Kisah Melela Budi, Perwakilan Indonesia di Mr. Gay World 2017

Melela: “Kisah Melela Budi, Perwakilan Indonesia di Mr. Gay World 2017“.


Kata /melela/ sempat digunakan penulis Pramoedya Ananta Toer di dalam novelnya berjudul Bukan Pasar Malam yang terbit pada 1951. Kata /melela/ bermakna ‘menunjukkan diri dengan cara yang elok.’

Merujuk pada makna tersebut, kata /melela/ dapat digunakan sebagai padanan kata Inggris “coming out”.

Melela dapat menjadi proses yang kompleks dan kerap melibatkan perasaan bingung, takut, rasa bersalah, malu, gembira, hingga lega. Kegiatan ini tidak ada rumus bakunya. Hanya insan terkait yang tahu cara dan waktu yang tepat untuk membuka diri kepada orang-orang yang dicintainya. [link]

Advertisements

Sebagai pelacur saya dipandang dengan lebih hormat

Selama tiga tahun bekerja pada perusahaan itu, saya menyadari, bahwa sebagai sebagai pelacur saya dipandang dengan lebih hormat, dan dihargai lebih tinggi daripada semua karyawan perempuan, termasuk saya. Pada masa itu saya tinggal di sebuah rumah dengan kamar mandi pribadi. Saya dapat masuk ke situ setiap saat, dan mengunci diri tanpa ada orang yang menyuruh buru-buru. Tubuh saya tidak pernah terjepit di antara tubuh-tubuh orang lain di dalam bis, juga tak pernah ditekan oleh tubuh orang lelaki baik dari depan maupun dari belakang. Harganya tidak murah, dan tidak bisa dibayar hanya dengan kenaikan gaji, oleh undangan untuk makan malam, oleh pelesiran sepanjang Sungai Nil dengan kendaraan seseorang. Juga tidak pernah dianggap sebagai harga yang seharusnya saya bayar untuk memperoleh jasa baik direktur saya, atau untuk menghindari amarah sang presiden.

Nawal El Saadawi, “Perempuan di Titik Nol”.

Pengalaman Menjadi Gay: Studi Fenomenologi pada Pria Homoseksual Menuju Coming Out

Gallo Ajeng Yusinta Dewi dan Endang Sri Indrawati, “Pengalaman Menjadi Gay: Studi Fenomenologi pada Pria Homoseksual Menuju Coming Out“, 2017, Jurnal Empati.

Ini dari Kesimpulan laporan tersebut:

Faktor pendukung individu menjadi homoseksual adalah pola asuh yang salah pada keluarga, tidak adanya role model untuk mengimitasi kualitas kepribadian pria, serta pemahaman yang kurang tepat mengenai seksualitas. Pembentukan identitas yang dialami ketiga subjek memutuskan untuk coming out setelah adanya perubahan pola pikir setelah menerima kondisi diri sebagai homoseksual. Persepsi terhadap reaksi lingkungan merupakan stressor bagi ketiga subjek dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Stressor yang dihadapi oleh ketiga subjek mengarahkan ketiga subjek untuk dapat mengatasi stres demi dapat bertahan dalam masyarakat. Persepsi subjek terhadap reaksi lingkungan mendorong subjek untuk melakukan coping stress atau cara mengatasi tekanan yang dihadapi. Coping stress yang dilakukan ketiga subjek di antaranya mekanisme pertahanan diri, menghindar, mengalihkan perhatian, menyembunyikan identitas, dan membatasi pergaulan sebagai usaha untuk berinteraksi dengan masyarakat.

Tubuh yang diatur adalah tubuh yang tak otentik

Tubuh adalah pemberian alam. Dimaksudkan untuk melanjutkan kehidupan. Dalam niat alamiah itu, seksualitas bertumbuh. Tetapi kemudian peradaban tiba untuk mengatur. Maka tubuh menjadi tubuh yang diatur: oleh politik, oleh tradisi, oleh ilmu, oleh agama, oleh teknologi, oleh hukum, dst.

Tubuh ditertibkan oleh kehendak orang lain, oleh institusi.

