Kematian itu keniscayaan yang menggentayangi setiap kita

DI masa depan, barangkali pencapaian terbesar umat manusia adalah menyangkal kematian. Seorang filsuf, kita tahu siapa, menyebut kematian itu faktisitas: fakta-fakta terberi, yang tidak terhindarkan di kehidupan manusia. Kematian itu keniscayaan yang menggentayangi setiap kita.

Pemikiran itu lantas menggoda filsuf lainnya, kita juga tahu siapa, berkelakar bahwa bunuh diri adalah masalah pokok filsafat. “Jika hidup sudah tak bermakna, pantaskah untuk tetap dijalani?” Kita telanjur tak sanggup memilih sendiri kelahiran: kapan serta di mana dilahirkan, apa jenis kelamin, kewarganegaraan, bahkan agama, dan sebagainya. Namun, kita masih berkemungkinan memilih dan menentukan kematian sendiri. Pilihan dan kemungkinan itu mewujud tindakan bunuh diri.

Lebih lanjut baca di sini.

Advertisements

Kumar

Saat ini, kerusakan akibat dari imperialisme dan neoliberalisme terlihat begitu terang-benderangnya. Saat ratusan dari ribuan orang telah kehilangan hidup mereka atas pendudukan yang dipimpin Amerika Serikat di Irak dan Afghanistan, jutaan lainnya lebih menderita di bawah pembinasaan sehari-hari oleh pasar bebas. Namun ada rekonfigurasi kekuatan besar yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Nasionalisme sekuler, dengan daya tarik massanya yang cukup, adalah kekuatan penggerak utama atas perubahan di era 1950-an dan 1960-an. Pada 1970-an, terdapat usaha bersama rezim Arab untuk menstabilkan wilayah mereka dan bagian dari usaha itu terjabarkan dengan mendukung kekuatan ‘kaum Islamis’ melawan nasionalisme sekular dan kiri.

Pemberontakan dalam beberapa bulan terakhir tampak mengindikasikan putusnya status quo pada dua atau tiga dekade terakhir. Gerakan massa yang berkembang di wilayah ini ditujukan untuk melawan diktator yang telah memerintah dengan kekebalan hukum. Mereka juga adalah para pemberontak yang melawan sistem ekonomi dan politik yang telah dikenal sebagai neoliberalisme. Pemberontakan ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang karakter distribusi ekonomi kekayaan – yaitu siapa yang memerintah dan siapa yang punya kepentingan.

Solusi jernih yang menghubungkan perjuangan melawan kerusakan baik yang ditimbulkan oleh kapitalisme dan imperialisme di Timur Tengah, hanya dapat ditempa dengan membangun kembali kaum kiri. Seperti yang telah ditunjukkan dari berbagai perjuangan dari Pakistan dan Iran, ke Aljazair, Tunisia, dan Mesir, sistem ini memaksa orang-orang biasa untuk melawan balik. Dalam konteks inilah, kaum kiri yang ada dapat tumbuh dan memperkuat basisnya, dan sebuah kiri baru muncul. Kiri yang seperti ini tak hanya akan menunjukkan sebuah kepemimpinan yang berbeda melawan imperialisme, namun juga terorganisir melawan prioritas kapitalisme neoliberal dan kelas-kelas pemimpin lokal yang beruntung karenanya. Ini adalah tantangan milenium baru.

Ini kesimpulan dari apa yang ditulis oleh Deepa Kumar dalam, “Islam Politik: Sebuah Analisis Marxis”. Tentu Anda harus membaca isinya sebelum mencapai ke kesimpulan, jika tertarik pada analisis Marxisme. Saya mendapatkannya dalam bentuk ebook, dan diterbitkan oleh Indoprogress, pengantar oleh Coen Husain Pontoh.

Kepentingan pemerintah – kepentingan negara

Selama ini ada kecenderungan pemahaman filosofi politik yang berlaku umum, yaitu kepentingan pemerintah dianggap sama dengan kepentingan negara. Suara pemerintah dianggap suara negara. Yang tidak setuju terhadap tindakan pemerintah dianggap tindak melawan negara.

Padahal, negara adalah lembaga yang di dalamnya batas-batas dan sistem penyejahteraan rakyat diselenggarakan. Pemilik kedaulatan tertinggi adalah rakyat. Negara merupakan rumusan di mana sejumlah dimensi kedaulatan rakyat diformalisasikan. Sementara pemerintah sungguh-sungguh hanya merupakan sekumpulan orang yang ditugasi oleh rakyat untuk melayani kepentingan penyejahteraan tersebut.

