Kata Buffett harus konsisten

Untuk menjaga tingkat risiko kamu, beli saham di berbagai jenis sektor bisnis, cari yang terbaik diantaranya dan lakukan pembelian secara konsisten sepanjang waktu (Dollar Cost Averaging) . “Sebenarnya, hal terbaik dari saham adalah membelinya secara konsisten dari waktu ke waktu,” kata Buffett pada “Squawk Box” pada Februari 2017.

Dari artikel di blog Stockbit, “Warren Buffett Memberi Saya 6 Pelajaran Penting Investasi Saham Untuk Tahun 2019“.

Advertisements

Perilaku biri-biri

Begitu sebuah reksadana berhasil di pasar, para manajernya cenderung menjadi penakut dan imitatif. Seiring pertumbuhan reksadana, fee bagi manajer semakin besar – membuat para manajer enggan mencari-cari masalah. Risiko serupa yang diambil manajer untuk menghasilkan return awal yang tinggi pun kini bisa manjauhkan investor – dan membahayakan pendapatan fee manajemen yang besar itu. Jadi, reksadana-reksadana terbesar ibarat segerombolan biri-biri yang identik dan kegemukan, bergerak dalam barisan lamban dan semuanya serentak bersuara ‘mbeek’. Hampir setiap growth-fund memiliki Cisco dan GE, Microsoft juga Pfize, serta Walmart dan nyaris dengan proporsi yang identik. Perilaku ini sangat umum terjadi sehingga para ahli keuangan menyebutnya herding (gejala gerombolan ternak). Dengan melindungi pendapatan fee manajemen, para manajer reksadana mengurangi kemampuan untuk memberikan return tinggi bagi para investor luar mereka.

Ini dari buku “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham. Saya mendapatkan cetakan keempatnya yang banyak dijual di Tokopedia.

Solusi simpel punya perusahaan, saham!

Melihat orang terkaya di indonesia saat ini, yaitu keluarga Djarum. Mengapa keluarga yang kaya seperti itu, tidak membangun usaha baru sebagai pelengkap atas usaha rokoknya yang sudah ada? Djarum malah membeli perusahaan yg sudah jadi yaitu Bank BCA.

Mengapa Temasek holding (perusahaan Singapura) kurang sekali minat dalam membuat usaha baru dari nol, tapi malah asyik caplok atau membeli saham perusahaan lain yang sudah ada, khususnya di indonesia.

Mengapa Warren Buffet juga sama seperti Temasek dan barusan saja Warren Buffet membeli saham perusahaan saus yang berumur 144 tahun, HJ Heinz Co senilai Rp.224 Trilliun! Heinz merupakan induk perusahaan saus terkenal di indonesia yaitu saus tomat ABC.

Mengapa Lo keng Hong juga sama seperti Buffet yang asyik beli saham perusahaan yang sudah jadi, bukan mendirikan satu perusahaan baru dari awal?

Lihat Kentucky Fried Chicken (KFC), di kota saya, sejak saya kecil, saya suka sekali makan disana. Hahaha. Sampai membuat saya berangan-angan untuk punya KFC sendiri, namun apa daya, butuh modal milyaran. Saya juga suka minum kopi, ingin punya Starbucks. Namun apa daya?

Dengan saham dapat memberikan jawaban atas ketidakmampuan permodalan saya di sektor riil, karena disaham kita bisa memiliki perusahaan tersebut tanpa harus memiliki modal yang besar.

Pemikiran sederhananya adalah hanya dengan modal kecil namun bisa ikut memiliki perusahaan tersebut dan tidak perlu ikut dengan urusan ribet nya setiap bulan seperti: urusan membayar gaji karyawan, urusan stock barang, urusan tenaga kerja, urusan menekan cost produksi dan lain sebagainya, saya hanya perlu menjadi silent partner saja.

Dan disaham, jika terjadi keadaan yang buruk pada perusahaan maka sahamnya dapat dijual dalam sekejap, beda dengan bisnis riil yang sulit sekali jika kita ingin keluar dari bisnis yang kita bangun tersebut karena banyak urusan yang harus diselesaikan sebelum kita tutup.

Saya menikmati sekali postingan ini. Tahun 2013 penulis menulisnya. Klik di sini untuk utuh membaca. Membuat saya semakin semangat untuk serius mempelajari saham dan menyisihkan uang untuk investasi lebih banyak lagi.

Bianto Surodjo: Investor Sukses Tak Perlu Gelap Mata

Memilah kebutuhan dan memperhitungkan rentang waktu untuk investasi adalah poin utama bagi Direktur Retail Banking PT Bank Permata Tbk, Bianto Surodjo. Penerapan hal tersebut tercermin dalam portofolio miliknya yang terdiversifikasi.

Bianto Surodjo

Bianto memutuskan terjun berinvestasi secara langsung pada 1995 silam. Kala itu merupakan tahun pertama ia bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri. Sebagian dari gaji yang terdiversifikasi.

Continue reading