Dua jam tiap hari – Dua buku dalam sepekan

Berkat iklan tentang membaca buku itu saya merasa seperti mengalami hidup baru. O, perlu dirayakan dengan secangkir kopi dan ucapan selamat kepada diri sendiri: Selamat menempuh hidup baru, ya!

Dua jam setiap hari. Dua buku dalam sepekan. Kalaupun hanya bisa satu buku, itu tidak buruk juga. Setidaknya tiap pekan pengetahuan saya bertambah.

Penting menambah pengetahuan tiap pekan sebab, sejauh ini, ia adalah harta paling berharga yang bisa saya miliki dengan mudah. Dan ia satu-satunya yang tidak bisa dirampas dari kita oleh siapa pun.

Anda bisa kehilangan uang, kehilangan jabatan, kehilangan tanah, kehilangan rumah, kehilangan teman, kehilangan saudara, tetapi anda tidak mungkin kehilangan pengetahuan, kecuali suatu hari anda kesurupan dan berubah menjadi kurang waras. Tetapi itu kasus langka. Secara umum, pengetahuan yang kita miliki akan abadi dan tetap menjadi milik kita selama kita hidup dan sehat.

Bagaimana Membaca Dua Buku dalam Sepekan“, oleh AS Laksana, di Beritagar.

Advertisements

Penulis jaman sekarang harus punya komunitas – fanbase

“Kalau untuk aku alhamdulillah kalau udah kirim ke redaksi nggak pake seleksi, cuma tahapan lain ya tetep, kayak revisi dan segala macemnya itu.”

“Oh gitu, enak dong ya. Jadi udah ada kepastian terbit, cuma tinggal nunggu waktu. Karena setahu aku sih, ada beberapa yang ikut seleksi dan ditolak gitu naskahnya.”

“Iya ada beberapa yang gitu. Itu kenapa jaman sekarang penulis juga harus punya komunitas gitu, Kak. Kayak Tere Liye kan dia aktif di Facebook, atau Fiersa Besari dia aktif di Instagram dan Twitter, jadi dikenal dan mudah untuk proses promosi. Kanya juga nulis di Skywrite, itu yang buat Kanya punya pembaca sendiri,” jelasku. Satu hal yang aku suka dari Rega dia selalu tertarik saat aku menceritakan pekerjaanku, itu cukup membuatku merasa dihargai. Dan dia juga punya pengetahuan yang luas, jadi kami selalu nyambung saat membahas sesuatu.

Masih membaca kisah yang sama di Wattpad dengan posting kemarin.

Kanya bukunya udah berapa yang terbit? Sepuluh!

“Iya kadang kita nggak bisa nebak rejeki adanya di mana, kayak aku. Dulu mana pernah ada niat buat bener-bener jadi penulis kayak sekarang, mau berhenti juga sempet ditentang sama keluarga, takut nggak makan lah, apa lah. Ya ketakutan orangtua sih, tapi buktinya sekarang aku baik-baik saja,” terangku.

“Bisa dibayangin sih. Aku salut lho sama kamu, Nya. Pasti ngejelasin ke keluarga itu nggak mudah. Tapi bener sih, apapun profesinya kalau kita tekun pasti ada aja jalannya. Kanya bukunya udah ada berapa yang terbit?” Aku suka apresiasinya ini, tidak memandang pekerjaanku sebelah mata.

“Sepuluh.”

“Wow! Keren. Siapa tahu nanti kayak Raditya Dika bisa dibikin film, atau kayak novel Dilan tuh.”

“Kakak baca Dilan juga?”

Rega mengiyakan. “Pas lagi booming-nya, baca punya adik sih. Lucu aja gombalannya.”

Sedang membaca kisah di Wattpad, “I am a Dreamer” oleh Alnira. Hasil cari rekomendasi di internet, lalu masukkan ke perpustakaan pribadi dan langsung baca. 34 bab baru sampai di bab 5. Cocoklah buat isi-isi waktu luang.

Setelah membaca Danur, ingin memiliki kebijaksanaan seperti William

Saya merasa kalau dunia ‘mereka’ yang berada dalam ‘alam lain’ nampaknya memiliki kebutuhan yang sama seperti manusia pada umumnya: kasih sayang, perasaan ingin didengar, dipahami, juga dimengerti. Walau, penekanan yang Risa Saraswati tonjolkan dalam kisahnya di buku ini hanya satu: ‘mereka’ pada dasarnya ingin di dengar.

