandise gelap band-band cadas seantero Jawa. New Aggression 2014 digelar, tiket Rp. 20000-an ludes, pengunjung di luar tak bisa masuk karena stage penuh dengan begundal-remaja penyuka musik keras.

Semua seperti ada di Neverland! Bebas mengekspresikan diri, semua moshing, Circle Pit di mana-mana. Muka tertampar, kepala tertendang sepatu boots, perut kesikut, adalah hal biasa. Liar tapi aman.

“Terimakasih pada pemerintah atas Legalisasi ganja”, teriak anak punk dari arena.

Saya heran, dia pengunjung paling jauh yang hadir. Dari Nusa Tenggara. Tampangnya? Seperti anak punk lainnya; tato, tingkat pede yang over, hitam legam, dan ditakuti.

Saya datang pukul tujuh malam saat Fear tampil. Band hardcore asal Surabaya ini sukses membuat 4 circle pit di mosh pit. Saya ikut, berputar, kaki menyepak, tangan menjotos angin. Saat musik mulai keras, arena setan makin liar, saya kena tendang sepatu di perut! Sakit! Lalu memutuskan untuk di depan panggung saja. Hehe. Pria lemah.

Fear turun, berganti Gendar Pecel di atas panggung. Hari itu, Gendar Pecel resmi ganti vokalis, vokalis lama beraksi untuk terakhir kalinya. Gendar Pecel masih asing bagi saya, tapi aksinya membuat seluruh penonton berdiri, semua hapal lagunya. Sementara saya, menelisik band yang tampil bertelanjang dada dengan cat tubuh itu, oh ternyata baru rilis album.

“Tresno iku anane ning ati karo ning kacuk!” terang Vokalis baru
Gendar Pecel yang gondrong gahar.

Selanjutnya, lagu Midak Kodok menggema. Haha, lagu ini didasari karena banyak cewek cantik yang dapet cowok jelek. Peribahasanya midak kodok.

Band ketiga, Confess asal Semarang. Vokalisnya ibu-ibu, sepertinya, Confess kurang maksimal. Crowd duduk semua. Entah mungkin kecapekan setelah aksi Gendar Pecel sebelumnya.

Crowd bangkit kembali saat band tuan rumah Resenment tampil. Penampilannya gahar. Tapi, saya suka band asal Bandung Lose it All ketika tampil. Man?! Vokalisnya Popi, putih, bening, cantik. Dia memakai tanktop saja. Gosh! Crowd maju, saya tertekan di depan, semua berebut memfoto si vokalis, “ah, dasar pria!” pikir saya.

Kalau ada band yang tampil di Rock in Solo, maka Fraud nama mereka. Pantas saja, aksi panggung mereka sangar, cocoklah untuk event sebesar Rock in Solo yang tiketnya saja Rp. 100.000. Kepala botak dengan slayer mengingatkan saya pada Arian13, vokalis Seringai.

Saya rehat sejenak sambil terus mencatat. Di belakang saya, ribuan begundal siap beraksi kembali. MC mengisyaratkan semua berdiri, Eyefeelsix asal Bandung tampil.

“Lagu ini kita persembahkan untuk almarhum Munir!”

Materi mereka 4 orang. Satu yang paling ganteng sebagai Dj, dan tiga lainnya rapper. Rap bocor. Saya tau beberapa lagunya ikut bernyanyi. Saya memang penggemar genre Rap atau Hip-hop. Bait demi bait terasa seperti melihat Ucok Homicide. Sayang, nampaknya Ucok cukup puas menjadi pencipta lambang band Noah saat ini.

Penampilan di tutup oleh yang ditunggu-tunggu. Outright asal Bandung. Sementara yang lain semangat Moshing, saya menghitung berapa yang didapat band dari konser itu. Man?! Setiap band yang tampil hampir semua melempar merchandise; entah kaos, Cd, totebag, dan topi. Saya yang di depan, hanya mendapat stiker! Hahaha.

Pukul 11.45 p.m semua selesai. Saya pulang, lewat Hotel Wahid, melihat sejenak malam di Salatiga seperti dulu. Mampir sejenak di Wedang Ronde pinggir jalan.

“Jam segini cewek cantik masih banyak”, pikir saya. Memang, Salatiga itu ceweknya cantik-cantik, berimbang dengan tingkat kegantengan cowoknya. Hoi! Saya tidak termasuk. Hahaha.

Sementara Wedang Ronde habis, saya masih duduk-duduk, curi pandang cewek UKSW di samping saya, dan menikmati malam sambil membuka kembali beberapa foto yang sempat saya ambil.

New Aggression 2014 you the real awesome fucking rock!

Dulu, ini tayang di blog terdahulu, di Blogspot. Akhir kata: HAHAHA.

Maka mendewasalah karena makul tinggal dua

Sedang mengalami yang namanya kontemplasi, semester ini hanya dua mata kuliah yang saya ambil: Magang dan Skripsi. Ya, magang dan skripsi. Maksimal setahun lagi saya berkuliah, lalu melebur lagi dalam dunianya orang dewasa. Memikul tanggungjawab yang makin besar dalam prosesnya.

Mmmm.

Ada kutipan menarik di Rookie di artikelnya yang berjudul, ‘College Countdown’,

College probably is right for you if you want not just a fancy-ass degree, but also an opportunity to learn – about your field of your study as well as yourself. “In college, most of the learning is internal,” says Krista. “I can hardly remember my classes, but I learned so much about myself and the world in such a short time that it remains one of the best time of my life.” Dylan agrees: “Basically your job as an undergrad,” she says, “is to get life skills and become the most interesting, intelligent version of yourself as possible.”

Once you’ve decided that you want to go to college, think about how you’re going to pay for it, because, goddamn, college in this country is majorly expensive! Like, mind-blowingly expensive. “Private colleges are run like corporations,” says Suzy. “Unless you’re doing something like law or medicine where you need a degree, private college might not be worth it.”