Foto foto FSTVLST manggung di Salatiga kemarin

Ini foto dari gigs musik yang kemarin saya tonton: Proudphere. Penampil utama adalah FSTVLST. Tampil memukau. Di tengah-tengah acara berlangsung, sempat-sempatnya mereka bertanya ke audiens mau dibawakan lagu apa yang susah untuk mereka cover. Hasilnya, ada “Don’t Look Back In Anger”-nya Oasis, Sheila On 7, Seringai, dan beberapa lain.

Saya terlalu menikmati pertunjukkan mereka. Bermodalkan bungkus rokok minta dari teman – karena saya bukan perokok – dan sepeda motor bonceng gratisan, saya ikut bersenang-senang. FSTVLST sedang tur 4 kota, pantau saja Instagram mereka. Kalau tidak salah, hari ini mereka manggung juga.

Foto-foto oleh Wahyu Hidayat (@hidayatwdj) yang setelah acara berlangsung saya lihat ia bawa kamera, saya minta foto hasilnya, ia mengiyakan. Yah, tiap konser, saya memang punya kebiasaan meminta foto dari orang-orang yang bawa kamera DSLR. Acak saja. Untuk dokumentasi. Kebanyakan mereka foto untuk belajar. Jadi bisa diminta secara gratis. Hehehe. Tentu hal ini berarti dua, saya bisa menikmati pertunjukkan tanpa harus membagi konsentrasi dengan memotret dan saya dapat teman baru sekaligus dokumentasi. 

Advertisements

Maka Merapallah Zarathustra

Pagi-pagi, main ke web-nya Wastedrockers, dan menemukan album dari rapper keren ini: Hurje! dengan albumnya “Maka Merapallah Zarathustra”. Bisa diputar di sini.

Laporan dari Onward to Boyolali

Ticket box dibuka pukul 04.00 sore. Sementara pintu gerbang dibuka dua jam setelahnya. Bastard ditunjuk sebagai penampil pertama. Vokalis yang hingga pinggangnya encok di panggung tak mendapat respon positif oleh audiens dalam acara bertajuk ‘Onward to Boyolali’ itu.

“Kalian itu pamit sama orangtua tadi, ke sini, mau ngapain? Nonton konser metal kan? Terus kenapa kok di sini malah diam saja, ini bukan nonton wayang, woi.” Ucap sang vokalis Bastard. Penonton yang hadir diam saja.

Crown of Rage asal Purwodadi jadi penampil kedua. Grup ini yang saya nanti penampilannya. Pengunjung mulai mendekat ke panggung lebih banyak. Tapi reaksinya pun tetap sama, penonton lebih banyak diam. Kalau di depan mereka itu Afghan, bisa dimaklumi. Tapi, ya, penonton kan bebas.

Baru saat Killer of Gods tampil, ada yang moshing. Mungkin teman-teman, atau kru dari band itu. Penabuh drum dan pemain gitar, sampai copot kaos memanaskan suasana. Mungkin mereka bangga karena mereka yang bisa membuat penonton berdansa. Stiker dibagikan.

MC, kurang komunikatif. Sama seperti vokalis band-band sebelumnya. Jeda panggung diisi dengan lawakan yang, tidak penting untuk disimak, atau bercandaannya, garing. Hasbi dari Cerebral Edema malah komunikatif. Band yang berisi satu orang saja ini, sukses membuat penonton bergairah. Datang jauh-jauh dari Kalimantan tidak sia-sia. Saya melihat kepuasannya dari jauh. Barang tentu ia akan mengingat Boyolali dan keriuhan crowd-nya.

19.40 Rottenblast mengambil alih panggung. Saya tidak menyimaknya. Seorang teman perempuan yang saya ajak menonton pusing mendengarkan empat band yang sudah tampil. Ya, dia baru pertama ini dia menonton pentas kepala batu seperti ini. Noraknya masih ada. “Itu orang di depan kok pada tawuran kenapa?”, “Itu lagu liriknya apa?”, celotehnya, jujur saja, huhu-haha sekali.

Saya tidak menyimak Metallic Ass apalagi Incantation – penampil utama – tampil. Tidak terlalu kecewa. Karena nama band-nya juga baru dengar saat acara itu.

Sedikit hasil dari even ini, saya kira, Boyolali punya Bupati yang betul-betul rajin dan mendukung kegiatan musik seperti ini. Menambah daftar ceklis positif untuk Kabupaten yang terkenal akan susunya ini. Belum genap dua minggu, kantor magang saya punya gawe di Rumah Dinas Bupati Boyolali untuk acara seminar di hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Dalam acara itu, turut pula pencanangan program Boyolali Ramah Anak.

Saya kira, sekian dulu posting blognya. Intinya, Onward to Boyolali membuat minggu saya jadi berbobot. Hehehe. Saya sempat merekam video untuk footage yang akan dibuat video utuh di Instagram menggunakan kamera pocket kantor. Sayang, belum sempat file-nya saya simpan di laptop, kameranya harus dikembalikan.

