Kim sangat realistis, dunia sudah berubah

Ini tulisan dari Dahlan Iskan di blog barunya – saya ini penikmat tulisan beliau semenjak di Jawa Pos, lalu diarsipkan di sini – yang harus dibaca karena mengalir, gurih, dan menggelikan tentang pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un di Singapura kemarin.

Kutipan:

Kim pada dasarnya memang sudah berubah pikiran. Sejak tahun lalu. Dengan atau tanpa gertakan Amerika. Terutama sejak harapan tertingginya sia-sia: percobaan terakhir senjata nuklirnya itu. Yang gagal total itu. Yang gunungnya sampai runtuh itu. Yang fasilitas percobaannya ikut hancur itu.

Sebagai anak muda Kim sangat realistis: dunia sudah berubah. Rajanya komunis Soviet sudah wassalam. Ratu komunis Tiongkok sudah lebih kapitalis dari kapitalis setengah hati. Vietnam sudah punya 18 special economic zone . Dan segera ditambah tiga lagi. Semua untuk menampung investasi dari Tiongkok yang dibencinya. Kuba sudah membuka kedubes di Amerika. Laos sudah menjadi kucing yang tidak bisa menangkap tikus.

Maka Korut tinggal menunggu momentum. Kini momentum itu tiba. Semua pertanda-pertanda mengarah ke sana: presiden Amerika-nya tukang gertak, ekonomi Korutnya kian tak tertahankan, Tiongkok-nya kian jual mahal, Korsel-nya dipimpin orang yang gengsinya tidak tinggi. [Link]

Advertisements

Donald Trump and Kim Jong Un will meet

“Our policy hasn’t changed, and as the president stated, we have sanctions on, they’re very powerful and we would not take those sanctions off unless North Korea denuclearized,” Sanders said on Monday.

Trump aims to persuade the North Korean dictator to give up his country’s nuclear arsenal in exchange for relief from U.S. economic sanctions. He’s promised American investment in the under-developed country would follow.

Read more at Bloomberg.

Why always Un

Buck Sexton: “In the meantime, the security situation will only deteriorate. Kim’s nukes will become more devastating, his missiles more accurate and longer-range. And the U.S. and its allies will be left clinging to the hope that a fratricidal 33-year-old totalitarian ruler of a deeply xenophobic country with over a million active soldiers is, when push comes to shove, a rational actor.”

“Or at least more rational than his grandfather, Kim Il Sung, who decided on a massive sneak attack against South Korea in 1950 despite its status as a U.S. ally and the existence of our vast nuclear arsenal. Total casualties in that war reached into the millions.”

“Let’s hope Kim Jong Un won’t start a war everyone else knows he can’t win.”