Link Cepat: 7

  1. Mimin Dwi Hartono, “Prospek Hak Asasi Manusia 2019“, Beritagar.
  2. Linda Christanty, “Suara Tuhan“, Indoprogress.
  3. Ardy Nurhadi Shufi, “Tak Ada Anak Emas, Semua Klub Liga 1 Adalah Korban“, Panditfootball.
  4. Astuti Parengkuh, “The Greatest Showman: Pertunjukkan Sirkus yang Melawan Kenormalan“, WordPress.
  5. Samuel Mulia, “Awal Tahun“, Kompas.
Advertisements

Trump bela mati-matian Saudi

“Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela mati-matian Arab Saudi, terutama Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman, pada kasus pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi. Tekanan internasional dan bahkan temuan badan intelijen CIA tak mampu mengubah sikap Trump. Aliansi lama, transaksi bisnis senjata, dan kepentingan melawan Iran telah mematri hubungan Washington – Riyadh.” Mustafa Abd Rahman, untuk Kompas, Sabtu 24 November 2018.

Untuk membacanya silakan klik di sini (harus membelinya) atau baca versi cetaknya. Ini adalah jenis laporan yang wajib dibaca, versi saya.

Salah satu bagian menariknya:  “Apa yang dilakukan Presiden Trump saat ini terhadap Arab Saudi terkait kasus pembunuhan Khashoggi sesungguhnya adalah bagian dari komitmen AS atas kesepahaman ‘Keamanan dengan Imbalan Minyak’ yang dicapai tahun 1945 itu. Semua Presiden AS, sejak era Roosevelt hingga Trump, tercatat memegang teguh komitmen pada kesepahaman tersebut.”

Diksi Politik Kebohongan – Politik Sontoloyo

Kampanye sudah hampir sebulan. Namun, publik belum menemukan narasi besar yang ditawarkan kandidat. Bangsa ini membutuh- kan narasi positif.

Masa kampanye masih diwarnai saling serang atas frase yang dimainkan kedua kandidat presiden ataupun tim sukses mereka. Ada diksi “politik kebohongan”, ada juga “politik sontoloyo”. Klaim pemerintah bahwa angka kemiskinan menurun ditanggapi dengan ungkapan “hidup rakyat masih pas-pasan”. Ada pula kandidat yang mencoba menyamakan diri dengan tokoh besar masa lalu. Kandidat seakan tidak percaya diri, harus nebeng popularitas atau karisma negarawan pendiri bangsa.

Dikutip dari Tajuk Rencana Kompas per tanggal 27 Oktober 2018, “Hanya Membangkitkan Emosi“. 

Usman Hamid: “Barangkali dengan pengetahuan sejarah yang lebih adil di kalangan militer, agenda pengungkapan kekerasan negara pada masa lalu tak akan lagi terhambat, apalagi terulang.”

Usman Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia, menulis di Kompas kemarin, “Politisasi Isu Kebangkitan PKI“.

Sampai di sini dapat ditarik kesimpulan. Pertama, politisasi isu anti-PKI melalui pemaksaan menonton film G30S/PKI adalah upaya memundurkan agenda Reformasi termasuk profesionalisme internal TNI ke belakang dan mengembalikan TNI sebagai pembela penguasa Orde Baru. Kedua, politisasi anti-PKI adalah upaya menarik TNI ke dalam penyudutan tokoh politik yang bersaing di Pemilu 2019, merepetisi cara-cara licik di Pemilu 2014. Ketiga, menghidupkan stigma negatif pada penyintas tragedi 1965 untuk menggagalkan rehabilitasi dan penyelidikan pembunuhan massal terkait 30 September 1965. Keempat, politisasi anti-PKI dipakai demi meredam suara kritis yang mengganggu kepentingan politik dan bisnis besar.

Kelima, politisasi anti-PKI tidak membawa pengetahuan baru apa yang sebenarnya terjadi dalam G30S dan jauh dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Seluruh politisasi anti-PKI diikuti retorika adu domba komunis/China versus agama, pengerahan massa, dan intervensi hukum. Seorang prajurit militer disebut “pemberani” atau “penakut” bukan dengan memaksakan bawahan untuk menerima sejarah versi tunggal penguasa, yang kebenarannya diragukan, melainkan dengan mempersilakan prajurit untuk mempelajari beragam khazanah pengetahuan akan sejarah bangsanya sendiri. Barangkali dengan pengetahuan sejarah yang lebih adil di kalangan militer, agenda pengungkapan kekerasan negara pada masa lalu tak akan lagi terhambat, apalagi terulang. Wallahualam.

Baca utuh klik link di atas.

Scott Morrison: “Australia tidak memiliki mitra lebih penting lain di kawasan selain Indonesia”

24 September lalu, Pagi-pagi Perdana Menteri Australia Scott Morrison, menulis kolom yang kemudian terbit di Kompas, “Kerja Sama Australia – Indonesia Untuk Masa Depan“. Isinya tentang harapan untuk penguatan kerjasama di berbagai bidang, seperti, perdagangan, pendidikan, kemitraan universitas, pendidikan teknis dan kejuruan. Di akhir tulisan, Scott Morrison dengan gamblang menyebut, “Australia tidak memiliki mitra lebih penting lain di kawasan selain Indonesia”.

Strategi pemasaran wisata, ala Todung Mulya Lubis

Todung Mulya Lubis, Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Eslandia mengisi artikel opini di Kompas per 19 September 2018, “Berburu Wisatawan dari Utara“. Ia membandingkan – sebagai bahan masukan – bagaimana strategi pemasaran wisata Thailand dengan Indonesia. Strategi tersebut adalah, mempersiapkan penerbangan langsung: Jakarta – Oslo, memberi visa bebas kunjungan dengan durasi waktu yang lebih lama, aktif menggunakan sosial media sebagai pemasaran digital, dan kesiapan infastruktur. Baca utuh artikel klik link yang tersedia.

