Jiwasraya tidak hati-hati

Budi Frensidy, di kolom Wake Up Call Kontan:

Jiwasraya tidak menerapkan prinsip kehati-hatian untuk investasinya. Dari total aset finansialnya, 22.4% atau Rp 5.7 triliun berisi saham dan 59.1% atau Rp 14.9 triliun dalam bentuk reksadana. Sampai di sini belum ada yang mencurigakan.

Namun jika kita bedah isi masing-masing kelas aset itu, ketidakwajaran akan terkuak. Dalam portfolio saham, ternyata hanya 5% saham LQ-45. Sementara reksadana yang dimiliki hanya 2% yang pengelolaannya adalah manajer investasi top tier dari 13 manajer investasi yang bermitra. Sejatinya, pengelola bukan top tier tidak jadi masalah selama ada pedoman tata kelola yang jelas untuk penyusunan portfolio, strategi pemilihan saham dan kebijakan trading-nya.

Yang terjadi, sepertinya tidak ada panduan itu. Sejumlah reksadana justru dibuat khusus untuk menampung atau mengambil di pasar negosiasi (pada harga di atas harga perolehan) saham-saham kemahalan (overpriced) yang telah dibeli Jiwasraya. Reksadana ini kemudian dibeli lagi oleh Jiwasraya.