Realitas masyarakat terfragmentasi dan demokrasi

Lalu, haruskah kita menyalahkan demokrasi? Haruskah kita meninjau ulang sistem pemilihan yang kita lakukan? Para sarjana sudah cukup lama memperdebatkan hal ini. Demokrasi punya cacat bawaan yang sampai kini sulit diperbaiki. Sejak jaman filsuf Yunani kuno, cacat bawaan itu sudah dideteksi. Realitas masyarakat yang terfragmentasi dalam kaya-miskin, pandai-bodoh, kuat-lemah, menjadi pangkal kelemahan demokrasi. Menurut Plato, demokrasi menjadi alat kaum tiran yang kaya, pintar dan kuat, untuk memobilisasi massa yang miskin, bodoh dan lemah.

Dari zaman ke zaman, realitas masyarakat itu tidak banyak berubah. Kalaupun ada perubahan dalam peningkatan jumlah masyarakat terdidik, persentase masyarakat yang sadar politik dan yang tidak, jumlahnya kurang lebih sama dengan fragmentasi yang dihadapi Plato dulu.

Itu dari “Mengapa Demokrasi Melahirkan Banyak Koruptor”, kolom opini di Media Indonesia edisi Jumat, 23 Maret 2018 oleh Luthfi Assyaukanie.

Advertisements

Kim sangat realistis, dunia sudah berubah

Ini tulisan dari Dahlan Iskan di blog barunya – saya ini penikmat tulisan beliau semenjak di Jawa Pos, lalu diarsipkan di sini – yang harus dibaca karena mengalir, gurih, dan menggelikan tentang pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un di Singapura kemarin.

Kutipan:

Kim pada dasarnya memang sudah berubah pikiran. Sejak tahun lalu. Dengan atau tanpa gertakan Amerika. Terutama sejak harapan tertingginya sia-sia: percobaan terakhir senjata nuklirnya itu. Yang gagal total itu. Yang gunungnya sampai runtuh itu. Yang fasilitas percobaannya ikut hancur itu.

Sebagai anak muda Kim sangat realistis: dunia sudah berubah. Rajanya komunis Soviet sudah wassalam. Ratu komunis Tiongkok sudah lebih kapitalis dari kapitalis setengah hati. Vietnam sudah punya 18 special economic zone . Dan segera ditambah tiga lagi. Semua untuk menampung investasi dari Tiongkok yang dibencinya. Kuba sudah membuka kedubes di Amerika. Laos sudah menjadi kucing yang tidak bisa menangkap tikus.

Maka Korut tinggal menunggu momentum. Kini momentum itu tiba. Semua pertanda-pertanda mengarah ke sana: presiden Amerika-nya tukang gertak, ekonomi Korutnya kian tak tertahankan, Tiongkok-nya kian jual mahal, Korsel-nya dipimpin orang yang gengsinya tidak tinggi. [Link]

Lessons on manhood to his coming-soon child

The main character in “How to Be a Man” discovers he has cancer at the same time his wife his pregnant. Instead of telling his wife and dealing with it together rationally, he hires a film school graduate, Bryan (Liam Aiken) to help him make videos for his unborn son on the subject of manhood. Some of his lessons on manhood include how to deal with bullies, how to pick up girls in bars, how to perform cunnilingus, and how to properly do drugs. In the making of these videos for his son, main character Mark (Gavin McInnes) cheats on his wife and gets kicked out of his home for doing so. It is important to note here that at the end of the movie it is discovered, as alluded to throughout the film, that he does not actually have cancer – he has a weird lump on his chest that he looks up on WebMD and decides must be cancer, making the argument for this being a heart-warming film completely invalid.

That is from “How to Be a Man” film review by blogger nicolefmontalvo.

Kamar hokyaa

“Nong? Hari ini ada berapa yang datang?” kata si pemilik bangunan yang baru pulang dari bepergian ke luar kota.

“Lebih dari sepuluh pasangan Pak.”

“Lumayan juga ya. Tak kusangka, bisnis macam ini jauh lebih mudah dijalani rupanya. Jangan lupa, kamar-kamar ini tak hanya untuk sepasang kekasih saja tapi juga untuk keluarga-keluarga luar kota yang mau menginap di sini.”

Pesan itu seperti sedikit menyindirku karena kerap kali menolak kedatangan rombongan keluarga untuk menyewa Griya Laras entah semalam atau lebih. Sebenarnya keuntungan jauh lebih banyak jika disewa sebuah keluarga, apalagi jika keluarga kaya raya. Aku bisa seenaknya memasang tarif harga hingga dua kali lipat. Orang-orang kota tidak akan curiga karena mereka terbiasa membayar kamar-kamar yang lebih mahal. Kau tahu bukan, jika Tawangmangu menyediakan segala hal: alam, ketenangan, dan kesejukan. Harga dua kali lipat sesungguhnya tak sebanding dengan apa yang Tawangmangu suguhkan. Berbeda dengan percintaan sepasang kekasih yang menyewa kamar-kamar ini. Mereka barangkali bercinta di bawah ketakutan, di bawah kewaspadaan, mereka butuh bantuan ruang rahasia untuk menuntaskan perasaan alamiah karunia Tuhan. Sementara, aku berada di sini untuk membantu hasrat alami mereka.

Di atas kutipan dari prosa yang ditulis oleh Udiarti berjudul “Perempuan dalam Griya Laras” di Jakartabeat. Sebab saya tahu latar belakang ceritanya, juga tempat-tempatnya maka gambaran yang tercipta bisa terasa nyata. Dua kali kampus mengadakan acara di Tawangmangu, sebab di atas banyak vila-vila yang bisa disewa untuk menginap. Namun yang ada di kisah ini bukan vila-vila itu, namun kamar-kamar murahan yang kalau kata kawan saya orang Tawangmangu: “kamar hokyaa”.

10 GB data plan

I have 10 GB of data-plan in my Sony Xperia Z2. With that amount of data, I want to updates some application such as; WordPress (Yes, I do mobile blogging), Whatsapp, Line, Gmail, Youtube (my time waster), Instagram, and Vice App. I also have planned to install two other application, Wattpad and game Super Jungle World. This sunday I just want to lying in my bed. No schedule.

Update: I also downloaded this paper by Arianto A. Patunru, Neil McCulloh and Christian von Luebke. The title, “A Tale of Two Cities: The Political Economy of Local Investment Climate in Solo and Manado, Indonesia”. Actually, I downloaded other papers written by Patunru.

Other updates, as world citizen globally knew, Trump meets Kim in Singapore. So I have to keep in touch with their news.

Hari membahagiakan, terkhusus untuk Kementerian Luar Negeri RI

Ketebak

Iga Massardi: “Kita selalu bisa melakukan hal yang sudah kita tau. Melewati jalan yg sudah kita hafal, berkendara lewat rute yang biasanya. Saking pahamnya, lantas kita juga sudah bisa tau hasil akhirnya. Ini adalah perasaan nyaman. Perasaan aman yang tidak menarik.”

Tak sabar menunggu karya Iga Massardi selanjutnya, album sebelumnya bersama Barasuara, “Taifun”, betul-betul puitis liriknya dan musiknya menggairahkan. Sudah saya tengok kembali lagu-lagunya. “Bahas-Bahasa” terputar dua kali.