Untung ada penerbit rumahan – bukan murahan

Warning: “Bagaimana suka dan dukanya punya penerbit sendiri?”

Yusi Avianto Pareanom: “Kendali baik soal konten atau keputusan bisnisnya memang lebih besar, tapi tenaga yang dikeluarkan juga jauh lebih besar dan kadang-kadang gemas sendiri. Seringkali aku berharap punya dana lebih untuk menerbitkan buku lebih banyak. Dan kadang-kadang—bukan kadang sih, selalu—umur buku di toko buku mainstream itu terlalu pendek. Ada buku-buku yang terlambat panas menurutku yang sebenarnya menarik untuk dibaca, tapi udah keburu hilang dari rak. Untungnya sekarang selain ada penerbit rumahan—bukan murahan lho—ada juga teman-teman yang membantu jualan lewat toko buku komunitas atau toko buku online. Menurutku itu sangat membantu dan bisa jadi simbiosis mutualisme.” [Link]

Advertisements

Ngudarasa penerbit indie

Ini dari Wijaya Kusuma Eka Putra yang ngudarasa tentang penerbit indie:

Jika ada anggapan penerbit indie Jogja jago bikin buku, sebenarnya enggak juga. Bukunya memang ‘keren-keren’ kalau dibahas di warung kopi, tapi di pasar bebas, ternyata keren saja tidak cukup.

Gerakan memang sat set. Malam diskusi, besoknya buku jadi.

Masalah cuap-cuap distribusi tidak khawatir. Medsos musti ramai dan berisik. Gempur terus. Jumlah pemesan harus berbanding lurus dengan jempol yang nyangkut.

Jual seratus eksemplar, megap-megap minta ampun. Jangan kira teman tujuh ribu di Facebook itu jadi jaminan buku lima ratus ludes.

Grup reseller? Tidak menjamin juga. Untuk buku tertentu, jelas jadi rebutan. Tinggal diam kayak bagi sembako. Kamu segini, kamu segitu. Giliran judul ‘tidak menjual’ ditawarkan, satu per satu tiba-tiba meninggalkan grup. Alasannya sederhana: kepencet. [Link]

 

Selama toko buku ada, selama itu pula pustaka bisa dibentuk kembali

“Madilog” yang saya baca belum sampai halaman 20. Karena dua hal; UTS dan lebih sering menghabiskan waktu di Youtube menonton dokumenter dan video-video musik. Ya, internet merupakan distraksi mutakhir pembaca buku jaman kini.

Ini di halaman 11 “Madilog”, tentang Malaka yang pembaca buku berat.

Pada perang Jepang – Tiongkok di Shanghai penghabisan tahun 1937, tiga hari lamanya saya terkepung di belakang jalan bernama “North Su Chuan Road’’, tepat di tempat peperangan pertama meletus. Dari North Su Chuan Road tadi Jepang menembak kearah Pao Shan Road dan tentara Tiongkok dari sebaliknya. Di antaranya di kampung Wang Pan Cho saya dengan pustaka saya terpaku. Sesudah dua atau tiga hari tentara Jepang memberi izin kepada kampung tempat saya tinggal berpindah rumah, pergi ke tempat yang lebih aman dalam waktu 5 menit saja. Saya turut pindah tergopoh-gopoh. Tentulah pustaka saya mesti tinggal. Ketika saya kunjungi rumah saya sesudah habis perang yakni sesudah sebulan lamanya, maka sehelai kertaspun tak ada yang tinggal. Begitulah rapinya “lalilong’’ alias tukang copet bekerja. Hal ini tidak membikin saya putus asa. Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.

Sampai saya ditangkap di Hongkong pada 10-10-1932, saya sudah punya satu peti pula. Sesudah dua bulan di dalam penjara, saya dilepaskan buat dipermainkan seperti kucing mempermainkan tikus. Maka dekat Amoy, saya bisa melepaskan diri. Tetapi dengan melepaskan pustaka saya sendiri. Pustaka saya, tanpa saya, berlayar menuju ke Foechow. Saya terlepas dari bahaya, tetapi juga terlepas dari pustaka. Saya berhasil menyamar masuk ke Amoy dan terus ke daerah dalam Hok Kian tiga empat-tahun lamanya, terputus dengan dunia luar sama sekali, beristirahat, berobat sampai sembuh sama sekali.

