Link Cepat: 7

  1. Mimin Dwi Hartono, “Prospek Hak Asasi Manusia 2019“, Beritagar.
  2. Linda Christanty, “Suara Tuhan“, Indoprogress.
  3. Ardy Nurhadi Shufi, “Tak Ada Anak Emas, Semua Klub Liga 1 Adalah Korban“, Panditfootball.
  4. Astuti Parengkuh, “The Greatest Showman: Pertunjukkan Sirkus yang Melawan Kenormalan“, WordPress.
  5. Samuel Mulia, “Awal Tahun“, Kompas.
Advertisements

Link Cepat: 6

  1. Yandi Mohammad, “Perda Pariaman Ancam Denda Waria dan LGBT“, 2018, Beritagar.
  2. Putra Permata Tegar Idaman, “Jumpa Lagi dengan Arsenal yang pernah Kita Kenal“, CNN Indonesia.
  3. Jun Mahares, “Wartawan Harus Baik, PSSI Sehat?“, CNN Indonesia. Kutipan menariknya: “Singkatnya, kalau tak mau dikritik, tak usah menjabat di PSSI. Kalau tak mau bekerja maksimal, jangan duduk di kursi empuk PSSI.”
  4. Sarah Durn, “What ‘Twilight’ Taught Us About Sex and Virginity“, 2018, Bust.
  5. Daniel Darmawan, “Makin Ngawurnya Cara Fintech Menagih Utang Picu Gerakan #AksiGagalBayar“, Vice Indonesia.

 

Dua jam tiap hari – Dua buku dalam sepekan

Berkat iklan tentang membaca buku itu saya merasa seperti mengalami hidup baru. O, perlu dirayakan dengan secangkir kopi dan ucapan selamat kepada diri sendiri: Selamat menempuh hidup baru, ya!

Dua jam setiap hari. Dua buku dalam sepekan. Kalaupun hanya bisa satu buku, itu tidak buruk juga. Setidaknya tiap pekan pengetahuan saya bertambah.

Penting menambah pengetahuan tiap pekan sebab, sejauh ini, ia adalah harta paling berharga yang bisa saya miliki dengan mudah. Dan ia satu-satunya yang tidak bisa dirampas dari kita oleh siapa pun.

Anda bisa kehilangan uang, kehilangan jabatan, kehilangan tanah, kehilangan rumah, kehilangan teman, kehilangan saudara, tetapi anda tidak mungkin kehilangan pengetahuan, kecuali suatu hari anda kesurupan dan berubah menjadi kurang waras. Tetapi itu kasus langka. Secara umum, pengetahuan yang kita miliki akan abadi dan tetap menjadi milik kita selama kita hidup dan sehat.

Bagaimana Membaca Dua Buku dalam Sepekan“, oleh AS Laksana, di Beritagar.

Calon presiden pembohong atau presiden pembohong

Kedua, para pembenci tak ada matinya. Mereka hanya pingsan sementara waktu, atau linglung sesaat seperti orang kena setrum listrik, tetapi akan segera bangkit lagi untuk melakukan serangan balasan. Ketika Ratna Sarumpaet tidak mungkin mengelak lagi dan hanya bisa meminta maaf karena telah membuat cerita karangan, para pembenci kaget, tetapi hanya sebentar. Setelah itu mereka membuat gerakan salto dan mengeluarkan pernyataan heroik: “Lebih baik calon presiden yang dibohongi dibandingkan calon presiden pembohong.”

Menurut saya dua kualitas itu sama-sama buruk. Calon presiden yang gampang dibohongi, jika ia memenangi pemilihan, tentu akan menjadi sasaran empuk bagi para politisi berwatak Sengkuni. Sedangkan calon presiden pembohong sudah pasti tidak pantas dipilih. Seorang pembohong bahkan tidak pantas menjadi calon presiden, anggota DPR, maupun ketua karang taruna.

Karena itu frase “calon presiden pembohong” saya pikir adalah tuduhan serius yang perlu dipertanggungjawabkan oleh siapa pun yang menyampaikannya. Jika tidak, ia hanya akan menjadi pamflet berisi cerita horor—atau sekadar pameran perangai kekanak-kanakan yang diwujudkan antara lain dengan memproduksi lagu-lagu dengan lirik yang berselera rendah. Kreativitas terakhir yang menunjukkan perangai kekanak-kanakan mereka adalah mengganti lirik lagu anak-anak Potong Bebek Angsa dan menjadikannya sebuah provokasi.

Ini kutipan tulisan AS Laksana di rubrik ‘Telatah’ Beritagar, “Tiga Pelajaran dari Ratna Sarumpaet“.

We have to optimistic; as Anies Baswedan, as Sandiaga Uno

Today, we are headed to Jakarta: there is zero down payment home-ownership program by Governor Anies Baswedan and Vice Sandiaga Uno that soon to be unreal. Yosef Ardi covered it, but you can read freely even with good statistics in Beritagar. Anies Baswedan optimistically spoke to Detik will stick to the program cause the scheme is very clear to be happen. It’s not just campaign program. Yes, he has to optimistic cause he and Sandi creates the program.

According to their manifesto in Jakarta Maju Bersama  website, the program was meant to Jakartans whose income 7 million or 10 million a month and never been owning property before. But how many Jakartans with salary 7 million or above?

Kompas put down news and talked to several Jakartans with different jobs, the result: far to reality. Think more, basic standar income of Jakarta to workers average Rp. 3.350.000. 

Yet, we have to optimistic. As Anies Baswedan, as Sandiaga Uno. And his team.