Tubuh yang diatur menjadi tubuh yang tak otentik. Ia dimiliki tetapi kekuasaan atasnya ada pada orang lain. Di situlah ketegangan bermula karena norma sosial dan hak individual terus bersitegang. Terutama dalam kaitannya dengan pengakuan terhadap pilihan orientasi seksual, diskriminasi terjadi karena ketidakpahaman masyarakat dan keengganan negara dalam melayani warga negara yang dianggap ‘berbeda’.

Pada pengalaman kelompok LGBTQ, diskriminasi itu terasa menekan secara psikososial karena sekaligus ketiadaan pengakuan itu merembet ke dalam diskriminasi terhadap pekerjaan dan hak-hak keperdataan. Apalagi bila provokasi agama diajukan untuk melecehkan kedudukan sosial seseorang.

Pendidikan kewarganegaraan sangat diperlukan untuk menghasilkan kesetaraan. Di dalamnya negara memastikan bahwa hak dan kehormatan warga negara tak boleh dikurangi oleh diskiriminasi terhadap kelompok yang memilih paham sosial atau orientasi sosial yang berbeda dari yang dianggap umum. Penghargaan terhadap otonomi tubuh, penerimaan terhadap keragaman pengalaman hidup manusia adalah sumber pertumbuhan demokrasi.

Keadilan dan rasa etis justru diuji dalam kemampuan kita menghormati perbedaan.

Dalam dunia yang kini berkejaran dengan sikap-sikap intoleran dan kebencian-kebencian primordial, kita diminta agar mempertahankan ruang bebas pikiran, yakni tempat minimal untuk mengucapkan secara privat pengalaman dan harapan-harapan manusia. Itulah dunia sastra.

Imajinasi memerlukan ide. Yaitu proyeksi psikologi untuk mengucapkan sesuatu yang tak terucap di dunia publik. Sastra menjadi dunia tempat percakapan kegelisahan dilangsungkan. Pengalaman privat, keinginan eksistensial dan harapan-harapan manusia ditempatkan dalam ruang imajinasi itu. Semacam pembebasan filosofis.

Kumpulan ide buku ini adalah upaya menghadirkan hak dan harapan-harapan itu agar persaudaraan warga negara dapat selalu dimungkinkan. Agar diskriminasi dapat diakhiri. Agar demokrasi menghasilkan keadilan. Agar peradaban dapat diselenggarakan.

Mereka yang berkarya melalui sastra adalah mereka yang sering mengucapkan dunia yang tak adil. Sastra dan politik, saling menghidupkan. Sastra dan psikologi, saling menguatkan.

Buku ini mengendapkan harapan-harapan itu.

Ini dari Rocky Gerung, dalam pengantar buku ‘Ibuku Lelaki‘.

Kodrat atau gender, perempuan laki-laki

Saya mulai magang mulai hari Minggu kemarin. Ini adalah naskah notulensi yang saya kerjakan. Diskusi itu bertajuk ‘Rehabilitasi Transformatif untuk Perempuan Korban Kekerasan, namun diskusinya sendiri dimulai dari awal sekali: terkait kodrat dan gender.

IBU FITRI (MODERATOR DAN PEMATERI)

Diskusi dimulai pukul 10.00, Ibu Fitri sebagai moderator dan pemateri mengajak peserta untuk ice-breaking sebelum masuk ke materinya.

Selamat pagi teman-teman, datang diacara diskusi ini. Tujuan kita adalah bersama bersama. Nanti ada narasumber. Semua pengetahuan itu harus disampaikan, sekecil apapun itu.

Sekilas, kalau berbicara ‘gender’ apa yang terlintas di benak kalian?

PESERTA A

Konstruksi sosial.

PESERTA B

Peran.

PESERTA C

Penempatan yang sesuai.

IBU FITRI

Lagi, apa itu gender? Ada tanggapan lain?

PESERTA D

“Gender adalah kesadaran akan potensi diri bahwa manusia itu memiliki dua sisi; feminisme dan maskulinisme. Ketika seseorang mengerti soal gender maka ia akan mengetahui kapan ia bertindak maskulin dan juga kapan bertindak feminim. Jadi gender bisa berlaku untuk perempuan dan juga laki-laki.”

IBU FITRI

Jadi pengaruhnya, ada berbagai macam. Bisa jadi personal diri bisa jadi dari lingkungan. Ada lagi yang lain? Kalau tidak ada, jika saya bilang kodrat? Apa yang ada dalam benak teman-teman.

 PESERTA A

Fitroh.

