Marketeers: “#Bukajalanpulang, Upaya Bukalapak Tarik Balik Diaspora Indonesia”

Marketeers: “#BukaJalanPulang, Upaya Bukalapak Tarik Balik Diaspora Indonesia“.

Advertisements

Investor berani atau defensif

Seberapa agresifkah semestinya portofolio Anda?

Agresivitas portofolio, kata Graham, lebih bergantung pada jenis investor seperti apakah diri Anda, bukan pada jenis investasi seperti apakah yang Anda punyai. Ada dua cara untuk menjadi investor pintar:

1. Terus menerus meneliti, menyeleksi, dan memonitor percampuran dinamis antara saham, obligasi, dan reksadana.

2. Menciptakan portofolio permanen yang mampu berjalan dengan sendirinya, tanpa perlu usaha lebih lanjut. (Namun, cara ini tak banyak memberi keasyikan).

Graham menyebut pendekatan pertama sebagai ‘aktif’ atau ‘berani’. Pendekatan ini menyita banyak waktu dan energi. Sebaliknya, pendekatan kedua, ‘pasif’ atau ‘defensif’, hanya memerlukan sedikit waktu atau usaha. Dalam pendekatan kedua ini, dibutuhkan penjauhan diri dari hiruk pikuk dan gemerlap pasar. Kata Charles Ellis, seorang pemikir investasi, pendekatan agresif sangat melelahkan secara fisik dan intelektual, sedangkan pendekatan defensif sangat menguras emosi.

Jika Anda memiliki banyak waktu, berkarakter kompetitif, berpikir seperti seorang penggemar olahraga, dan menikmati tantangan intelektual yang rumit, maka pendekatan aktif cocok bagi Anda. Sebaliknya, jika Anda selalu merasa terburu waktu, menginginkan kemudahan, dan tak terlalu memikirkan uang, maka pendekatan pasif cocok untuk Anda. (Sebagian orang merasa nyaman dengan menggabungkan kedua metode ini: menyusun portofolio yang sebagian besar aktif dan sebagian kecil pasif, atau sebaliknya).

Kedua pendekatan di atas sama pintarnya. Anda bisa sukses dengan pilihan manapun, asalkan Anda mengenali diri Anda dengan sangat baik sehingga tahu pendekatan mana yang harus Anda pilih, setia menjalani pilihan pendekatan itu di sepanjang usia investasi Anda, serta menjaga agar dana dan emosi Anda terus terkendali. Pembedaan antara investor aktif dan investor pasif merupakan salah satu bentuk peringatan Graham bahwa risiko finansial tidak hanya ada di tempat kita mencarinya – dalam dunia ekonomi maupun dunia investasi kita – tetapi juga ada dalam diri kita sendiri.

Masih dari buku yang sama, ‘The Intelligent Investor’ dari Benjamin Graham, namun ini merupakan komentar dari Jason Zweig untuk Bab IV buku ini.

Kata Buffett harus konsisten

Untuk menjaga tingkat risiko kamu, beli saham di berbagai jenis sektor bisnis, cari yang terbaik diantaranya dan lakukan pembelian secara konsisten sepanjang waktu (Dollar Cost Averaging) . “Sebenarnya, hal terbaik dari saham adalah membelinya secara konsisten dari waktu ke waktu,” kata Buffett pada “Squawk Box” pada Februari 2017.

Dari artikel di blog Stockbit, “Warren Buffett Memberi Saya 6 Pelajaran Penting Investasi Saham Untuk Tahun 2019“.

Turunkan ekspetasi, tapi jangan terlalu rendah

Ada pelajaran kedua dari pendekatan Graham. Satu-satunya hal yang bisa Anda yakini ketika meramal return saham masa depan adalah bahwa Anda bisa saja salah total. Satu-satunya kebenaran pasti yang diajarkan oleh masa lalu kepada kita adalah bahwa masa depan akan selalu mengejutkan kita – selalu! Sebagai konsekuensi dari hukum sejarah keuangan tersebut, pasar akan sangat mengejutkan orang-orang yang paling meyakini bahwa pandangan mereka tentang masa depan adalah tepat. Tetap ragu akan kemampuan meramal Anda, seperti halnya Graham, akan membuat Anda terhindar dari pengambilan resiko besar, mengingat ramalan Anda tentang masa depan boleh jadi sama sekali salah.

Jadi, mohon turunkan ekspetasi Anda – namun tetap jaga agar jangan sampai menghilangkan semangat Anda. Bagi investor pintar, harapan pasti selalu ada, karena memang demikianlah adanya. Dalam pasar uang, semakin buruk kelihatannya masa datang, semakin baik biasanya kenyataan. Seorang pria sinis pernah berujar kepada G.K. Chesterton, novelis dan penulis esai dari Inggris, “Orang yang diberkati adalah orang yang tidak mengharapkan apa-apa, sehingga dia tak akan kecewa.” Apa jawab Chesterton? “Orang yang diberkati adalah orang tidak mengharapkan apa-apa, karena dia akan menikmati segalanya.”