Walau ada di antara ‘mereka’ ada yang menyeramkan, seperti Risa kisahkan. Dalam wujud yang tidak menyeramkannya, nampaknya ‘mereka’ ini ‘friendly’. Ini entah bagaimana saya mendapat kesan itu. Mungkin karena Risa begitu mendayu-dayu (corny?) dalam bukunya yang baik ini. Buku ini adalah kisah persahabatan yang indah.

Tentu saya bersyukur tidak diberikan kekuatan seperti Risa, tapi saya menulis blog ini untuk mereka; Peter; Hans; Hendrik; William; Janshen; Sarah; Jane; Asih; Samantha; dan lainnya. Juga untuk ‘mereka’ yang lain.

Dalam kisah ini, ada satu yang menarik perhatian saya – untuk memiliki kepribadian tangguh sepertinya, adalah William. Si pendiam yang tak banyak bicara. Berikut adalah bagian – seperti di bagian buku ini – saat Risa menjelaskan apa yang ia pelajari dari ‘teman’-nya itu,

Aku harus mengakui bahwa diriku masih belum banyak tahu tentang hidup ini, belajar banyak hal penting dari sahabat-sahabat hantuku. William lah guru yang paling berjasa. Walau tak banyak bicara, tapi kedewasaannya di umur belia, begitu kukagumi. Kepalanya lebih banyak berbicara dibanding mulutnya. Aku tak mengerti bagaimana anak sekecil Will bisa sangat pintar dalam menyikapi banyak hal, yang biasanya membuat teman-temannya merasa kebingungan.

Tempaan selama hidupnya, ternyata berhasil membuatnya bermetamorfosis menjadi seorang anak laki-laki cerdas dan bijaksana. Yang aku tahu, anak-anak orang kaya sepertinya akan berakhir menjadi anak yang manja dan menyebalkan. Tapi tidak dengannya. Dia berusaha menyingkirkan predikat itu, dan menjadi panutan di antara sahabat-sahabatnya yang lain. Wajahnya tak pernah menyiratkan kesan sedih. Selalu dingin dan berkharisma. Dia tak pernah bersikap berlebihan. Porsinya selalu pas, membuat yang lainnya merasa malu jika bersikap terlalu jahat, terlalu marah, terlalu senang, atau terlalu sedih. Terbersit dalam pikiranku, seandainya kelak aku memiliki suami saat ku dewasa, aku ingin yang seperti William. Oh, senangnya.

Will, semoga si penulis blog ini juga memiliki kebijaksanaan sepertimu.

E-lite, Noura, Lelaki Bernama Ove

E-lite: “Istilah E-lite lahir karena kami, penerbit, ingin menyajikan ebook dengan format bacaan yang ringkas sepanjang 5000 – 30.000 kata dengan harga yang murah. Dalam interval waktu yang singkat, pembaca dapat mengisi kekosongan dengan bacaan yang ringan, memanfaatkan sedikit waktu di antara sisa jam-jam meeting, dalam perjalanan pelaju antara rumah – kantor, saat mengantri atau saat menjelang tidur. Dengan rata-rata waktu 10 menit, satu konten dapat dihabiskan sekali jalan, dari satu titik ke titik. Seorang pengguna akan menamatkan satu cerpen ketika sedang dalam kereta, menghabiskan satu bab ketika menunggu di halte bus menamatkan sebuah ebook ketika mencapai kantor. Semua dapat dikonsumsi on the move.”

Ini penjelasan mengenai E-Lite, oleh Noura. Di Play Books, E-Lite berjudul, ‘Lelaki Bernama Ove #1’ oleh Fredrik Backman bisa diunduh dan dibaca gratis, sementara seri-seri selanjutnya dihargai tak lebih dari Rp. 10.000. Seperti penjelasan di awal sih, E-Lite ini bacaan ringan untuk mengisi kekosongan saja.

Kutipan dari ‘Lelaki Bernama Ove #1:

“Ove bukan jenis orang yang suka berbasa-basi. Dia menyadari, setidaknya belakangan ini, bahwa itu cacat karakter yang serius. Kini, seseorang harus bisa mengoceh mengenai hampir segalanya dengan orangtua mana pun yang kebetulan berada dalam jangkauan lengannya, hanya karena itu sikap yang manis. Ove tidak tahu cara melakukan hal itu. Barangkali itu gara-gara caranya dibesarkan. Mungkin generasinya tidak pernah disiapkan secara memadai untuk dunia yang orang-orangnya bicara mengenai hal-hal yang mereka lakukan, walaupun tampaknya hal-hal itu tidak lagi patut untuk dilakukan.”

