Salahkan saja Korea Utara terus menerus

Judul posting ini agak aneh: salahkan saja Korea Utara terus menerus. WTF.

Hari ini adalah ujian untuk materi Diplomasi dan Resolusi Konflik. Salah satu mata kuliah yang saya sukai. Karena saat sesi presentasi, biasanya berisi argumen-argumen bermutu yang saling tumpang tindih. Eyel-eyelan saat diskusi. Teman tak lagi teman.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y. Galuzin berpendapat atas konflik tak berkesudahan di Semenanjung Korea. Continue reading

Advertisements

Motif Konflik: Group Motivation dan Private Motivation

Konflik, adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Beberapa hari lalu, saya belajar mengenal faktor pembentuk konflik. Dilihat dari motifnya, ada dua; Group Motivation dan Private Motivation.

Group Motivation, jika dalam masyarakat yang multietnis, etnis “A” memiliki akses lebih daripada etnis “B”. Kata etnis bisa diganti kelompok masyarakat. Sementara akses bisa berupa apapun; akses pendidikan, akses politik, hukum, dan lain-lain.

Terkadang, dalam suatu konflik, ‘identitas’ tidak selamanya menjadi sumber konflik. Tapi perbedaan ‘akses’ yang beririsan dengan perbedaan ‘etnis’ atau kelompok masyarakat yang menjadikan pihak yang berkonflik mengidentifikasi dirinya berbeda dari yang lain, lalu menggunakan simbol-simbol dari etnis tertentu.

Contohnya,

Saat isu Rohingya menggema, masyarakat ‘muslim’ yang mengidentifikasikan dirinya sebagai ‘saudara’ karena satu agama, lantas ingin memblokade akses di Candi Borobudur. Padahal, tidak ada hubungan antara umat Buddha di Indonesia dengan umat Buddha di Myanmar. Atau, tidak ada yang salah dari Borobudur, bangunan suci umat Buddha, atas konflik yang terjadi di Myanmar.

Private Motivation, dibentuk karena ada pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari konflik tersebut. Dalam pandangan ini, Group Motivation menjadi instrumen untuk mewadahi dan mewujudkan keinginan pribadi yang ada.

Contohnya,

Hoax dan ujaran kebencian di era internet. Jalurnya sederhana, pelaku hoax membuat suatu berita bohong dengan judul yang bombastis, ditaruh di situs yang ia buat, yang afiliasinya dengan adsense atau memang pesanan. Pembaca situs tersebut cenderung besar, karena yang ‘pro’ dengan berita yang ia buat setuju dan menyebarkan berita di sosial medianya, yang ‘kontra’ juga membaca karena penasaran dan tersulut emosinya lalu ia menyebarkan pula berita yang dibaca ke kelompoknya. Pembuat situs, diuntungkan dari jumlah pembaca yang terjaring baik pihak yang ‘pro’ dan ‘kontra’.

Atau contoh lain dari private motivation adalah, kaitan antara produksi senjata dengan perang. Saya yakin mayoritas orang tidak menginginkan perang, tapi di beberapa negara, seperti ada tendensi agar perang terus terjadi sehingga penjualan senjata meningkat. Kasus perang saudara di Sierra Leone bisa dijadikan contoh [link]. Bagaimana berlian di negara itu justru menjadi bumerang bagi terciptanya konflik, korupsi, bahkan perang saudara selama satu dekade. Masyarakat Sierra Leone belum mampu memproduksi senjata, namun perang saudara mereka menggunakan senjata api, bahkan senapan otomatis. Beberapa penyelidikan mengungkapkan ada ‘pihak ketiga’ yang menyokong bantuan senjata dengan barter berlian yang mereka miliki.

Catatan ini dibuat berdasarkan pemikiran Frances Stewart dan Graham Brown mengenai konflik. Contoh yang dibuat berdadarkan yang saya pahami. Mungkin ada contoh kasus lain yang lebih tepat untuk menjelaskan.