Meningkatkan diplomasi melalui film

Dalam hubungan internasional, film menjadi salah satu media yang dapat mendukung kegiatan diplomasi budaya dan ekonomi. Melalui film, Indonesia dapat memperkenalkan kekayaan budaya kepada dunia internasional sekaligus menumbuhkan ekonomi kreatif.

[ … ]

Tak hanya terkait diplomasi budaya, film juga berfungsi sebagai sarana promosi pariwisata. Banyak wisatawan mancanegara tertarik mengunjungi Indonesia setelah menonton film karya anak bangsa.

Diambil dari Tabloid Diplomasi No. 109. Khusus mengenai diplomasi melalui film, beberapa teman pada semester lalu telah membahasnya menggunakan studi kasus Drama Korea, khususnya film Descendants of the Sun.

Advertisements

Korsel dan Korut: Wait and see

Di awal tahun 2018 kiranya akan memberikan harapan baru bagi kebanyakan masyarakat di Semenanjung Korea, khususnya dalam hal bilateral kedua negara. Apa pasal? Hal ini dipengaruhi oleh pidato politik awal tahun Kim Jong Un Presiden Korut.

Kim, menyatakan keinginannya untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin yang akan digelar di Pyeongchang Korea Selatan, ia berjanji mengirim atlet atlet terbaiknya. Selain itu, Kim juga membuka diri untuk melakukan perundingan dengan Seoul.

Sejatinya, pidato Kim tersebut merupakan respon atas pernyataan Presiden Korsel Moon Jae-in beberapa waktu sebelumnya, Moon menyampaikan bahwa kompetisi olahraga yang akan digelar di negeri ginseng itu dapat menjadi ajang untuk mulai menjalin hubungan baik bagi kedua negara. Perundingan ini adalah kali pertama diselenggarakan pasca dua tahun Semenanjung Korea mengalami ketegangan akibat program nuklir yang dilancarkan Korut.

Pertemuan pejabat dua Korea beberapa waktu yang lalu menghasikan beberapa kesepakatan diantaranya ialah 1) Korea Utara akan ikut serta dalam gelaran Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang Korea Selatan, 2) Korsel dan Korut akan pawai bersama saat pembukaan dan penutupan Olimpiade, 3) Kedua negara sepakat untuk menunda pembicaraan masalah militer, 4) Korsel mengajukan usulan kepada Korut untuk melanjutkan pembahasan reuni para keluarga yang terpisah akibat Perang Korea.

Beberapa butir kesepakatan dalam perundingan membawa angin segar bagi lingkungan internasional, karena dapat meredakan ketegangan yang selama ini terjadi di Semenanjung Korea, setidaknya untuk beberapa waktu kedepan. Jika dicermati secara seksama, sesungguhnya masing masing negara Korsel maupun Korut sedang dalam keadaan wait and see, menunggu dan mencermati apa yang akan dilakukan keduanya pasca perundingnan 9 Januari.

Pada poin ketiga dari kesepakatan tersebut menyiratkan bahwa keduanya tidaklah benar benar atau belum dalam keadaan ingin mewujudkan deklarasi damai. Situasi yang tengah terjadi setidaknya akibat negara sponsor masih terlalu kuat hegemoninya, secara ekonomi maupun politik.

Perbedaan ideologi dan cara pandang menentukan masa depan negara, menjadikan situasi semakin sulit. Prasyarat bagi terwujudnya perdamaian Duo Korea adalah dengan melepaskan hegemoni asing dalam sebuah negara. Atau, pilihan mereka hanyalah ilusi damai di Semenanjung Korea.

Yudi M. Permana, “Diplomasi Olimpiade Semenanjung Korea“.

Menlu Retno Marsudi terima penghargaan Agen Perubahan untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

Suara Merdeka: “Sebuah penghargaan Agen Perubahan untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan dari badan urusan perempuan PBB, UN Women diterima Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di Markas PBB, New York, AS, pada Rabu.”

