Tag Archives: Haruki Murakami

NW: kematian Kizuki dan Naoko

Ketika Kizuki mati aku mempelajari sesuatu dari kematian itu. Dan aku memahaminya sebagai suatu teori. Atau mungkin aku hanya merasa memahaminya. Begini teorinya, “kematian bukanlah lawan kehidupan, tetapi ada sebagai bagiannya.”

Dan itu adalah suatu kebenaran. Kehidupan kita ini secara bersamaan menumbuhkan kematian. Tetapi itu hanya sebagian kebenaran yang harus dipelajari. Kematian Naoko mengajarkan aku seperti ini. Kebenaran seperti apa pun, ketulusan seperti apa pun, kekuatan seperti apa pun, tidak bisa menyembuhkan kepedihan itu. Kita hanya bisa merasakan kepedihan itu sedalam-dalamnya, dan dari situ kita bisa mempelajari sesuatu dan sesuatu yang kita pelajari itu pun menjadi percuma di saat kita menghadapi kesedihan yang sekonyong-konyong muncul. Hari demi hari, tak henti-hentinya aku sendirian merenungkan hal itu sambil mendengarkan bunyi ombak, dengan memasang telinga mendengarkan bunyi angin malam itu. Sambil menggendong ransel aku berjalan ke barat dan terus ke barat menyusuri pantai awal musim gugur, menghabiskan beberapa botol whisky, mengunyah roti, minum air dari botol, dan membiarkan rambutku penuh pasir.

[Haruki Murakami, Norwegian Wood]

NW: Perempuan di usia 20-an

“Kamu tentu tahu, bagaimana perempuan, kan?” Ia menerangkan. “Memasuki usia 20 atau 21 tahun, segera saja mereka mulai memikirkan sesuatu secara konkrit. Mereka betul-betul menjadi realistis. Lalu, kalau sudah begitu, sisi manis mereka yang terlihat sebelumnya, mulai terlihat biasa-biasa saja dan bahkan mengesalkan. Kalau bertemu, denganku, ya biasanya setelah melakukan itu, ia akan bertanya, nanti setelah lulus universitas rencananya mau bagaimana?”

[Haruki Murakami, Norwegian Wood]