PESERTA B

Bawaan biologis.

PESERTA D

Sesuatu yang tidak bisa diubah.

PESERTA E

Kalau saya sendiri bilang, kodrat itu malah, suami istri contohnya, boleh memperjuangkan gender, jika sesuai kodratnya. Jadi misal, kita, istri, kita boleh berkarir, tapi harus dimusyawarahkan bersama suami. Komunikasi itu penting.

IBU FITRI

Kalau kita mau mengaitkan gender dengan fitroh, lalu idealisme gitu, ya, itu sangat berbeda. Kalau misal fitroh, itu kan saklek ya, tidak bisa diubah. Tapi gender, itu masih bisa diubah. Karena gender merupakan hasil dari konstruksi sosial yang terkait dengan tempat, waktu, budaya. “Sejak awal bayi tidak memiliki perbedaan baik laki ataupun perempuan. Yang berbeda hanya alat kelamin. Dan keluarga yang menciptakan konstruksi sosial yang awal dan terus menerus, hal itu menyebabkan adanya ketidakadilan gender. Kemudian lingkungan masyarakat turut menyumbang dalam konstruksi sosial yang mengesampingkan posisi perempuan”.

Maka, yang paling penting adalah membangun kesadaran secara bersama agar yang namanya kekerasan terhadap perempuan itu menurun. Jadi bila mendapat informasi sedikit, bisa disebar agar para perempuan semakin sadar akan kekerasan ini.

Satu hal yang perlu dipahami adalah, persoalan gender ini tidak akan stagnan, namun akan berkembang terus. Hal tersebut disebabkan oleh salah satunya waktu dan tempat. Satu tempat dengan tempat lainnya bisa sangat berbeda, persoalan gender di Indonesia dengan Amerika Serikat itu sangat jelas berbeda. Begitu pula dengan waktu, Indonesia di awal kemerdekaannya dengan Indonesia kini berbeda persoalan gender yang dihadapinya. Yang ketiga adalah faktor budaya, budaya. Pada waktu jaman dulu, misal persoalan gender itu bisa dipahami sebagai perempuan yang ikut berperang, kalau kini perempuan tergabung dalam sebuah emansipasi. Seperti itu.

Kini perempuan, begitu, harus sadar akan ketidakadilan peran yang dihasilkan dari konstruksi sosial itu tadi. Contohnya, perempuan tidak lagi hanya dijadikan ‘konco wingking’ atau hanya melakukan pekerjaan domestik; menyapu, mengepel, mencuci, menyeterika, ‘melayani’. Dan ini tidak bisa dikaitkan dengan kodrat, atau kewajiban. Hal ini, bisa timbul sebab dari diri sendiri, lingkungan keluarga, atau masyarakat pada umumnya.

Konstruksi sosial yang mengakibatkan perempuan, misalnya, dalam keluarga tidak memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan dalam keluarga. Kalau laki-laki tidak bekerja misal, tidak mampu memimpin keluarga, karena situasi sosial tidak mendukung, lalu apa yang terjadi? Lingkungan pasti mencemooh, menggunjingkan. Karena perempuan, itu dianggap sebagai subordinat, bekerja di wilayah domestik bukan di ranah publik.

Terkait hal itu, maka laki-laki oleh masyarakat, dicap sebagai kepala keluarga. Mencari nafkah utama, memimpin, dan memutuskan. Hal ini sudah dilabelkan sejak ia lahir. Makanya, saat perempuan mampu bekerja di rumah, tapi juga mampu mencari ekonomi di rumah, maka ia disebut pencari nafkah kedua. Masyarakat menggunjingkan apakah suaminya di rumah tidak bekerja. Akhirnya, si wanita menjadi beban ganda; ia bekerja dalam rumah tapi juga bekerja di publik.

Maka dari itu, setelah peserta diskusi ini selesai dari sini, diharapkan saat kembali ke lingkungannya masing-masing mampu mengembangkan apa-apa yang didapat selama diskusi ini berlangsung.

ADA PESERTA DISKUSI YANG INGIN MENANGGAPI?

