Irul, Sarjana Kambing

Hari-hari lalu, SCTV menayangkan Sinema Wajah Indonesia, pagi-pagi sekali, judulnya, “Sarjana Kambing”. Kisahnya sederhana saja, tentang sarjana lulusan pertanian terbaik yang melawan stigma dari masyarakat, bahwa sarjana tidak harus ngantor, jadi pegawai pemerintah atau kantoran. Proses menulis skripsi saya tunda dua jam karena untuk menonton filmnya. Saya kira, “Sarjana Kambing” menjadi film yang baik untuk refleksi diri.

Di akhir kisah, Irul, sang sarjana kambing membangun sebuah website yang mempertemukan petani dengan pasar secara langsung, juga petani kepada ahli pertanian. Kisahnya berakhir bahagia. Sang ayah, yang pada awalnya memandang sinis terhadap anaknya menjadi bangga karena anaknya bermanfaat bagi kesejahteraan petani – masyarakat – di sekitarnya. Ya, film ini, memberi sudut pandang lain bahwa gelar sarjana yang diperoleh akan lebih bermanfaat bila digunakan untuk membawa masyarakat pedesaan, atau daerah yang kurang ‘pembangunannya’ sehingga ilmunya lebih bermanfaat dibanding bekerja di kota.

Marjin News punya artikel yang lebih detail dan panjang tentang film “Sarjana Kambing” ini, klik di sini untuk membacanya.

Advertisements

Di tahun 2017, pendapatan XL Axiata dari data sebesar 70%

Sedang membaca laporan tahunan XL Axiata tahun 2017, sedang mempertimbangkan beli sahamnya – karena sejak lama jadi pelanggan XL – meski kinerjanya cenderung menurun dari tahun ke tahun, tapi dari 2016 ke 2017 meningkat. Di halaman 50 laporan tertulis: “[ … ] hal ini mencerminkan keyakinan kami pada masa depan bisnis yang bertumpu pada data; saat ini pun data telah menyumbang lebih dari 70% pendapatan inti XL Axiata.”

Update 2:43 pm:

“Indonesia tengah memasuki era digital yang membuat terjadinya disruptif teknologi di berbagai bidang. Sejalan dengan itu, kebutuhan akan layanan data dengan kecepatan yang tinggi semakin menjadi kebutuhan di berbagai industri. Dengan perkembangan tersebut, dibutuhkan pengembangan infrastruktur layanan yang mampu mengakomodasi kebutuhan berbagai industri maupun individual.”

“Pembangunan serat optik melalui Palapa Ring adalah bagian dari upaya memperluas cakupan layanan hingga ke pelosok di seluruh Nusantara. Untuk mewujudkan visi tersebut, membutuhkan peran serta sektor swasta. Hal ini sejalan dengan agenda transformasi XL Axiata, yang bertujuan untuk memposisikan Perseroan di arena Data-led dan mengembangkan infrastruktur layanan data untuk meningkatkan kualitas dan cakupan jaringan data. Berdasarkan kondisi tersebut, usaha Perseroan memiliki prospek yang cerah dan menjanjikan.” – di halaman 149

TV streaming bagi pekerja konten dan intelektual kreatif

Ini kutipan menarik dari kolom Siasat Bisnis oleh Jennie M. Xue, “Televisi Streaming VS TV Kabel” di Kontan.

[ … ]Dengan kata lain, dunia per-televisi-an telah berubah dan kreasi serta distribusi konten akan semakin deras. Laju informasi akan semakin tidak terbendung dan perbedaan geografis bukan lagi merupakan penghalang distribusi.

Bagi para pekerja konten dan intelektual kreatif, TV streaming membuka panggung bisnis semakin luas dan dalam. Nyaris tidak ada lagi penghalang untuk berkarya, sepanjang ide cukup jenial untuk diwujudkan dan dikonsumsi secara global.

