Penerbit buku Jogja jaman old dan jaman now

Hampir dua dekade silam, kegairahan menerbitkan buku melanda Jogja. Tumbangnya Orde Baru dirayakan dengan munculnya ratusan penerbit di kota sekecil Jogja sepanjang periode 1998-2003. Sepanjang beberapa saat yang meriah, kita semua memasuki era kebebasan berekspresi sejati, sebelum munculnya sweeping buku kiri pertama di tahun 2000.

Euforia kebebasan berekspresi bukan hanya dirasakan pada bidang perbukuan, tetapi juga media massa cetak secara umum. Tahun 1999-2000 kita bisa melihat bahwa penerbit tabloid politik dan hiburan menjamur dalam jumlah yang tidak kalah dibandingkan penerbit buku. Mekanisme pasar yang kejam telah menghantam tabloid-tabloid tersebut hingga banyak di antara mereka tersungkur berkalang tanah.

Sudah diramalkan oleh futurolog John Naisbitt (Global Paradox, 1994) bahwa internet akan membuat individu-individu lebih kuat dan otonom. Tidak ada lagi dikotomi central-peripherial. Faktanya, para penerbit indie yang berbasis daring tidak harus tunduk pada siapa pun kecuali konsumen. Dan ketika mereka menerapkan pola akuisisi konsumen dengan menganggapnya sebagai sahabat, hubungan persahabatan yang terjalin itu kemudian menjadi semacam proteksi dari serangan kompetitor.

Indra Ismawan, “Penerbit Jogja: Yang Abadi dan yang Fana dalam Dua Dasawarsa“. Salah satu bahasan menarik tentang dunia perbukuan Jogja.

Poin lain yang menarik,

Jika penerbit Jogja generasi 1998-2003 merupakan respons terhadap reformasi politik, penerbit Jogja jaman now lebih merupakan respons terhadap revolusi di jagat maya.

Advertisements

Setan dan temannya, Anthony de Mello

Hasil penjelajahan internet memang tak pernah terduga. Internet masuk kategori new media, sifatnya pengguna memiliki kebebasan untuk memilih apa yang dikonsumsi. Namun begitu, internet sering menawarkan sesuatu yang menarik sehingga sulit untuk dilewatkan. Ini karena konten yang penggunanya sebar di belantara internet.

Dua hari lalu saya diperkenalkan Anthony de Mello, seorang rohaniawan Jesuit yang juga penulis buku. Saya membaca juga merefleksikan sedikit yang Mello tulis dalam bukunya “Burung Berkicau”. Di bawah ini satu cerita favorit saya:

Setan dan Temannya

Pada suatu hari setan berjalan-jalan dengan seorang temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut sesuatu dari jalan.

‘Apa yang ditemukan orang itu?’ tanya si teman.

‘Sekeping kebenaran,’ jawab setan.

‘Itu tidak merisaukanmu?’ tanya si teman.

‘Tidak,’ jawab setan. ‘Saya akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.’

Kepercayaan agama merupakan suatu tanda, yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. Orang yang kuat-kuat berpegang pada penunjuk jalan, tidak dapat berjalan terus menuju kebenaran. Sebab, ia mengira seakan-akan sudah memilikinya.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994]

Jujur saja, dari lebih dari seratus cerita yang Melo tuliskan, setengah di antaranya tidak saya pahami maksutnya. “Setan dan Temannya” di atas salah satunya. Mungkin Melo berkisah bahwa jangan menganggap diri ini benar karena berpegang teguh pada agama. Atau lain hal.

Seorang blogger mengindeks 122 cerita super pendek namun sarat makna Mello di blognya. Anda bisa menemukan cerita Melo yang lain melalui blognya.

Saya sarankan untuk membuka pikiran lebar-lebar untuk apa yang Melo tuliskan. Jangan terlalu terkungkung pada sudut pandang yang sempit.

Doug Spears

Tetapi Doug tidak pernah mengatakan apa-apa tentang istrinya, kecuali sekali atau dua kali menyebut namanya sambil lalu. Rasanya seolah ia sendiri masih lajang. Atau mungkin karena istrinya adalah bagian hidupnya yang amat kecil sehingga tidak perlu disebutkan. Atau mungkin karena istrinya benar-benar tidak memahaminya dan jarak di antara mereka sudah sangat jauh sehingga suaminya hampir melupakan dirinya sekali ia memasuki mobil Lexus-nya setiap pagi untuk pergi ke pusat kota untuk bekerja.