PESERTA B

Saya ingin menanggapi terkait pengambilan keputusan dalam keluarga. Kebetulan keluarga saya menganut demokrasi, jadi setiap pengambilan keputusan, saya menginformasikan kepada orangtua. Nanti orangtua mengembalikan ke saya, ‘jika dirimu sanggup maka lakukanlah’. Jadi, orangtua saya diberikan keleluasaan tapi juga diberi tanggung jawab untuk menerima konsekuensinya. Jadi, tidak selalu laki-laki yang selalu menjadi pengambil keputusan. Tinggal bagaimana pengetahuan yang cukup dimiliki oleh keluarga dan lingkungan.

Pertanyaan saya, solusi yang terbaik bagi sahabat-sahabat saya untuk mengetahui apa itu gender?

IBU FITRI

Kita prosesnya bertahap. Bahwa, di sini pun, kita belum tentu sepaham pemikirannya. Terus kemudian misal secara pengetahuan sama, namun refleksinya, implementasinya beda antara satu dengan yang lain. Atau ia sudah punya pemahaman terkait gender, namun bisa jadi ia melawan, bisa jadi berbeda konstruksi pemahamannya. Pengaruhnya itu bisa macam-macam; keluarga; lingkungan; agama; bahkan negara.

Solusinya, kita bangun dulu fondasinya. Nah, prosesnya itu bisa menjawab bagaimana solusinya nanti. Karena itu, ini sekarang kita baru mencoba membangun pemahamannya dulu.

[ . . . ]

IBU LIZA

Saya ingin memulai dengan, apa yang diharapkan orangtua kepada kalian selaku anak perempuan?

(Peserta Diskusi); Pintar masak, bisa dandan, rajin membantu pekerjaan rumah.

IBU LIZA

Ayo kita sekarang membahas mengenai kodrat suami dan kodrat istri. Mulai dari laki-laki dulu: menurut kalian kodrat sebagai suami apa?

PESERTA G

Bekerja.

PESERTA H

Memimpin.

PESERTA G

Bertanggungjawab.

PESERTA H

Menunjuki jalan.

PESERTA G

Memimpin bukan hanya ekonomi tapi juga idealisme.

IBU LIZA

Lalu kodrat sebagai istri menurut teman-teman apa?

(Peserta Diskusi); hamil dan melahirkan, memasak, menyapu, mengepel, ngurus anak, menyusui, melayani.

IBU LIZA

Kodrat perempuan seperti sudah dijelaskan oleh teman-teman diskusi adalah yang disebutkan tadi, hamil dan menyusui. Apakah peran tersebut bisa diganti oleh laki-laki? Karena laki-laki tidak memiliki kemampuan untuk mengandung, tidak punya rahim. Hanya Tuhan yang bisa buat rahim. Jadi, yang potensi untuk melahirkan dan menyusui. Sehingga ini tidak bisa dipertukarkan.

Melayani secara seks, misalnya, apakah itu kodrat seorang istri? Tidak. Karena seks kan kemauan kedua belah pihak. Seks adalah kebutuhan makhluk hidup, bukan hanya laki-laki. Lalu apakah melayani secara seksual bagi perempuan adalah wajib? Bisa ditelaah lagi, jika perempuan itu sedang haid misal, atau perempuan sedang lelah dan lain-lain sehingga tidak ada gairah untuk melayani suami, bisa dikomunikasikan kepada suami. Sehingga kata ‘wajib’ masih bisa dikritisi.

(Peserta Diskusi)

Dalam pemahaman saya, dalam fiqih itu, suami sebaiknya mengetahui siklus haid dari istrinya. Atau, istri bisa melayani suami tidak hanya melalui vagina, namun dengan cara yang lain. Namun, hukumnya tetap wajib melayani suami.

IBU DILA

Saya di sini bukan untuk mendebat apalagi membawa masalah yang sedang kita bahas ini terkait dengan agama, nanti saya keliru, takutnya nanti jadi debat yang panjang. Tapi saya ingin memberi perspektif tentang Hak Seksual dan Hak Reproduksi. Karena dari sini, kita bisa melihat di mana posisi perempuan; dilayani atau melayani?

Kita, manusia, pasti pernah merasakan yang namanya gairah seksual? Iya tidak. Karena gairah seksual itu merupakan kodrat manusia, baik perempuan ataupun laki-laki sama-sama merasakan. Kebutuhan biologis itu ada di setiap manusia, maka apakah perempuan tidak berhak untuk dilayani? Konteks melayani dan dilayani di sini, kebutuhan yang sama, ini saya tidak masuk ke pembahasan agama, ya. Tapi kebutuhan seksual itu sama antara perempuan dan laki-laki.