Bangs, penulis yang total untuk musik

Sepanjang mereka bekerja bersama, Bangs, dalam pandangan Uhelszki adalah sosok yang jorok, tak teratur, kotor, dan lebih mirip pecundang yang menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan serta mengisap ganja setiap hari.

Namun, di luar tabiatnya yang dekaden tersebut, Bangs diakui Uhelszki, merupakan penulis yang total dan mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk musik. Ia tak ragu untuk mendengarkan musik dengan teliti, mengulangnya berkali-kali, agar dapat menilai secara maksimal, apakah musik yang sedang disajikan memenuhi kualifikasi bagus atau tidak.

M. Faisal, “Lester Bangs dan Bagaimana Menulis Musik dengan Gairah“, Tirto.

Membaca cara hidup dari musik

Ini rekor pertama kali pertama saya membaca ebook: dari 245 halaman telah terbaca 160 halaman. Ukuran filenya hanya 1.64 MB saja. Sebuah ebook berjudul “How to Make a Living from Music” oleh David Stopps [link]. Sebelumnya, saya minim pengalaman membaca buku lain dengan tema sejenis, namun untuk yang ingin membuat band atau mencari hidup dari musik, nampaknya ebook ini musti dibaca. Beberapa teman, yang mulai ngeband dan yang sudah established, telah saya kirimi karena pada dasarnya saya baik. 😀

Di dalamnya ada 17 Bab yang membahas tema utuh secara lengkap. Mulai dari mana uang dalam band berasal, masalah hak cipta, manajemen band, penjelasan singkat mengenai industri musik dunia, manajemen artis, masalah rekaman – produksi mandiri atau tidak, finansial dan crowdsourcing, tur, merchandising, membangun fanbase, industri digital, dan manajemen marketing – marketing standar dan marketing digital.

Bahkan, dibuat studi kasus [case study] yaitu band bernama The Young Tigers. Dari awal latihan band, memproduksi EP, mengirim ke label dan radio-radio, juga blog musik yang dihormati, dan lain-lain. Dari awal hingga menjadi band yang profesional.

Oh iya, cerita sedikit – yang mungkin tidak penting – saat membaca ebook ini yang terbayang di kepala saya ada dua band; Pee Wee Gaskins dan Vampire Weekend. Anehnya, saat membacanya musik yang terdengar di headphone saya adalah musik instrumental elektronik dalam album “A World at Peace” karya Sakis Gouzonis.

Playlist acak edisi menunggu

Ketika musik di pemutar portablemu memutar lagu-lagu dengan acak, beberapa jenis genre yang muncul akan membuat otakmu terkaget-kaget. Dari yang sendu “Cinta dan Rahasia” – Yura Yunita lalu ke “Abnormal”-nya Bumblefoot yang.. melodius cepat. RATM mengambil alih kendali, “Beautiful World” terdengar, menuju ke “Porcelain Sky” karya Circarama yang membuat telinga juga badan sedikit berleha-leha. Jika sudah bosan dengan musik yang menyenangkan di telinga, putar saja lagu Behemoth yang seram itu, pilihan jatuh ke “Blow Your Trumpets Gabriel”. Setelah Behemoth apa? Si pemutar portable masih secara acak lantas menyilahkan dua lagu Superman Is Dead mengudara, “Menuju Temaram” yang penuh memori dan “Goodbye Whiskey” si lagu favorit. Tak lupa, musik kontemporer dengan elektronik juga berputar dalam playlist ini, “Take Me For A Ride” karya Holy Oysters, yang menjadi lagu tema pada game Dream League Soccer 2017. Pasca itu, ada Monkey To Millionaire ft Marsha Suryawinata – “Strange is Song in Our Conversation” adalah lagu easy listening untuk para pemuda-pemudi yang dimabuk asmara. Setelah lagu kesepuluh, “Amarah, Senyum dan Air Mata” dari Alone At Last panas sudah telinga saya, playlist berakhir, masuk ke kelas, oleh dosen materi diberikan. Belajar apa hari ini? Sosialisme di Australia.

Liam lebih baik dari Noel

Setelah video musik “For What Its Worth” tayang di Youtube. Banyak yang mengatakan Liam Gallagher lebih berkualitas daripada saudaranya, Noel. Saya belum utuh mendengarkan album solonya yang diberi judul “As You Were”, tapi beberapa di antaranya sudah saya dengar lewat Youtube. Dan memang bagus. Bagi siapapun fans Oasis, tentunya ingin dua saudara yang sama-sama hebatnya ini kembali reuni dan menghasilkan album baru. Sebagai Oasis. Ada rumor yang menyebutkan Noel akan menghidupkan kembali Oasis dengan menggandeng Richard Aschroft, mantan vokalis dan leader The Verve. Aschroft, vokalnya super jernih dan berkarakter. Ia juga pernah ada di band hebat. Tapi, jika menggantikan posisi Liam di Oasis, mendengar Oasis jadi kisah masa lalu terdengar lebih menyenangkan.