28 Hari Untuk Selamanya

Saya baru baca ini, telat sekali nampaknya. Sayang tidak bisa diunduh untuk disimpan. Scribd tidak seperti Academia, harus jadi pengguna premium. Tapi, salah satu yang menyenangkan adalah, saya akhirnya bisa membaca “Madilog” yang ditulis Tan Malaka. Waktu ke Gramedia, buku ini masih banyak sekali dan terlihat angker dengan cover merahnya. Harganya yang membuat angker kuadrat. “Madilog” yang saya pinjam saja dari seorang teman, yang baik hati. Buku ini akan jadi bacaan tiga, empat, atau bahkan satu bulan ke depan.

Gratisan kok dihargai

Saya ingat betul. Masa SMA, kalau kehabisan uang untuk jajan, saya ke perpustakaan tidak untuk membaca buku, tapi untuk mencari gratisan akses internet yang disediakan perpustakaan. Walau harus rebutan. Masa-masa itu, saya sudah mengenal blog, satu blog yang saya ikuti milik Pandji Pragiwaksono. Dulu-dulu, saya baca e-book yang ditulis Pandji, ada beberapa. Malam ini, saat kembali menyusuri blog Pandji, ternyata file ebooknya masih ada: “Menghargai Gratisan“.

Seorang teman kerja datang dan berkata… “Eh, Dji. Bawa album Lo, gak?”

Secara refleks saya menjawab “Bawa”. Karena memang saya biasanya selalu bawa beberapa keping album saya di tas. Kemudian, bagaikan refleks juga, teman kerja saya yang sudah berteman selama lebih dari tujuh tahun berkata, “minta dong”.

Tidak kalah cepat, refleks saya bereaksi, “bayar dong!”

Lebih cepat dari reaksi dia sebelumnya, alisnya terangkat dan matanya terbelalak, “pelit amat, Lo!”

Okay, Pause.

Pause dulu sebentar.

Ini adalah teman saya selama tujuh tahun, dia tau saya bikin album dengan uang saya sendiri, saya berkarya, bukan sekedar bikin asal-asalan. Saya mencipta dan menuangkan seluruh yang saya punya dalam karya itu. Dia tau saya begadang bermalam malam. Dia tau keringat yang menetes untuk semua itu. Dia tau semua. Ketika dia sudah tau semua hal tadi lalu dia minta? Lalu saya yang dibilang pelit?

Pindah kuadran, Rich Dad Poor Dad

Saat ayah dan ibu saya mengetahui bahwa saya ingin memasuki dunia bisnis bukan karyawan bergaji tinggi atau tenaga profesional, mereka kecewa terhadap saya. Saya menentang nilai mereka. Bagaimanapun, ayah saya adalah guru sekolah yang berdedikasi dan ibu saya adalah seorang perawat. Mereka bahkan secara sukarela bergabung dengan Korps Perdamaian Presiden Kennedy selama beberapa tahun. Mereka adalah orang-orang yang sangat, sangat baik, dan memperoleh banyak kesadaran sosial dan moral dari mereka. Itulah sebabnya, ketika mereka mengatahui bahwa saya ingin memiliki tangga perusahaan bukan memanjat tangga perusahaan, mereka menjadi tidak senang. Mereka pikir saya telah menjadi ‘anggota sisi yang lain’.. dan sudah. Saya memutuskan untuk bekerja dari sisi B dan I dari kuadran itu, bukannya kuadran E dan S. Saya masih memiliki kesadaran sosial dan moral yang mereka tanamkan dalam hati saya, tetapi mereka tidak dapat melihatnya dengan cara itu. Continue reading

Kesan di buku ‘One Second After’ terjemahan

John meluncur menuruni tanggul dan ke luar ke jalan. Dia menoleh ke belakang. Brett tak mungkin terlihat. Begitu banyak mahasiswa di sini berasal dari kota-kota kecil, dan lebih banyak pemburu, atau Pramuka atau hanya jenis penikmat aktivitas di luar ruangan. Tentu saja mereka akan belajar dan sangat tangkas. Para pengungsi bergerak di sepanjang sisi yang lain, barisan yang terentang panjang. Continue reading