Walaupun konten adalah raja dan distribusi merupakan perdana menteri, pekerja konten adalah pewujudan segala macam ide. Kombinasi antara teknologi dengan skill kreatif dan intelektual merupakan kunci sukses abad ini, sepanjang AI dan UX mendapatkan porsi yang cukup memadai.

Panjang umur, Pak Dahlan Iskan!

Ini tulisan dari Dahlan Iskan, saat ia kehilangan obat penyambung hidupnya di Amerika. Entah bagaimana, tulisan ini lucu sekali.

Obat saya hilang. Di Amerika. Sebagian. Entah tercecer di mana. Padahal obat itu penyangga nyawa saya.

Memang, apa pun gampang hilang bersama saya: buku, jaket, topi, sepatu, bahkan jabatan.

Itu ada baiknya: bisa selalu belajar mengikhlaskan apa saja. Tidak mudah sakit hati. Tapi, dalam hal obat ini saya harus cari gantinya.

[…]

Begitu mahal obat untuk lever itu. Itulah sebabnya enam tahun lalu saya minta ini: Kimia Farma harus bisa memproduksi entecavir yang harganya terjangkau.

Mumpung saya punya jabatan saat itu.

Terlalu banyak penderita liver di Indonesia. Tidak mungkin mampu membeli obat Rp 8 juta sebulan.

Alhamdulillah. Kimia Farma berhasil. Nama obatnya: Heplav. Harganya: Rp 200 ribu/30 butir.

Lesson learned: kalau ke Amerika bawalah obat yang cukup. Resepnya saja Rp 1,4 juta. Belum mondar-mandirnya. Seandainya sewa mobil: dua juta sendiri lagi.

Jangan bodoh seperti saya. Yang mudah kehilangan apa saja.

Baca utuh klik di sini.

Jangan sampai menepuk air di dulang terpercik muka sendiri

Pak Prabowo, tidak diragukan lagi, adalah bagian dari segelintir orang yang menguasai tanah di republik tercinta ini. Dia punya ratusan ribu hektar konsesi di Kalimantan Timur. Dia juga punya puluhan ribu hektar konsesi kebun sawit di Sumatera Barat. Jangan lupa bahwa Pak Prabowo juga pernah menguasai puluhan ribu hektar konsesi batubara di Kalimantan Timur.

Bagaimana dengan Sandiaga?

Sebagai pemegang saham terbesar kedua di Saratoga Investama [SRTG], tidak sulit untuk mengatakan Saratoga adalah salah satu dari sedikit kelompok usaha di republik ini yang menguasai lahan secara tidak langsung lebih dari ratusan ribu hektar. Buktinya apa? Ya, coba saja periksa laporan tahunan Saratoga. Ini perusahaan publik yang memiliki saham di Adaro Energy [ADRO], Provident Agro [PALM], Merdeka Copper & Gold, Wetar Copper Project, Sumatra Copper & Gold, Sihayo Gold, dan seterusnya.

Lebih lanjut baca lewat link berikut.

I’d always dream of getting a college degree, but I got married right after high school

View this post on Instagram

“I’d always dreamed of getting a college degree, but I got married right after high school. We started having children right away, so it wasn’t easy to convince my husband to let me study. The one time I tried to mention it, he immediately said ‘no.’ But a few years later we were in the passport office and I saw an advertisement for a university. I pulled on his sleeve, pointed at the sign, and said: ‘Lets take a look. It’s only a look.’ That very same day I enrolled in classes. Each night I’d wait until 2 AM, after everyone’s demands had been answered, and the whole house was asleep. Then I’d begin my studying. I’d work until morning, wake the children up, and prepare them for school. Only then could I rest. It was exhausting but I was so happy. It felt like I’d gone back in time and my kids were my siblings. During my third year I was pregnant again, and I was terrified that I’d go into labor during my final exams. But I got my diploma. It was the happiest day of my life. My husband was thrilled for me. Everything is different now. I understand the world. I used to be afraid to leave the house. But now I feel powerful. And it shows.” (Cairo, Egypt)

A post shared by Humans of New York (@humansofny) on