Korsel dan Korut: Wait and see

Di awal tahun 2018 kiranya akan memberikan harapan baru bagi kebanyakan masyarakat di Semenanjung Korea, khususnya dalam hal bilateral kedua negara. Apa pasal? Hal ini dipengaruhi oleh pidato politik awal tahun Kim Jong Un Presiden Korut.

Kim, menyatakan keinginannya untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin yang akan digelar di Pyeongchang Korea Selatan, ia berjanji mengirim atlet atlet terbaiknya. Selain itu, Kim juga membuka diri untuk melakukan perundingan dengan Seoul.

Sejatinya, pidato Kim tersebut merupakan respon atas pernyataan Presiden Korsel Moon Jae-in beberapa waktu sebelumnya, Moon menyampaikan bahwa kompetisi olahraga yang akan digelar di negeri ginseng itu dapat menjadi ajang untuk mulai menjalin hubungan baik bagi kedua negara. Perundingan ini adalah kali pertama diselenggarakan pasca dua tahun Semenanjung Korea mengalami ketegangan akibat program nuklir yang dilancarkan Korut.

Pertemuan pejabat dua Korea beberapa waktu yang lalu menghasikan beberapa kesepakatan diantaranya ialah 1) Korea Utara akan ikut serta dalam gelaran Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang Korea Selatan, 2) Korsel dan Korut akan pawai bersama saat pembukaan dan penutupan Olimpiade, 3) Kedua negara sepakat untuk menunda pembicaraan masalah militer, 4) Korsel mengajukan usulan kepada Korut untuk melanjutkan pembahasan reuni para keluarga yang terpisah akibat Perang Korea.

Beberapa butir kesepakatan dalam perundingan membawa angin segar bagi lingkungan internasional, karena dapat meredakan ketegangan yang selama ini terjadi di Semenanjung Korea, setidaknya untuk beberapa waktu kedepan. Jika dicermati secara seksama, sesungguhnya masing masing negara Korsel maupun Korut sedang dalam keadaan wait and see, menunggu dan mencermati apa yang akan dilakukan keduanya pasca perundingnan 9 Januari.

Pada poin ketiga dari kesepakatan tersebut menyiratkan bahwa keduanya tidaklah benar benar atau belum dalam keadaan ingin mewujudkan deklarasi damai. Situasi yang tengah terjadi setidaknya akibat negara sponsor masih terlalu kuat hegemoninya, secara ekonomi maupun politik.

Perbedaan ideologi dan cara pandang menentukan masa depan negara, menjadikan situasi semakin sulit. Prasyarat bagi terwujudnya perdamaian Duo Korea adalah dengan melepaskan hegemoni asing dalam sebuah negara. Atau, pilihan mereka hanyalah ilusi damai di Semenanjung Korea.

Yudi M. Permana, “Diplomasi Olimpiade Semenanjung Korea“.

Advertisements

Participation of the North as evidence of thawing relations with the Kim regime

Then there is the question of the Olympics themselves, which have long been used by host nations as elaborate exercises in public relations. The South Koreans are not only celebrating their ascendancy to the top tier of developed nations but also pointing to the participation of the North as evidence of thawing relations with the Kim regime. The North will be able to show that it is not so isolated, not so wildly belligerent, as its critics claim. And in a new wrinkle, both countries will be able to assert their independence from America’s own funny-haired tyrant, whose inescapable shadow will darken the political story of the Games as they get underway.

More here. Do you wish South and North Korea reunite? No. How about there’s a peace between both countries? 

KCNA: “Siapa Pria yang Berbahaya bagi Komunitas Internasional?”

Korea Utara urun berkomentar pada musuh besarnya, Amerika Serikat, perihal rencana pemindahan kedubes AS ke Jerusalem. Sumber resmi negara itu, KCNA, menyebut Donald Trump lansia pikun yang bermental gila.

“Menimbang fakta bahwa lansia pikun yang bermental gila ini menyerukan kehancuran total terhadap sebuah negara berdaulat di PBB, aksi ini tidak begitu mengejutkan,” demikian pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut seperti dikutip Korean Central News Agency (KCNA).

Sebutan ‘lansia pikun yang bermental gila’ itu merujuk pada Trump. Dalam pernyataannya dengan Bahasa Inggris ini, Korut menggunakan kata ‘dotard’ yang berarti lansia yang pikun dan lemah. Sebutan ini pernah digunakan Korut sebelumnya untuk menghina Trump yang terlebih dahulu mengejek Kim Jong-Un sebagai ‘manusia roket’ dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB beberapa waktu lalu.

“Tapi langkah ini jelas menunjukkan kepada seluruh dunia, siapa si penghancur keamanan dan perdamaian dunia, siapa si pria dan berbahaya di komunitas internasional,” imbuh pernyataan itu, merujuk pada kata-kata yang sering digunakan banyak pihak untuk menyebut Korut. [link]

AS masih menghegemoni politik internasional hingga saat ini. Tak ada kekuatan politik dari suatu negara yang bisa menandingi AS. China baru bisa menandingi secara ekonomi.

Di tengah sorotan negatif yang tertuju pada AS saat ini, warga dunia nampaknya mengamini apa yang dinyatakan Korea Utara melalui saluran berita internasionalnya.

Salahkan saja Korea Utara terus menerus

Judul posting ini agak aneh: salahkan saja Korea Utara terus menerus. WTF.

Hari ini adalah ujian untuk materi Diplomasi dan Resolusi Konflik. Salah satu mata kuliah yang saya sukai. Karena saat sesi presentasi, biasanya berisi argumen-argumen bermutu yang saling tumpang tindih. Eyel-eyelan saat diskusi. Teman tak lagi teman.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y. Galuzin berpendapat atas konflik tak berkesudahan di Semenanjung Korea. Continue reading

Why always Un

Buck Sexton: “In the meantime, the security situation will only deteriorate. Kim’s nukes will become more devastating, his missiles more accurate and longer-range. And the U.S. and its allies will be left clinging to the hope that a fratricidal 33-year-old totalitarian ruler of a deeply xenophobic country with over a million active soldiers is, when push comes to shove, a rational actor.”

“Or at least more rational than his grandfather, Kim Il Sung, who decided on a massive sneak attack against South Korea in 1950 despite its status as a U.S. ally and the existence of our vast nuclear arsenal. Total casualties in that war reached into the millions.”

“Let’s hope Kim Jong Un won’t start a war everyone else knows he can’t win.”