Jakarta Globe: “Indonesia Takes up UN Security Council Seat”

Jakarta Globe: “Indonesia Takes up UN Security Council Seat“.

Advertisements

Gus Muwafiq – “Islam Jawa”

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda namanya Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada. Continue reading

Our beliefs is the unity of God and people

In a country where religion plays a large part in public life, followers of traditional beliefs, known generally as aliran kepercayaan, hope the ruling will finally end decades of unofficial discrimination that makes it difficult for them to get permits to open gathering places, obtain marriage licenses and get access to public services like health care and education. It also complicates efforts by those believers to get military, police or civil service jobs, or even burial plots in cemeteries.

There are hundreds of different forms of aliran kepercayaan spread across the vast Indonesian archipelago. In Java, the most populous island, it is often a mix of animist, Hindu-Buddhist and Islamic beliefs.

Forms of kepercayaan can include certain periodic religious observances, such as communal meals or acts that could be compared to Muslim men praying together on Fridays or Sunday Christian services. These may include ritual offerings to appease spirits, even though the practitioners could also be registered as Muslims, Catholics, Buddhists or one of the other recognized religions.

It is estimated that at least 20 million of Indonesia’s 260 million people practice local traditional beliefs, but the numbers could be much higher, according to analysts, as some are also followers of Islam, Christianity and other major religions.

[…]

“We’ll keep fighting for equality; we have equality, legally speaking, but in reality we don’t,” said Endang Retno Lastani, an elder with one Java-based group, whose national identity card is blank in the religious affiliation section.

“Our belief is the unity of God and people, just like other religions,” he said. “So what’s wrong with that?”

Click here for more, “Indonesia’s Ancient Beliefs Win in Court, but Devotees Still Feel Ostracized“.

Zaini Misrin dieksekusi, TKI kita

Lagi, TKI asal Indonesia dieksekusi mati di Arab Saudi, adalah Muhammad Zaini Misrin. Anda bisa membaca cerita lengkap di CNN Indonesia, sementara situs berita Oke Zone memiliki cerita yang sedikit berbeda: ‘TKI Dieksekusi, DPR RI Pertanyakan Kinerja KBRI‘. Lebih tepatnya, Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf yang mengritik keras kepada KBRI. Continue reading

Antusiasme stadion

Di hadapan pemain lapis kedua Islandia, Indonesia menunjukkan penampilan terbaiknya. Pertandingan menarik di babak pertama, Ilhamudin Armaiyn mencuri gol pertama, memanfaatkan kesalahan kiper Islandia Runar Alex Runarsson. Setelahnya, gawang Indonesia kebobolan 4 gol.

Hasil akhir memang tidak menarik, tapi secara permainan, relatif seimbang. Kalau ada yang lebih menarik, itu adalah komentator dan host juga media yang menyoroti Stadion Utama Gelora Bung Karno yang kini berwajah baru, lebih berkualitas, menggunakan teknologi mutakhir, dan bagaimana mengungkapkannya, di layar televisi penggemar bola seakan menyaksikan laga sepakbola internasional.

Dari laga malam kemarin, saya baru tahu kalau Islandia akan berlaga di Piala Dunia. Menambah daftar kekaguman kepada negara kecil ini selain memiliki musisi internasional sekelas Sigur Ros.

Drama Seri: Setya Novanto

Editorial Media Indonesia kali ini berbicara tentang hukum untuk seluruh warga negara Indonesia [klik].

“Pada satu sisi, kita bisa mencatat ‘perlawanan’ yang dilakukan Novanto tersebut menunjukkan bahwa ia pemimpin yang telah gagal memberikan keteladanan secara maksimal. Kita tak boleh lupa Novanto ialah pemimpin lembaga legislatif yang terhormat, yang mestinya menjadi teladan dalam upaya penghormatan terhadap institusi dan proses hukum.”

Setya Novanto, sebagaimana kita tahu, kemarin kecelakaan. Kita, seluruh masyarakat Indonesia, tentu ingin agar ia lekas sembuh dan mengikuti proses hukum yang berlaku. Jika ia bersalah, tentu itu putusan persidangan, bila memang terbukti tidak bersalah, juga seharusnya melalui jalur hukum. Gelagatnya yang mangkir beberapa kali seakan menunjukkan sesuatu.

“Namun, pada lain sisi, kita mesti ingatkan juga kepada KPK agar tak terlalu terhanyut oleh ambisi dan desakan publik untuk segera menangkap Novanto. Memuliakan hukum bukan cuma berlaku bagi pelaku pelanggaran hukum, melainkan juga bagi penegak hukum. KPK tetaplah bekerja di jalur dan norma hukum yang ada dengan cara yang elegan, tak perlu mengumbar nafsu untuk mendapatkan simpati rakyat.”

