Grup Whatsapp Keluarga 

Keuntungan lain yang kuraih dari grup WhatsApp keluarga: aku jadi lebih pintar. Sungguh, lho! Kalau bukan karena grup WhatsApp keluarga, belum tentu aku tahu bahwa Luwak White Coffee mengandung babi. Haram! Sumber pasti valid karena ada dotcom-nya. Itu berarti dari situs berita, kan? Aku juga jadi tahu bahwa ada tanaman berbakteri yang diimpor langsung dari Cina; komunisme akan segera bangkit lagi; dan bumi itu datar. Yang terakhir ini sungguh revolusioner. Ternyata selama ini kita capek-capek sekolah hanya untuk dibohongi oleh guru IPA.

Belum lagi kalau ada yang berulang tahun. Wahai, grup ramai sekali dengan ucapan selamat! Baterai ponselku kadang sampai ngedrop. Tapi tidak mengapa, itu semua adalah ekspresi rasa sayang dan peduli yang teramat besar. Mengirim chat personal atau menelepon langsung? Ah, itu sudah ketinggalan zaman. Grup WhatsApp keluarga juga membuatku tidak pernah merasa kesepian. Pagi, siang, malam, selalu saja ada yang menyapa, sambil mengirimi kata-kata penuh semangat, foto-foto pemandangan alam yang mempesona, dan video-video lucu yang mengundang tawa. Ya Allah, indahnya berbagi.

Catatan tersebut, didapat dari main-main di blognya Andina Dwifatma, ‘Indahnya Grup Whatsapp Keluarga‘. Saya iseng mengetik namanya di Yahoo lalu menemukan blog pribadinya. Catatannya lucu dan usil. Dalam beberapa waktu ke depan bukunya yang rilis pada 2013, ‘Semusim, dan Semusim Lagi’ akan saya baca. Tidak sabaran.

Advertisements

Tipikal skenario pria lebih tua – wanita muda

Selain penggunaan perhiasan emas yang berlebihan, ia tampak cukup terhormat, seorang pria lajang berusia tujuh puluh tahun yang ada di kota. Terhormat, tetapi juga – tua bangka.

Terutama saat ia berdiri di samping pendampingnya. Wanita itu mungkin seusiaku, setidaknya separo umur si pria. Ia memakai gaun lilit yang memamerkan payudaranya yang mengesankan dan kakinya yang panjang. Ia memakai sepatu tumit tinggi. Rambutnya pirang – warna cat yang sangat mahal. Ada sesuatu yang berkilauan di tenggorokannya. Hadiah dari Si Tua Bangka?

Keduanya tidak seperti gambar karikatur. Namun demikian, Si Tua Bangka meletakkan tangan di bahu Nona Muda. Bahkan dari jarak jauh, aku bisa melihat kerutan dan bintik-bintik cokelat di tangan Si Tua Bangka. Nona Muda memiringkan kepala dan tersenyum kepadanya, gerakan yang sudah dilatih.

Bab tiga puluh tujuh, novel “Living Single” – Holly Chamberlin.

Update: chapter nine – the dimensions of conflict

I think, all of international relations student should read “The Conflict Resolution Toolbox” by Gary T. Furlong. Myself and two colleagues, taught by lecturer to describe chapter nine of the book, the dimension of conflict. We dare to use three dimension; cognitive; emotional; and behavioural to the current issue, that is as you might follow the news, U.S. plan to move its embassy from Tel Aviv to Jerusalem, we also including some other countries views from that three dimensions. Its alot of explanation – and discussion – in our paper, it was our exams project, so we should give our best.

*

Xi Jinping’s bookshelf 2017

This is from Shanghaiist,

According to netizens who loyally scour his bookcase every year, Xi is heavy into Marxist-Leninist writings at the moment, placing The Communist Manifesto and Das Kapital within easy reach of his desk. He’s also reading selected works of Mao Zedong, Deng Xiaoping, Jiang Zemin and Hu Jintao, as well as selected works of Diderot and Rousseau.