Dan ini, kutipan dari awal-awal yang membuat saya tertarik:

“Tapi, aku harus punya keyboard. Kau mengerti, kan?”

Pemuda itu mendesah panjang, seakan menghitung sampai sepuluh dengan sabar.

“Oke. Saya mengerti. Kalau begitu, saya rasa Anda jangan memilih komputer ini. Saya rasa Anda harus membeli sesuatu yang seperti Macbook saja.”

“Macbook?” tanya Ove dengan sangat tidak yakin. “Apakah itu salah satu eReader hebat yang dibicarakan semua orang?”

“Bukan. Macbook adalah.. adalah.. laptop, dengan keyboard.”

Mematikan ponsel dan menghilang dari peredaran

Mematikan ponsel dan menghilang dari peredaran. Dua hal itu sekarang jadi kebiasaan baru Gita. Begitu sampai di rumah, dia segera mematikan ponsel, memasak nasi, menggoreng nugget dan sosis yang ditemukan di dalam kulkas, kemudian makan, mandi, lalu belajar di dalam kamarnya. Gita memilih belajar matematika lebih dulu, baru kemudian dilanjutkan ekonomi dan terakhir bahasa Indonesia.

Ketika langit perlahan berubah gelap dan tidak ada suara berisik di kompleks rumahnya, Gita masih belajar matematika. Tadi dia sempat berhenti belajar, dan membuka buku cetak ekonomi untuk meringkas poin-poin penting materi yang akan masuk ulangan besok.

Sempat juga Gita membuka catatan bahasa Indonesia dan membaca sekilas, tapi ujung-ujungnya momok matematika itu mencekiknya. Tak terhitung sudah berapa kali perut Gita protes minta diberi jatah untuk makan malam. Cewek itu tidak menggubris lantaran bertekad ingin menaklukkan sepuluh soal di buku cetak matematika. Posisi kuis matematika sama saja porsinya dengan ulangan. Bedanya, nilai kuis ini bisa menjadi tambahan kalau nilai UTS-nya nanti hancur.

Ini kutipan dari teenlit yang ditulis oleh Pricillia A.W., ‘Zero Class #2: Revelation’ terbitan Gramedia.

Konsumen makna dalam pemahaman baru Cultural Studies

Dalam hal gosip, para penggosip adalah konsumen makna dalam pemahaman baru Cultural Studies, yakni lagi-lagi konsumen aktif yang bertiwikrama menjadi produsen makna. Alih-alih buang waktu, gosip justru merupakan sarana pemberdayaan sikap kritis. Jadi, jika Anda ‘menghina’ infotainmen, sebetulnya Anda adalah bagian dari pemirsa atau konsumen aktif pula, tetapi yang secara total beroposisi. Untuk berada dalam posisi ini, Anda tak harus seorang intelektual pendiri LSM, karena ketiga posisi hipotesis tersebut merupakan alternatif pada kelompok masyarakat yang mana pun. Ibu-ibu berdaster di gang kampung yang bergunjing sambil mencuci baju di tepi comberan misalnya, jika beradu opini tentang wacana perselingkuhan atau kesetiaan para pesohor, tidak akan 100% mengutuk atau memuja, melainkan juga terbagi dalam tiga hipotesis tersebut.

Maka semakin hiruk pikuk suatu gosip, semakin terhangatkan wacana kritis terhadap gosip tersebut, karena kelompok yang paling terdominasi sekalipun tidak akan terhibur tanpa sikap kritis. Dalam ekonomi budaya, seseorang memirsa suatu acara melalui tiga kriteria: (1) apakah ia mendapatkan kenikmatan atau tidak, dan (2) hanyalah yang bermakna baginya akan memberi kenikmatan, sesuai dengan (3) kebutuhan politik identitas sosialnya. Begitulah, dalam dua ekonomi televisi, finansial dan kultural, urusan duit dan makna yang sungguh berbeda itu berhubungan secara simultan: yang laris manis maupun yang keok, yang ratingnya rendah maupun tinggi, terhubungkan dengan nasibnya dalam perjuangan ideologis pada proses hegemoni tadi.

Ini dari Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya ‘Tiada Ojek di Paris’ bab ‘Keberdayaan Gosip’.