Ini dari buku “Markesot Bertutur” lagi, Emha Ainun Nadjib, melalui buku ini seperti menjadi dosen pribadi buat saya. Menjelaskan ini itu, tidak berbelit-belit. Saya telah mengutipnya beberapa kali di blog ini, tentu tidak baik – bila terlalu banyak. Lalu saya merekomendasikan untuk membelinya, entah itu versi cetak ataupun digital. Karena ini kumpulan esai, jadi bisa dibaca saat senggang. 

Kebanyakan berpikir pemadat adalah pemadat adalah pemadat

Di situlah aku berkenalan dengan kokain, dan rasanya seperti naik roller coaster tanpa pengaman dengan mulut terbuka sambil menghirup aroma parfum seorang wanita yang amat tajam sampai-sampai terasa seperti menyilet permukaan hidung. Bubuk ini mengisap seluruh cairan di kerongkonganmu, lalu seorang menyalakan empat ratus neon tepat di depan matamu, menarik lidahmu keluar, kemudian meletakkan tarantula di sana. Kau bahkan masih bisa merasakan sensasi kaki-kaki tarantula merayap di lidahmu sepuluh tahun kemudian saat kau pikir kau sudah lepas dari kokain. Dan kau masih bisa melihat pendar cahaya tiap kali kau mendengar nama bubuk sialan itu. Ia tidak akan melepasmu, seperti arwah leluhur yang mengikutimu seumur hidup, dan kau bisa membaui minyak wangi orang mati setiap saat. Setiap saat.

Kau boleh saja bilang aku anak manja atau pecundang atau apa pun. Namun, jika kau tak tahu betapa liatnya kesepian, membungkus hari-harimu dengan kelembaman yang berpotensi membuatmu membusuk di ranjang, sebaiknya simpan komentarmu. Kebanyakan orang hanya berpikir bahwa pemadat adalah pemadat adalah pemadat. Mereka banyak omong tanpa menawarkan bantuan. Dan saat kami ingin pergi dari benda sialan itu, mereka melihat kami seperti mayat hidup yang tak banyak gunanya. Maka, tak ada pilihan lain selain kembali lagi. Jujur saja, kokain memang membuatmu berpikir berbeda, tetapi tidak membuatmu jadi lebih baik.

Ini masih dari buku ’24 Jam Bersama Gaspar’. Saya menuntaskan kisahnya saat blog ini diposting.

Rencana mencuri kotak hitam milik Wan Ali

Ia mengoreksi langkah kudaku, mengembalikan pionnya yang hilang, dan mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan pengandaian seekor tupai meski aku yakin aku tak terlihat seperti seekor pengerat. Aku cuma meletuk-letuk sambil berpikir betapa kecilnya diriku di dunia ini, betapa banyak hal yang tak kuketahui, dan betapa lucunya umat manusia sampai-sampai aku menyimpulkan secara serampangan bahwa tiap manusia memang dilahirkan untuk menjadi pelawak.

Sejak melangkahkan bidak putih untuk kali pertama hingga akhirnya aku diskakmat, ia terus mengocehkan hal-hal konspiratif. Aku ingin bilang kepada Wan Ali bahwa sesungguhnya seluruh penduduk bumi tahu dab terlibat langsung dalam konspirasi, kecuali Wan Ali. Bahwa kami bukan hanya memercayai teori persekongkolan, tetapi juga menjadi bagian di dalamnya, kecuali Wan Ali. Tetapi kuurungkan, aku tak tega membuat orang lain merasa nelangsa. Aku pun tak mendebat gaya main caturnya. Beberapa orang jadi menarik karena mempertahankan sifat polosnya. Saat kau kecil, kau akan tampak imut setengah mati dengan kepolosanmu yang pelan-pelan berubah menjadi ketololan yang tentu tak kalah lucunya seiring usia bertambah. Tak perlu-perlu amat mengoreksi orang tolol, kukira; aku bisa menikmatinya seperti menikmati lenong atau komedi tunggal Rowan Atkinson.

Penjaga warung menegurku, memberi uang kembalian. Cukup, aku punya 23 jam 40-an menit untuk mengumpulkan beberapa orang yang bisa membantuku mengambil kotak hitam milik Wan Ali. Kalau mereka mau menggasak emas atau mencincang Wan Ali, terserahlah. Aku cuma ingin tahu isi kotak itu dan perasaan ini amat mendesak. Baru kali ini aku terpaksa merencanakan sesuatu, sebab kalau tidak dipaksa, dua puluh empat jam biasanya akan lewat begitu saja. Memikirkan rencanaku saja jantungku sudah berdegup tak keruan.

