Malam ngencuk — pagi lupa

Argumentasi lemah. Arogan. Data-data kurang mendukung. Terlalu menggebu-gebu. Bahasa terlalu ‘warung kopi’, apalagi untuk tayangan sekelas ‘Indonesia Lawyers Club’. Karni Ilyas sempat menyayangkan argumentasi yang dikeluarkan oleh Mahmud Syaltout, karena ILC tayangan ‘live’. Tidak bisa diedit. Arti dari kalimat, “seperti semalam ngencuk, pagi lupa,” yang diucapkan cukup mengherankan bila disampaikan dalam diskusi yang intelek. Ngencuk kurang lebih, artinya, bersetubuh?

Banyak koreksi terhadap Badan Intelijen Negara [BIN], kepolisian, dan negara. Wajar, tapi terlalu mengambang. Ucapan BIN tidak becus bekerja, bahkan lebih baik diganti Banser, terdengar seperti melucu tapi, jujur saja, kering. Kekeringan itu, diguyur oleh Maruli Tampubolon yang tampil sempurna yang menyanyikan hits Koes Plus, “Andaikan Kau Datang”.

Saya menunggu kuliah gratis dari Prof. Mahfud M.D. dan Rocky Gerung.

Advertisements

Permadi Arya jangan kapok tampil di ILC lagi

Yang membuat risau saat ingin menonton video di Youtube adalah, pada feed saya begitu banyak video reupload tayangan ILC pada selasa [5/12] dengan tema, “212: Perlukah Reuni”.

Saya sering memutar ulang tayangan ILC di Youtube. Beberapa di antaranya bukan melalui official akun TV One. Karena, judul dan thumbnail yang TV One berikan kadang tidak sebombastis akun-akun youtube yang mereupload tayangan ILC.

Di beberapa situs online media bernapaskan islam, Permadi Arya atau yang lebih dikenal sebagai Abu Janda mendapat sorotan yang luar biasa negatif. Saya yang malam itu menyimak opininya sedikit banyak geram juga. Permadi Arya seperti memerankan tokoh antagonis yang besar mulut tapi miskin referensi. Beberapa pendapatnya begitu mudah patah, dan yang mengherankan, seperti tidak ada kekeliruan pada setiap opini yang dikeluarkan ia pasang raut muka menantang.

Namun, itu bukan alasan yang cukup kuat untuk menyudutkannya dalam kubangan komentar negatif. Caci makian yang dimuntahkan warganet, saya kira, yang menuju pembunuhan karakter itu, seharusnya disimpan agar ia introspeksi diri. Saya yakin setelah dari ILC ia akan pikir panjang sebelum berpendapat di ruang publik.

Bagaimanapun, ia kemarin hanya kurang materi dan referensi saat mengeluarkan opini. Kita tidak perlu menghakimi atau malah membandingkan dengan tokoh lain.

Benar bila data yang ia bawa kurang kuat sehingga argumennya mudah patah sehingga kita menganggapnya besar mulut saja. Agar anggapan itu keliru, sebaiknya Permadi Arya tampil sekali lagi [jangan kapok] di ILC dalam topik berbeda dengan persiapan materi yang lebih matang. Ini karena kadar intelektualitas siapapun yang tampil di ILC sangat diperhitungkan.