Gejala umum: setiap orang ingin jadi raja – berkuasa 

Ada lakon wayang Jawa: Petruk Jadi Raja. Si budak nakal tukang ngawur Petruk aneh sekali oleh suatu daya magis mendadak mengalahkan para kesatria lalu menjadi raja. Tentu saja raja karikatur konyol sewenang-wenang. Yang akhirnya hanya dapat dikalahkan oleh sang ayah tua bijak, Semar, simbol dari segala yang arif dan baik.

Komedi serba tak karuan yang jelas bukan buah ciptaan pujangga istana itu sebenarnya pelambangan universal dari gejala universal juga. Yakni: setiap orang, meski tidak pantas sekali pun, sedikit banyak bernafsu ingin jadi raja. Tragislah misalnya fenomena mantan sersan Bokassa yang 1976 mengkudeta presidennya lalu kekanak-kanakan memahkotai diri meniru Napoleon menjadi kaisar sok hebat di Jantung Afrika yang teramat miskin; konon kemudian menjadi kanibal; akhirnya digulingkan oleh yang ia kudeta dulu dan mati di pengasingan. Kisah unik. Tetapi dalam bentuk peristiwa, Bokassa sebetulnya gejala umum.

Ini dikutip dari tulisan Y.B. Mangunwijaya, “Petruk” di koran Kompas per tanggal 20 Januari 1997. Yang artinya, saat tulisan ini terbit saya baru berumur satu tahun. Saya rasa gejala umum itu ya masih jadi gejala umum hingga kini, hanya raja diganti jabatan yang setingkat. 

Tuhan, ampuni saya karena berteman dengan alasan perlu networking!

Malam itu saya memutuskan melakukan hal yang sama. “Tuhan, ampuni karena saya berteman dengan alasan perlu networking, sebetulnya sih males banget sama manusianya. Tuhan, maafin kalau saya ini berteman karena dia kaya banget, temen-temennya oke, lumayam buat gengsi dan recognition. Bapaknya juga pejabat.”

“Tuhan, ampuni karena tadi ada yang naksir dan jeleknya minta ampun, tetapi dia udah nanya-nanya mau apa untuk hadiah natal. Maaf Tuhan, saya enggak suka, tetapi hadiah natalnya itu lho. Jam tangan, bepergian keliling dunia, atau tas dari kulit buaya. Tadi saya bilang, mau tiga-tiganya. Karena kalau bepergian, kan perlu jam dan tas. Maapin, maapin, Tuhan.”

Ini asli, sih. Kocak ampun. Dari penulis mode dan gaya hidup, Samuel Mulia, dalam kolom Parodi-nya di Kompas dengan judul “Bernilaikah Saya”.

Cuma cerita sambal tapi

Kalau mati listrik malam-malam, pengerjaan outline skripsi harus disudahi. Jika sudah begitu, e-Reader kembali dibuka. Kini saya membaca beberapa cerita pendek yang pernah dimuat Kompas. Salah satunya cerpen “Sambal Keluarga” yang ditulis oleh Puthut EA. Ceritanya sederhana saja, tentang sambal keluarga yang menjadi hidangan wajib sebuah keluarga, namun intrik di dalamnya membuat menarik. Sebuah cerpen dengan ide brilian di dalamnya.

“Iya, Bu.. saya juga suka sambal ini. Saya sering membuatkan sambal ini untuk eyang kakung saya..,” sambil berkata seperti itu, Dian mengambil sesendok sambal.

Aku benar-benar lega. Semua terasa lapang dan ringan.

Tapi beberapa detik kemudian, aku merasa ada yang berhenti di ruang makan ini. Aku melihat mata ayundaku terhenti pada sesuatu. Aku melihat mata ibuku juga terhenti pada sesuatu. Aku memastikan apa yang terjadi dengan itu semua.

Napasku seperti terhenti. Aku melihat satu adegan ringan tapi tajam. Tangan Dian mengambil sebotol kecap, dengan pelan ia menuangkan kecap itu di atas sambal yang sudah berada di piring makannya. Dengan tenang ia berkata, “Tapi saya paling suka kalau ditambah kecap.”

Aku diam. Ayundaku diam. Ibuku diam. Bapakku diam. Semua dia. Ibuku tersenyum. Bapakku tersenyum. Mereka berdua kembali mengeluarkan kalimat-kalimat ringan untuk mencairkan suasana.

Dian tetap makan dengan tenang, sambil sesekali menimpali pembicaraan.

Dian dalam kisah tersebut, adalah calon istri dari tokoh aku.

Jika bekerja dengan seseorang kau akan terbiasa dengan kalimat imperatif

“Saras?”

Aku menggeleng.

“Kalau begitu temani saya minum kopi.”

Jika bekerja untuk seseorang, kita akan terbiasa dengan kalimat imperatif.

Aku pun berusaha menerka makna lain di balik minum kopi. Yang ia maksud tentunya berada di ruangan ber-AC sambil menikmati kopi tak berampas dalam cangkir, bukan minum segelas kopi tubruk di warung. Yang ia maksud tentunya berada di kelas tertentu, dengan tujuan tertentu, menjalin relasi atau networking mungkin. Menarik sekali untuk perkembangan karierku, tapi mari kutegaskan lagi kalau aku tidak tertarik memperdalam relasi dengan laki-laki beristri.

Munafik.

Apakah ada konsekuensi logis jika aku menolak?

Kutipan dari cerpen yang ditulis oleh Intan Paramaditha dengan judul “Vampir“.