Kekuatan besar di balik unifikasi Korea

Unifikasi berarti menyatukan. Pasca Olimpiade Pyeongchang, hubungan Seoul dengan Pyongyang sedang baik-baiknya. Sejalan dengan itu, maka unifikasi Korea merupakan kata yang sering diucapkan. Keinginan dua Korea untuk menyatu kembali sudah sejak lama ada. Namun, harapan unifikasi tersebut terhalang karena pada kekuatan besar yang menghalangi mereka, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Namun pasca dua kekuatan besar tersebut meninggalkan Korea, usaha-usaha nyata untuk menyatu kembali digiatkan oleh dua Korea. Pelaksanaan usaha unifikasi tentu melalui jalur diplomasi, yang masif dan terang-terangan dilakukan oleh Korea Selatan sejak terbentuknya Korea Utara pada 1948. Hingga saat ini upaya tersebut masih diupayakan melalui perundingan, kerjasama, maupun dialog. Demikian halnya pula dengan Korea Utara meski kebijakan luar negeri Korea Utara cenderung lebih mengancam dan militeristik. Namun, usaha penyatuan melalui jalur diplomatik terhadap unifikasi tetap dipertimbangkan.

Itu diambil dari makalah yang sedang saya kerjakan, terkait unifikasi Korea. Mungkin saya sudah menulis kutipannya di blog ini sebelumnya. Saya lupa.

Advertisements

Donald Trump and Kim Jong Un will meet

“Our policy hasn’t changed, and as the president stated, we have sanctions on, they’re very powerful and we would not take those sanctions off unless North Korea denuclearized,” Sanders said on Monday.

Trump aims to persuade the North Korean dictator to give up his country’s nuclear arsenal in exchange for relief from U.S. economic sanctions. He’s promised American investment in the under-developed country would follow.

Read more at Bloomberg.

Korsel dan Korut: Wait and see

Di awal tahun 2018 kiranya akan memberikan harapan baru bagi kebanyakan masyarakat di Semenanjung Korea, khususnya dalam hal bilateral kedua negara. Apa pasal? Hal ini dipengaruhi oleh pidato politik awal tahun Kim Jong Un Presiden Korut.

Kim, menyatakan keinginannya untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin yang akan digelar di Pyeongchang Korea Selatan, ia berjanji mengirim atlet atlet terbaiknya. Selain itu, Kim juga membuka diri untuk melakukan perundingan dengan Seoul.

Sejatinya, pidato Kim tersebut merupakan respon atas pernyataan Presiden Korsel Moon Jae-in beberapa waktu sebelumnya, Moon menyampaikan bahwa kompetisi olahraga yang akan digelar di negeri ginseng itu dapat menjadi ajang untuk mulai menjalin hubungan baik bagi kedua negara. Perundingan ini adalah kali pertama diselenggarakan pasca dua tahun Semenanjung Korea mengalami ketegangan akibat program nuklir yang dilancarkan Korut.

Pertemuan pejabat dua Korea beberapa waktu yang lalu menghasikan beberapa kesepakatan diantaranya ialah 1) Korea Utara akan ikut serta dalam gelaran Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang Korea Selatan, 2) Korsel dan Korut akan pawai bersama saat pembukaan dan penutupan Olimpiade, 3) Kedua negara sepakat untuk menunda pembicaraan masalah militer, 4) Korsel mengajukan usulan kepada Korut untuk melanjutkan pembahasan reuni para keluarga yang terpisah akibat Perang Korea.

Beberapa butir kesepakatan dalam perundingan membawa angin segar bagi lingkungan internasional, karena dapat meredakan ketegangan yang selama ini terjadi di Semenanjung Korea, setidaknya untuk beberapa waktu kedepan. Jika dicermati secara seksama, sesungguhnya masing masing negara Korsel maupun Korut sedang dalam keadaan wait and see, menunggu dan mencermati apa yang akan dilakukan keduanya pasca perundingnan 9 Januari.

Pada poin ketiga dari kesepakatan tersebut menyiratkan bahwa keduanya tidaklah benar benar atau belum dalam keadaan ingin mewujudkan deklarasi damai. Situasi yang tengah terjadi setidaknya akibat negara sponsor masih terlalu kuat hegemoninya, secara ekonomi maupun politik.

Perbedaan ideologi dan cara pandang menentukan masa depan negara, menjadikan situasi semakin sulit. Prasyarat bagi terwujudnya perdamaian Duo Korea adalah dengan melepaskan hegemoni asing dalam sebuah negara. Atau, pilihan mereka hanyalah ilusi damai di Semenanjung Korea.

Yudi M. Permana, “Diplomasi Olimpiade Semenanjung Korea“.

Participation of the North as evidence of thawing relations with the Kim regime

Then there is the question of the Olympics themselves, which have long been used by host nations as elaborate exercises in public relations. The South Koreans are not only celebrating their ascendancy to the top tier of developed nations but also pointing to the participation of the North as evidence of thawing relations with the Kim regime. The North will be able to show that it is not so isolated, not so wildly belligerent, as its critics claim. And in a new wrinkle, both countries will be able to assert their independence from America’s own funny-haired tyrant, whose inescapable shadow will darken the political story of the Games as they get underway.

More here. Do you wish South and North Korea reunite? No. How about there’s a peace between both countries?