Ini masih dari buku yang sama seperti pos kemarin, “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham.

Perilaku biri-biri

Begitu sebuah reksadana berhasil di pasar, para manajernya cenderung menjadi penakut dan imitatif. Seiring pertumbuhan reksadana, fee bagi manajer semakin besar – membuat para manajer enggan mencari-cari masalah. Risiko serupa yang diambil manajer untuk menghasilkan return awal yang tinggi pun kini bisa manjauhkan investor – dan membahayakan pendapatan fee manajemen yang besar itu. Jadi, reksadana-reksadana terbesar ibarat segerombolan biri-biri yang identik dan kegemukan, bergerak dalam barisan lamban dan semuanya serentak bersuara ‘mbeek’. Hampir setiap growth-fund memiliki Cisco dan GE, Microsoft juga Pfize, serta Walmart dan nyaris dengan proporsi yang identik. Perilaku ini sangat umum terjadi sehingga para ahli keuangan menyebutnya herding (gejala gerombolan ternak). Dengan melindungi pendapatan fee manajemen, para manajer reksadana mengurangi kemampuan untuk memberikan return tinggi bagi para investor luar mereka.

Ini dari buku “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham. Saya mendapatkan cetakan keempatnya yang banyak dijual di Tokopedia.

Mereka duduk berdebat tentang jumlah gigi kuda

Di kuliah, saya menghindari belajar ilmu pasti, matematika, dan akuntansi – semua jurusan yang diperlukan untuk bisnis. Saya belajar seni, sejarah, psikologi, dan ilmu politik. Dan juga belajar tentang logika, agama, dan filosofi Yunani Kuno.

Jika sekarang saya lihat, belajar sejarah dan filosofi adalah persiapan yang lebih baik dalam berinvestasi dibanding belajar statistik. Berinvestasi itu adalah seni, bukan ilmu pasti, dan orang yang berlatih untuk melihat semuanya dengan ilmu pasti akan mengalami masalah. Jika memilih saham adalah sebuah kepastian, maka anda cukup menggunakan sebuah komputer dan mendapatkan kekayaan darinya. Tapi berinvestasi tidaklah seperti ini. Matematika yang anda butuhkan sudah anda dapatkan di kelas 4 SD.

Logika adalah ilmu yang paling membantu saya dalam memilih saham, karena ini memberitahukan saya cara mengenali ketidaklogisan orang-orang di Wall Street. Sebenarnya, orang di Wall Street berpikir seperti orang Yunani Kuno. Mereka duduk dan berdebat tentang jumlah gigi kuda, seakan-akan dengan duduk di sana bisa menghasilkan angka yang benar, dibanding keluar dan mengecek kuda. Banyak investor hanya berdebat tentang angka, seakan-akan ini akan memberikan jawaban, dibanding pergi memeriksa perusahaannya.

Dari buku ‘One Up On Wall Street’, Peter Lynch.

Beli reksadana dulu, baru baca prospektusnya

Sebetulnya keliru kalau beli reksadananya dulu baru baca prospektusnya. Harusnya dibalik, baca prospektusnya, lalu memutuskan untuk membelinya atau tidak.

Hari ini saya baca prospektus Simas Saham Unggulan yang portofolio investasinya 80% – 98% ada di efek ekuitas dan 2% – 20% pada efek yang bersifat hutang, efek beragun aset, instrumen pasar uang dan atau deposito. Total dana yang dihimpun mencapai 23 triliun lebih, dengan diversifikasi saham lebih dari 90 perusahaan. Jadi, dengan membeli Simas Saham Unggulan, artinya kita telah mendiversifikasi saham di 90 lebih perusahaan itu. Kalau kata orang yang paham, begitu, makin besar diversifikasi yang bisa dilakukan makin kecil potensi portofolio turun. Apalagi dana yang dihimpun dari Simas Saham Unggulan ini mencapai 23 triliun lebih.

Kalau gini, jadi bimbang, karena sepertinya untuk saya, lebih cocok membeli reksadana daripada investasi saham langsung. Alasannya banyak, uang yang bisa disihkan tiap bulan sedikit, reksadana lebih murah dan ‘affordable’, dikelolakan oleh orang lain yang ‘expert’ dan berpengalaman, dan diversifikasi. Lebih-lebih, reksadana lebih ‘nggak’ mikirin dan gak ‘bikin’ stress.