Sebab UAS telah berakhir, sedang menuju hari minggu – sebelum sibuk oleh KKN – masih lima hari lagi: saya memperbanyak koleksi buku. Buku 24 Jam Bersama Gaspar yang ditulis Sabda Armandio menjadi koleksi terbaru saya, kali ini cetak. Saya beli di seorang teman yang aktif main teater di Jogja, koleksi bukunya bisa dicek di Kuli Book. 24 Jam Bersama Gaspar ini bacaan ringan, sampulnya bagus. Saya membaca sebab tertarik dengan buku ini merupakan Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016.

Kata Markesot tentang Tembok Berlin

Tembok Berlin adalah lambang nyata dan realistis dari kebiadaban dunia berpolitik umat manusia. Sanak famili, sahabat, atau handai taulan dipisahkan secara mendadak oleh makhluk yang bernama ideologi politik. Pada 199 itu, seorang ibu yang pergi berbelanja ke pasar, tiba-tiba tak bisa pulang ke rumah karena mendadak telah berdiri tembok yang membuatnya puyeng membayangkan anak-anaknya menangis menunggunya. Demikianlah yang terjadi pada masyarakat Berlin ketika itu. Politik diciptakan dan dimanifestasikan berdasarkan filosofi dan tujuan untuk menyediakan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia. Tapi, yang terjadi adalah sama sekali sebaliknya.

Itu masih dari buku yang sama, “Markesot Bertutur Lagi”, halaman 35 dari 390 halaman. Ini pembelian yang menguntungkan. Saya sepertinya akan kenyang akan pengalaman dari tutur Markesot, sang tokoh utama dalam kumpulan esai ini. Emha Ainun Nadjib memang sosok yang luas ilmu dan pengalamannya.

Orang kecil macam kita tidak boleh bermimpi tinggi-tinggi

“Ada cerita apa ini?” Markesot bertanya lagi. Mereka duduk di kursi.

“Tolong bikinin kopi dulu, dong! Masa, tamu dari jauh tidak dihormati!”

Markesot misuh, seniman itu jiwanya bagai ruang kosong. Tak ada lemari atau kotak-kotak yang bisa dipakai untuk menyembunyikan sesuatu. Segalanya tampak jelas dan jujur di mata.

Sambil bikin kopi, Markesot bertanya lagi, “Ada yang gawat rupanya?”

“Pentasku dilarang!” jawab si binatang langka.

“Baca puisi?”

“Ya.”

“Yang di perguruan tinggi besar itu?”

“Yes.”

“Malah enak, tho? Kamu tinggal tidur sekarang!”

“Tidur mbahmu! Akali kita semua ini sudah sakit. Batas -batas kewenangan makin campur baur. Manajemen sejarah menggumpal di satu kekuatan dan kekuasaan yang memonopoli ruang dan waktu!”

“Omongan apa itu? Susah dipahami. Saya kira, kamu dilarang karena yang melarang itu tak pernah paham peta pemikiran yang ada di otak kamu.”

“Kalau nggak paham, jangan jadi pemuka masyarakat. Tuhan saja memberi kemerdekaan sedemikian besar, tapi mereka ini meletakkan diri melebihi batas kewenangan Tuhan. Mereka menyensor setiap gejala sosial yang diperkirakan merugikan kekuasaan mereka. Mereka menyensor khutbah di masjid, menyensor bunyi mulut mubalig, menyensor puisi penyair, menyensor drama para teaterawan – kadang tanpa kriteria yang jelas. Lama-lama mereka menyensor mimpi kita waktu tidur..”

“Lho, kok, baru tahu sekarang?” Markesot menukas. “Memang impian kita sudah disensor sejak lama, kok. Orang kecil macam kita tidak boleh mimpi yang tinggi-tinggi, sebab mimpi tinggi sudah dimiliki oleh lapisan orang yang kayak kita..”

Itu kutipan dari buku yang saya baca kali ini, “Markesot Bertutur Lagi” karya Emha Ainun Nadjib. Buku ini, terhitung istimewa, karena menjadi buku pertama yang saya beli secara daring – ebook – melalui Google Play Books. Kini, saya mulai beralih, meninggalkan buku-buku cetak dengan yang lebih praktis, buku elektronik. Harganya pun lebih murah, meski konsekuensinya membaca di layar tablet membuat mata lelah.