ACC, Pak

Interaksi keduanya terasa menggemaskan dan penuh ke-uwu-an tiada tara sampai aku pusing ngga kuat. Di balik sikapnya yang jutek, Pak Danial ternyata suka melempar kode cinta. Sedangkan, Olivia yang menjadi incarannya malah tidak peka. Konflik novel ini berkisar Olivia yang kesulitan mendapatkan acc skripsi dan masalah hatinya dengan Pak Danial. Jadi, bisa dibilang konfliknya cenderung ringan, tapi berisi. Pada puncak konfliknya berhasil diceritakan dengan baik dan bikin deg-degan pas baca. Kekurangan novel ini adalah peran Pak Aria sedikit kurang menonjol, padahal sebagai dosen pembimbing at least punya pengaruh yang lebih besar. Sifatnya Pak Danial digambarkan cukup posesif, tukang ngatur, dan ehm toxic masculinity-nya tinggi. Maksudku, masa’ pergi ke kondangan nggak boleh pakai make up? Kemudian, di kalimat penutup di bab awal terasa nggak pas, menggantung, jadi agak jumpy gitu. Namun, di pertengahan sampai akhir bab sudah membaik. Secara keseluruhan, Acc, Pak! bisa menjadi bahan bacaan yang ringan, menarik, dan enak untuk diikuti.

Ini review buku dari salah satu kawan kutu buku, baca utuh di sini.

Pahlawan tidak kelihatan

Namun, dalam sebuah tim sepakbola, kerap ada “unsung heroes”. Para pahlawan yang luput dari perhatian orang banyak. Bagi Barcelona, orang tersebut adalah Sergio Busquets. Sebagaimana sering ditekankan oleh penulis sepakbola favorit saya Pangeran Siahaan, Sergio Busquets adalah salah satu elemen krusial dari keseluruhan ritme tim Barcelona. Hanya karena nyaris tidak pernah melakukan aksi spektakuler saat menggocek atau mencetak gol, banyak yang tidak menyadari pentingnya Busquets.

Barisan penyerang Barca bisa beraksi dengan tenang, karena Busquets berada di belakang mereka. Siap untuk menjadi penghadang yang cerdik dan siap mengantisipasi serangan lawan. Bagi Busquets, yang penting bukan tampil atraktif, tapi efektif. Tackling dan distribusi bola ke barisan depan jauh lebih penting dibandingkan mencetak assist atau gol. Singkat kata, bagi timnya, Busquets adalah penyeimbang.

Dan dalam “tim” rumah tangga kami, istri saya adalah Sergio Busquets. Ia adalah penyeimbang. Saya boleh jadi bagaikan Lionel Messi, menciptakan peluang dan mencetak “gol”. Tapi tanpa jangkar yang menjaga keseimbangan kapal, rasanya hal itu tidak mungkin.

My wife Meira Anastasia is the “unsung hero” in my career. She’s the steel in the walls. She’s the glue that holds everything together, so that I don’t crumble. Dan persis seperti Busquets, tidak banyak orang yang bisa paham, betapa penting peranannya dalam “tim” kami.

Kadang saya bisa balik ke blog orang karena ada catatan yang ditulisnya mengena di kepala saya. Salah satunya catatan Ernest Prakasa di blognya ini, “Istri Saya = Sergio Busquets“. Baca penuh klik link tersedia. Catatannya begitu masuk, menyerap di kepala saya.

Gak papa deh pegang cash

Bulan yang cukup aneh. Saya, tidak pernah sedekat ini dengan hal-hal mistis. Cerita selanjutnya cukup disimpan dalam notes pribadi. Lalu apa yang perlu diceritakan?

Saya keluar dari Harum Energy dan Total Bangun Persada. Dua emiten ini keluar karena saya ‘restrukturisasi portfolio’. Praktis, saya hanya memegang tiga emiten saja sampai kini. Satu di batubara, yang mana BUMN, yah bisa ditebak nama emitennya ya. Satu di konsumer, rokok — meski saya bukan perokok. Satu di, saham gocap-an.

Seperti apa komposisi portfolionya? Saya pegang 55% cash. Saya menanti bila resesi datang. Yang diramal satu sampai dua tahun lagi. Posisi kas saya bukan yang diam saja tidak disuruh kerja, apalagi malah jadi konsumtif, saya niat beli emas, taruh di reksadana dan P2P lending. Jalan-jalan dan beli handphone baru juga sepertinya menarik.

Oh ya, ini blog saya aktifkan kembali. Kangen nulis yang acak-acak.

“Percuma gaya petantang-petenteng megang kopi Starbucks tiap hari..”

“….memakai setelan baju yang kinclong nan bling bling, tapi bayar kartu kreditnya selalu minimum setiap bulan.”

“Kita terjebak dalam kehidupan Rat Race, sibuk lembur, sibuk cari perhatian atasan, tapi tetep aja sibuk jadi karyawan gajian yang hidupnya ga akan pernah jauh dari cicilan, dan bila kita tidak bekerja, we are so deaad..”

“Makanya untuk bisa keluar dari lingkaran setan itu yang diperlukan adalah Financial Freedom!”

Well, bagaimana caranya meraih so called financial freedom? Yuvenz punya jawabannya.

Hallo, selamat lebaran semua

15 hari diprivate, blog ini mengudara kembali. Saya, masih berpuasa. Dengan baik. Berita hari ini, besok masih berpuasa. Kalau ukurannya hanya tahan lapar dan minum. Puasa saya banyak diterimanya. Karena puasanya ukurannya bukan cuma dua itu tadi, tapi juga menahan nafsu, tidak berpikiran kotor, tidak bohong. Masih banyak kurangnya.

Ibu Ani Yudhoyono telah berpulang ke Sang Pencipta. Indonesia berduka. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan. Tuhan punya rencana yang maha.

Ramadhan ini artinya baik buat saya. Porto saham pun demikian. Posisi saya yang pegang cukup banyak kas, bisa digunakan untuk membeli saham-saham yang terdiskon. Entah karena adagium ‘Sell in May and Go Away’, atau karena pasar saham sempat runtuh akibat kerusuhan 22 Mei kemarin. Atau juga karena neraca dagang Indonesia yang defisit. Yang jelas, porto pribadi merangkak naik. Tajam.

Ramadhan, seperti biasa, ada undangan untuk buka bersama. Pertama, saya buka bersama di taman kota bersama ‘yang diharapkan’. Kedua, bersama rekan di sekolah kejuruan. Dan terakhir, makan yang pedas-pedas bersama kawan-kawan SD. Bersama kawan kuliah dan SMP tidak diikuti. Jadwal padat.

Suasana libur lebaran. Saya mau mengucapkan: selamat liburan. Blog untuk sementara ditinggalkan. Sosial media pun harusnya demikian. Nikmati waktu bersama-sama sanak keluarga, saudara, orang-orang yang jarang ditemui. Balik ke kampung halaman. Mengingat masa kecil. Bertemu Ibu Bapak, Simbah, Paman, Bibi. Makan-makanan tradisionil.

Selamat libur lebaran untuk semua. Hati-hati di jalan kalau saat membaca posting ini sedang dalam perjalanan. Berkah untuk semua. Saya doakan yang baik-baik secara umum saja. Tambah rejeki. Tambah dewasa. Tambah ilmu. Tambah yang baik-baik.

Amin.