Aku bukannya berharap bisa mendengar hal-hal buruk tentang istri Doug. Setidaknya, aku mengagumi Doug yang tidak membicarakan hal-hal buruk tentang istrinya. Tetapi aku merasa bingung. Siapakan wanita yang ada di rumah di Newton? Dan mengapa sepertinya ia tidak penting bagi suaminya sendiri?

[Holly Chamberlain, “Living Single”]

Hitam putih

Dunia ini hitam putih, Burlian. Lebih banyak abu-abunya. Jarang ada orang yang hatinya hitam sekali, dan sebaliknya juga susah mencari yang hatinya sempurna putih. Semua orang punya kelemahan, dan karena itulah seringkali kita tidak selalu diberikan pilihan terbaik. Setiap kali kita memilih pemimpin, sejatinya kita bukan memilih orangnya. Sejatinya itu hanya soal apakah kita mau dipimpin si A, si B atau pilihan lainnya.

[Tere Liye, ‘Burlian’]

Cara pandang

Mulai menarik. Lintang mengulum senyum khasnya.

“Barangkali akan lebih mudah jika kita berpikir bahwa biola adalah alat akustik yanh berbunyi karena getaran. Tangga nadanya merupakan konsekuensi dari panjang pendek gelombang akibat jemari yang memencet dawai bergerak dalam jarak tertentu ke depan atau ke belakang stang-nya. Dengan melatih terus jemari agar konsisten dengan jarak tertentu itu, begitulah kita akan menemukan nadanya.”

Membuat sesuatu yang rumit menjadi begitu sederhana adalah keahlian Lintang yang selalu membuatku iri.

“Kesulitan akan gampang dipecahkan dengan cara pandang, Boi.”

[‘Maryamah Karpov’, Andrea Hirata]

Biaya Pembuatan Album CUPUMANIK “Menggugat”

Saya tau, dua hari tidak posting blog. Resensi buku “Rock Memberontak” belum sempat saya tulis postingnya. Salahkan saya yang kurang cakap mengatur waktu. Kebanyakan main. Dan kecantol di internet.

Sebagai penebus dosa, ini ada posting yang saya ambil dari buku yang dimaksut. Di bagian milik Che Cupumanik. Tentang berapa biaya yang dikeluarkan untuk produksi album CupumanikMenggugat“.

Rinciannya.

Delapan lagu ada di album tersebut. Ongkos latihan 8 x Rp. 600.000 = Rp. 4.800.000. Merekam demo live butuh ongkos 8 x Rp. 50.000 = Rp. 400.000. Biaya rekaman lagu 8 x Rp. 5.400.000 = Rp. 43.200.000. Mixing menghabiskan dana sebesar 8 x Rp. 1.500.000 = Rp. 12.000.000. Mastering butuh biaya Rp. 7.000.000.

Total Rp. 67.400.000.

Itu belum termasuk biaya lain-lain yang tidak mungkin dikalkulasi dengan uang semata.

Note: diambil dari buku “Rock Memberontak” karya Eko Prabowo (Wustuk).

Mengenai Tampilan Blog, Jurnalisme dan Buku Rock Memberontak

#Repost @udhakudha with @repostapp. ・・・ #RockMemberontak

Foto kiriman Rock Memberontak (@rockmemberontak) pada Peb 19, 2016 pada 7:17 PST

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Kalau kamu pengunjung lama blog ini, berarti kamu tau apa yang berubah dari blog ini. Yap. Saya ubah warna template blog ini, dan header yang baru saja saya ganti. Mumpung ada waktu dan kemauan. Selain dua hal itu, ada satu lagi yang saya edit, jumlah posting di halaman utama yang awalnya sepuluh menjadi lima.

Ada satu hal lagi yang mau saya edit tetapi saya pikir akan memakan banyak waktu. Saya ingin ada semacam arsip interview yang telah saya posting di sini dalam satu halaman. Tapi, belum terlalu penting saya rasa.

Karena yang penting saat ini adalah mencari referensi apa perbedaan kebijakan maritim era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo. Nah, ini, ini yang menjadi unik. Kenapa saat mencari referensi saya lari ke internet? Continue reading