Rusdi pergi, namun kenangan tentangnya akan selalu lekat di hati

“Aku pengen kapan-kapan mangan mangut pe karo awakmu,” katanya.

Saya mengangguk. Menyanggupinya. Tapi Cak Rusdi sedang terbaring di kasur, di depan televisi yang rutin menayangkan acara di saluran Asian Food Channel.

“Nanti lah, Cak. Nunggu cacak sembuh dulu,” kata saya.

Ia tersenyum. Lalu diam.

Senyum itu tak akan pernah lagi bisa kita lihat. Tadi pagi, 2 Maret 2018 pukul 08.15, Cak Rusdi Mathari menghembuskan napas terakhirnya. Ia telah melawan kanker dengan sekuat tenaga, dengan sebaik-baiknya perlawanan. Ia berjuang keras hingga merasa lelah dan memutuskan untuk pulang ke keabadian.

Ia sosok yang keras kepala, banyak orang mengakui itu. Kadang sikap keras kepalanya membawa banyak masalah baginya. Namun ia juga sosok yang humoris, gemar bercerita banyak hal, dan mengayomi anak-anak muda naif seperti saya dan belasan kawan lain. Sikapnya seperti itu yang membuat banyak orang menghormatinya. Rusdi pergi, namun kenangan tentangnya akan selalu lekat di hati.

Tulisan di atas oleh Nuran Wibisono, wartawan Tirto. Berita duka meninggalnya Rusdi Mathari itu, astaga, baru saya baca kemarin saat Nuran mengupdate blognya. Saya berlangganan lewat rss di blog Nuran Wibisono.

Saya tidak kenal secara personal dengan Rusdi Mathari. Hanya kenal lewat tulisan-tulisannya. Saya termasuk yang sering menanti tulisan-tulisan Cak Rusdi di blognya, beberapa kali berkomentar. Rusdi Mathari, pernah tampil di acara Mata Najwa, saat God Bless menjadi bintang tamu. Saya ingat betul.

Saya turut berduka. Banyak-banyak doa untuk Beliau.

Advertisements

Mendengar musik di Spotify, membaca kisah sang front-man

Kali ini saya mendengar Motley Crue. Nuran Wibisono menulis dengan apiknya kisah sang front-man, Nikki Sixx, “Kelahiran dan Kematian Nikki Sixx di Bulan Desember“.

31 Desember 2015. Semua penonton di Staples Centre, Los Angeles, tahu bahwa mereka adalah saksi pertunjukan terakhir Motley Crue. Setelah berbelas tahun berisi perkelahian, pesta sepanjang malam, bubar, gonta-ganti personel, reuni untuk kemudian bubar lagi, empat personel asli Motley Crue sepakat: semua memang harus diakhiri.

Maka disepakati, hari terakhir bulan Desember adalah penampilan pamungkas mereka. Semua personel menandatangani kontrak yang setuju bahwa tak ada lagi Motley Crue. Tentu saja Staples Center malam itu diisi oleh kesedihan yang merambat hingga ujung-ujung stadion. Band dekaden ini menciptakan banyak lagu yang mengiringi hidup sebagian besar penonton.

Penonton juga sudah menduga, lagu terakhir yang dimainkan adalah “Home Sweet Home”, sebuah ode yang dipersembahkan oleh para petualang, untuk sesuatu yang mereka cintai: rumah. Bagi Motley Crue, Los Angeles adalah rumah. Tempat mereka memulai berjalan, dan tempat mereka pulang. Bagi Sixx, Motley Crue adalah rumahnya hingga kapanpun.

Ada banyak sekali proyek musikal Sixx. Mulai dari Brides of Destruction, 58, hingga Sixx: A.M. Tapi tak ada yang lebih mengesankan ketimbang Motley Crue. Karya-karya terbaiknya, yang ia buat di masa-masa paling bergairah dan penuh gejolak, ada pada 5 album awal Motley Crue. Mulai kisah perkawanan, narkotika, hingga cinta picisan. Untuk itu, Sixx tahu kapan saat yang paling tepat untuk mengakhirinya: Desember, bulan yang amat berkesan baginya.

Tidak seperti yang diramalkan oleh banyak orang, Nikki Sixx ternyata panjang umur. Pada 11 Desember 2017, ia merayakan ulang tahun ke 59. Usianya menua, tapi tidak semangatnya. Kematian, baginya adalah hal sepele yang sama sekali tak membuatnya gentar.

“Kalau kamu menjalani hidupmu dengan sebaik-baiknya, kematian itu sama sekali tidak menakutkan. Malah memberimu alasan untuk hidup dengan penuh seluruh.”

Bon Jovi di Rock and Roll Hall of Fame

Pada akhirnya Bon Jovi adalah wujud dari kerja keras. Musik yang mereka hasilkan, tur yang mereka jalani, adalah anak kandung semangat mereka. Mereka tak mengenal keberuntungan, termasuk dilantiknya mereka ke dalam Rock and Roll Hall of Fame. Sama seperti yang pernah mereka lantangkan di “Always”.

“Well there ain’t no luck in these loaded dices.”

Begitu tutup Nuran Wibisono, jurnalis sekaligus penggemar Bon Jovi di blognya. Sementara itu, dua band favorit saya, Radiohead dan Rage Against The Machine secara mengejutkan tidak masuk daftar calon penerima Rock and Roll Hall of Fame. Saya menganggap Bon Jovi itu memang pantas masuk dalam daftar, namun nama-nama lain yang menjadi saingan Bon Jovi: namanya baru saya tahu apalagi musiknya. Ternyata saya minim mendengarkan musik berkualitas.