Asisten Sekretaris General PBB yang juga selaku Deputi Direktur Eksekutif UN Women Lakhsmi Puri yang menyerahkan penghargaan tersebut kepada Menlu Retno telah menjadi inspirasi dan panutan bagi perempuan Indonesia dan dunia. Melalui kepemimpinan Menlu, diplomasi Indonesia telah memperjuangkan kesetaran gender di forum regional dan global. “Dia juga telah menjadi sorotan di kawasan dan global lewat diplomasi yang sangat sensitif di kawasan termasuk di dalam konteks Myanmar,” kata Lakhsmi.

Menlu Retno Marsudi mengungkapkan perempuan memiliki naluri keibuan sehingga lebih mengutamakan dialog daripada ancaman dan kekerasan untuk menyelesaikan perbedaan maupun konflik.

Membangun Citra lewat Diplomasi Budaya

Farah Diba: Diplomasi Kebudayaan dilakukan sebagai upaya untuk mencapai kepentingan bangsa dalam memahami, menginformasikan dan mempengaruhi (membangun citra) bangsa lain lewat kebudayaan. Sebenarnya tindakan yang paling efektif untuk merubah citra adalah dengan merubah realitas, namun diplomasi kebudayaan juga menjadi salah satu sarana yang efektif untuk mencapai kepentingan bangsa, agar bangsa lain dapat memahami, mendapat informasi dan dapat dipengaruhi untuk kepentingan-kepentingan berbagai hal dari bangsa kita. Dengan dilakukannya diplomasi kebudayaan, dapat meningkatkan apresiasi dan pemahaman untuk peningkatan citra positif, membangun saling pengertian dan memperbaiki citra bangsa.

Tantangan dan peluang kerjasama Asia – Eropa

Jalinan kerja sama antara dua kawasan, Asia – Eropa, selalu diwarnai dinamika. Ada beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh negara-negara Asia dengan Eropa meliputi isu ekonomi, keadilan, perdamaian internasional dan keamanan internasional serta keberlanjutan bumi. Pertama, tantangan ekonomi adalah saat krisis ekonomi terjadi maka langkah-langkah penanganan secara nasional, kawasan dan global harus diambil secara simultan dan saling mendukung. Kedua, tantangan keadilan kaitannya dengan membangun sebuah kemajuan yang seiring dengan bagaimana kemajuan itu bisa mengakhiri kemiskinan dan menjamin pencapaian SDG’s.

Ketiga, tantangan perdamaian internasional dan keamanan internasional. Mencegah terjadinya perang termasuk perang saudara, merupakan sebuah upaya yang harus terus dilakukan serta berusaha mencegah perang dan konflik yang menimbulkan korban sipil. Keempat, tantangan mengenai keberlanjutan bumi. Kerja sama tentang keberlanjutan bumi menjadi penting dilakukan di antara semua negara dalam satu kawasan bahkan antar kawasan, termasuk kerja sama untuk menciptakan dan memproduksi energi terbarukan.

Peluang dalam jalinan kerja sama Asia dengan Eropa, adalah sebagai berikut: pertama, mengembangkan people to people diplomacy. Asia – Europe Foundation (Asef) adalah salah satunya organisasi permanen yang bernaung di bawah Asia – Europe Meeting (Asem). Yayasan ini didirikan pads 1997, setahun setelah deklarasi pendirian Asem di Bangkok, Thailand, dan sampai sekarang memiliki sekretariat tetap di Singapura. Asef menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial untuk mendekatkan hubungan antar individu (people to people) di kawasan Asia dan Eropa. Kedua, hubungan kerja sama melalui Asem. Pertemuan Asia – Eropa (Asia – Europe Meeting: Asem) adalah forum yang dibentuk untuk membicarakan permasalahan-permasalahan yang melibatkan negara-negara Eropa dan Asia.

[Anna Yulia Hartati, dosen Hubungan Internasional Universitas Wahid Hashim Semarang]