Untuk paragraf ini, keyakinan saya diperoleh saat Saut Situmorang, Wakil Ketua KPK, hadir untuk memenuhi undangan Rosiana Silalahi dalam acara talkshow ‘Rosi’. Ucapan Saut, sama persis dengan yang Editorial Media Indonesia tulis. KPK, sebagai institusi, tetap melalui norma hukum yang ada untuk menjerat Setya Novanto. Ia juga membuat kita yakin, dengan bukti yang ia nyatakan cukup untuk memproses hukum Ketua DPR RI yang citranya makin buruk ini.

Pada bagian penutup, dalam acara talkshow di TV One, harapan Tama S. Langkun, aktivis anti-korupsi adalah harapan pegiat anti korupsi dan saya kira, seluruh warga negara, “…harapan saya Pak Setya Novanto lekas sembuh dan tidak hilang ingatan.”

Bonus demografi, potensi atau ancaman?

Bonus demografi tidak hanya memberikan manfaat dari aspek potensi pasar sebagai konsumen aktif tapi juga sebagai potensi tenafa kerja produktif. Persoalannya adalah ketika kuantitasnya tidak sebanding dengan kualitas sehingga rentan memicu persoalan pengangguran, termasuk juga ancaman pengangguran terdidik yang jumlahnya semakin meningkat. Oleh karena itu menjaga keseimbangan dari bonus demografi menjadi sangat penting karena taruhannya adalah beban anggaran negara, kesejahteraan daerah sesuai tuntutan era otonomi daerah dan juga ancaman terjadinya urbanisasi. Artinya, otonomi daerah jangan melulu pemekaran, tapi juga perlu memperhatikan persoalan kependudukan.

Kutipan ini diambil dari kolom opini berjudul “Kependudukan VS Urbanisasi” yang ditulis oleh Dr. Edy Purwo Saputro S.E, M.Si, di koran Kedaulatan Rakyat per tanggal 17 Juli 2017.

Secara umum, kolom opini ini tidak membahas masalah bonus demografi Indonesia di masa mendatang, tetapi lebih ke masalah kependudukan dan urbanisasi, juga masalah sentralisasi pembangunan yang masih terpusat di pulan Jawa, salah satu isu yang benar-benar lawas.

Untuk para mahasiswa seperti saya ini, kalimat, “..pengangguran terdidik yang jumlahnya semakin meningkat,” terdengar sangat-sangat mengerikan.

Atlantis: The Lost Continent Finally Found

Sedang membaca Atlantis: The Lost Continent Finally Found, karya Prof. Arysio Santos, seorang Geolog dan Fisikawan Nuklir Brazil.

Terus terang, bagi saya, kisah Atlantis terdengar sangat mirip dengan lusinan kisah lain yang dituturkan dalam mitologi semua bangsa, terutama Yahudi-Kristen: kisah tentang Sodom dan Gomorrah, Banjir Bah, jatuhnya Adam dan Hawa dari Surga, jatuhnya Lucifer, dan sebagainya. Bangsa Celtic juga memiliki tradisi-tradisi yang sangat mirip tentang tempat yang tenggelam, terbukti dari puisi Taliesin atau legend Ys, dan lain sebagainya.

Kisah yang hampir sama juga dituturkan oleh Homer, yaitu kisah tentang bangsa Phaeacia dan hukuman mengerikan yang menimpa mereka karena ketidaktaatan mereka pada Poseidon, dewa pelindung dan pencipta mereka. Kisah ajaib Homer tentang Phaeacia sangat mengingatkan kita pada Atlantis. Bangsa Inca di Amerika Selatan juga mempunyai kisah-kisah serupa tentang pada Aturumuna, raksasa-raksasa yang dijatuhkan, yang gara-gara kebiasaan sodomi, mereka dihukum dan dimusnahkan oleh para dewa dengan cara mengirim banjir.

Plato sendiri menyebut bencana alam yang dialami penduduk Atlantis sebagai Banjir Semesta. Dia juga menambahkan beberapa detail menarik. Dan tak meragukan lagi, detail-detail ini membawa kita pada kesimpulan bahwa bencana ini dipicu oleh aktivitas gunung-gunung berapi besar yang diikuti dengan penurunan tanah dan pembentukan kaldera, muntahan batu apung, tsunami dan gempa bumi hebat, dan sebagainya.

Masih di halaman 12 dari 672 halaman yang ada di buku serupa kamus ini. Nampaknya malam-malam selanjutnya akan diisi oleh hasil pemikiran Prof. Santos yang menuturkan Indonesia adalah benua Atlantis yang Plato sebutkan, Indonesia adalah tempat lahirnya peradaban dunia.