Xi’s collection of Western classics has grown substantially to include many of his favorites: Homer’s The Odyssey, The Divine Comedy, War and Peace, Madam Bovary, Les Miserables, The Old Man and the Sea, The Lady of the Camellias by Alexandre Dumas, Balzac’s short stories, Dead Souls and The Government Inspector by Nikolai Gogol, Home of the Gentry by Ivan Turgenev, Ninety-Three by Victor Hugo, Jean-Christophe by Romain Rolland, Eugene Onegin by Alexander Pushkin, and The Chameleon by Anton Chekhov.

Unsurprisingly, considering his tightening grip on the military, his shelves include tomes on the history of the PLA, ancient writings on military strategy, and a Chinese military encyclopedia. He also has multiple Chinese history textbooks, where netizens speculate he gathers many of the historical allusions he loves to drop in his speeches.

He is reading texts on understanding AI, AR, algorithms, and machine learning, including The Master Algorithm by Pedro Domingos and Augmented by Brett King.

His economics reading includes textbooks on ecological economics, Rostow’s stages of economic growth, Money Changes Everything by William N Goetzmann, and The Grey Rhino by Michele Wucker.

As a president of soon-to-be biggest country in the world, Xi Jinping is basically tell his citizens that he is an intelligent technocrat and have well informed informations. I am curious at Joko Widodo’s reading list last year.

Sedikit curhat gagal presentasi dan Cinta Dalam Gelas

Kemarin, saya mengerjakan makalah ini, lagi-lagi judulnya prestisius: Pancasila [Mungkin] Produk Ramuan Globalisasi. Pikiran utamanya, karena sila-sila dalam Pancasila, menurut saya, tidak seutuhnya digali dari dalam nilai-nilai murni atau pola dan prinsip kehidupan bangsa Indonesia. Jangan minta saya memberikan passwordnya di sini, karena seharusnya saya presentasi makalah itu hari ini, dan ternyata dosen pembimbing mengumumkan kelas diliburkan. Artinya hanya satu, sia-sia saya begadang mempersiapkan materinya hingga jam subuh baru berangkat tidur. Padahal kelas dimulai pukul 07.30 am.

***

Dan saya sedang membaca novel lain Andrea Hirata, “Cinta dalam Gelas”.

“Sering kulamunkan, bagaimana aku, seorang anak Melayu udik dari keluarga Islam puritan, bisa jatuh cinta pada perempuan Tionghoa dari keluarga Khonghucu sejati itu. Ia tentu memiliki semua hak untuk menempatkan dirinya dalam pikiran yang sama sepertiku barusan. Namun, Kawan, seandainya kita bisa tahu dengan siapa kita akan berjumpa lantas jatuh cinta seperti tak ada lagi hari esok, maka beruk bisa melamar pekerjaan menjadi ajudan bupati.”

Pada bagian akhir-akhir novel ini, ada paragraf seperti ini.

Orang Melayu, meskipun tidak modern, paham benar kopi sebagai social drink. Maka, bagi kami, jika ada orang yang minum kopi untuk mengatasi rasa haus, ijazahnya harus diterawang di bawah sinar matahari. Besar kemungkinan ia telah menggelapkan wesel dari ibunya. Dikirimi duit untuk kuliah tapi dipakainya berleha-leha saja di Jogja. Ijazah-ijazahnya pasti palsu.

Kopi mengatasi rasa haus dalam bentuk yang lain. Haus ingin bicara, haus ingin mendengar, dan ingin didengar. Karena itu, orang Melayu menyeduh kopi selalu dengan air mendidih. Adakalanya, air itu masih bergolak di dalam gelas, persis seperti tadi meluap dalam panci. Tujuannya agar obrolan menjadi lama. Lantaran diperlukan waktu yang tak sebentar sampai kopi itu mencapai tingkat hangat yang wajar untuk diminum. Pernah seorang Belanda datang yang tak paham hal itu bertandang ke seorang Melayu. Dihidangkan kopi, dia main serobot saja. Lidahnya melepuh. Ia melolong-lolong: hot hot hot hot hot. Konon ia sampai dilarikan ke rumah sakit.

***

Update: Zyrex Sky 232 nampaknya satu-satunya laptop yang affordable untuk saya beli bulan-bulan ini. Saya [hanya] melihat-lihat harga Macbook di beberapa situs online shopping dan blog Adinoto, ternyata terlalu jauh harganya. Di lain soal, teman-teman kampus saya mulai menua dan serius, seiring semester makin menua dan kebutuhan makin meningkat, beberapa di antaranya telah melamar menjadi driver Go-jek. Rasa-rasanya, menjadi dewasa tidak menyenangkan.

Imigran dari Surga

Peristiwa ini juga sama dengan peristiwa yang disebut Banjir dalam tradisi-tradisi universal. Bencana yang disangsikan di sini merendam sumber-sumber makanan Atlantis (Dataran Agung) dan menyebabkan eksodus massal semua bangsa yang di kemudian hari membangun peradaban-peradaban besar di zaman purba: bangsa Indian – Amerika, Mesir, Yunani, Minoan, Mesopotamia, Misenia, Kebudayaan Lembah Sungai Indus, dan lain sebagainya.

Yang termasuk ke dalam kaum imigran awal ini adalah bangsa Yahudi, bangsa Funisia, bangsa Arya, bahkan bangsa Indian Amerika, semuanya terusir dari tanah leluhur mereka di Indonesia dan Asia Tenggara. Pada awalnya, kaum migran ini berusaha menetap di India dan Asia Tenggara. Sayangnya, mereka pada akhirnya terusir oleh penduduk lokal, didesak untuk pindah ke Cina dan Mongolia, dan akhirnya ke tempat-tempat yang sekarang ini mereka tinggali.

Migrasi massal seperti itu, sama dengan migrasi yang diceritakan di Injil (Kitab Keluaran) dan kitab-kitab suci serupa dari berbagai bangsa di mana pun. Mereka adalah legenda-legenda yang berhubungan dengan pahlawan-pahlawan mitis seperti Aeneas yang memimpin bangsa Romawi, Herkules yang memimpin sekawanan ‘gembalaan’ Yunani-nya, Inca yang memimpin orang-orangnya, dan sebagainya.

Legenda-legenda tersebut juga berkenaan dengan kisah diusirnya Adam dari Surga, kedatangan Quetzalcoatl di Meksiko, Viracocha dan kedatangan bangsa Inca ke Peru, bangsa Fomoria dan Tuatha De Danaan yang menyerbu Inggris, dan sebagainya. Legenda-legenda ini biasanya menyamarkan fakta-fakta sejarah di selubung kiasan yang dimaksutkan untuk membingungkan orang-orang awam yang tak dikehendaki untuk tahu.

Atlantis, The Lost Continent Finally Found. Halaman 153 – 154.

Agama: diturunkan atau diciptakan

Masih dalam seri lanjutan kutipan buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found. Karena riset yang dilakukan Prof. Santos panjang dan melalui berbagai disiplin ilmu, rujukan naskah kuno bahkan kitab suci.

Halaman 126 – 127.

Gunung Atlas adalah Gunung Suci surga yang dilambangkan dengan Piramida Besar. Mayat Osiris, yang berbaring di dalam Gunung Suci, melambangkan mayat Atlantis yang sudah mati, atau mungkin banyaknya kematian di Atlantis, terkubur oleh ledakan dahsyat Gunung Suci Atlas, yaitu Gunung Krakatau.

Begitu juga Wisnu yang berbaring di atas gulungan tubuh Ular Sesha ataupun Tlaloc, Atlas versi bangsa Aztec yang dianggap sebagai dewa kematian Atlantis. Di mana pun, hal semacam ini sebenarnya merupakan simbolisme piramida. ‘Tidur’ merupakan ungkapan halus bagi ‘kematian’. Tetapi, ungkapan tersebut juga mengekspresikan harapan atau kepastian bahwa Surga tersebut pada saatnya akan hidup kembali bersama mereka yang sudah mati.

Sampai sejauh ini, 127 halaman buku ini pelan-pelan saya serap dan pahami. Membaca buku ini, mengingatkan kita bahwa saat ini kita telah hidup di surga itu sendiri. Karena Indonesia, merupakan Atlantis yang disebutkan Plato. Tanah surga. Tempat para dewa-dewa. Buku ini juga semakin menguatkan keyakinan yang sampai saat ini saya pahami, agama adalah karya manusia tidak diturunkan dari langit.