Komunikasi menjadi penting dalam hubungan relasi ini, karena seks adalah hubungan intim yang membutuhkan kedua belah pihak. Tidak ada penindasan. Dan sebagainya, nanti setelah istirahat akan dilanjutkan mengenai penindasan, kekerasan, hak seksual dan hak reproduksi, itu nanti akan dibahas sehabis ini.

(Peserta Diskusi)

Saya lebih akan memandang masalah ini dari sudut pandang sejarah, karena segala sesuatu kan tidak bisa dilepaskan dari sejarahnya. Dari sejarahnya, emansipasi misalnya, Kartini sadar akan pentingnya emansipasi justru saat ia surat-suratan dengan kawannya di luar negeri. Meski sudah banyak perempuan yang bergerak misal, tapi kita sedikit sekali mendengar tentang peran perempuan yang ada dalam buku sejarah misalnya.

Peran perempuan dalam proses dari dan menuju proklamasi kemerdekaan Indonesia, tidak ditulis dengan baik. Barangkali kita juga harus mengingat dalam Sumpah Pemuda ada perempuan yang berbicara, tapi tidak ditulis. Kenapa itu bisa terjadi? Kenapa seakan sejarah mendiskreditkan perempuan.

IBU DILA

Topik ini semakin menarik. Saya ingin memulai dari isu ‘Ibuisme’, sebenarnya kan dari 1928 itu sudah ada kongres wanita pertama, itu tempatnya di Jogjakarta. Di situ ada banyak sekali ormas-ormas kegamaan islam, itu ada banyak sekali. Bukan organisasi keagamaan ya, tapi organisasi perempuan yang dibentuk karena ketidakadilan perannya. Isu-nya belum seperti sekarang ini, ‘human trafficking’, tidak, tapi masih serupa poligami, dan sebagainya.

Tapi, pada sejarah, perempuan sudah sadar akan pentingnya peran dirinya sendiri. Jika perempuan bergerak, misalnya, itu bisa mengubah dunia. Perempuan itu, power-nya luar biasa. Ia bisa memengaruhi saudaranya, bisa memengaruhi anaknya, memengaruhi ibunya. Coba bila perempuan memiliki satu tujuan bersama lalu bergerak.

Makanya, pada tahun 1970-an, isu Ibuisme berkembang, dengan programnya yaitu PKK, dan implementasi lainnya yang banyak macamnya, tapi intinya adalah mendukung suami. Isinya PKK itu memasak, demo-nya demo memasak. Jadi tugasnya hanya mendukung kerja suami. Karena jangan sampai, pada 1970 perempuan bergerak, karena pada saat itu Indonesia sedang membangun. Belum lagi, pada 1940-an Indonesia baru mau merdeka, negara lain sudah merdeka duluan, jadi prosesnya agar perempuan ‘setara’ seperti itu butuh proses yang panjang. Dan Ibuisme ini, masih berlangsung hingga kini.

Dalam Panca Dharma Wanita, misal bila istri memiliki penghasilan lebih besar dari suami, ia tetap saja disebut sebagai pencari nafkah tambahan. Padahal tambahannya lebih besar.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh kita untuk membangun pemahaman soal gender? Ini mengingatkan kita, nanti setelah diskusi ini kita mau melakukan apa. Harapannya nanti setelah dari sini, ini semua agen-agen perubahan pulang, ke lembaganya masing-masing, bisa menyebarkan yang telah kita bahas di organisasinya, di pergaulan, atau paling minimal untuk diri sendiri. Misal nanti kita pulang lalu, sampai di rumah masih bilang kalau, perempuan harus masak, ya ini masih belum ada perubahan. Tapi, bila kemudian ini kita komunikasikan misalnya, bahwa ini bukan kewajiban istri saja.

Jadi, sebenarnya posisi laki-laki dan perempuan itu sama (sederajat), tidak ada yang memimpin atau dipimpin sebetulnya. Dipimpin dan memimpin itu, perlu ditelisik lebih jauh lagi. Siapa yang menciptakan? Apa tujuannya? Kenapa gerakan perempuan dilemahkan? 1928 mereka sudah Kongres kok, kenapa semenjak itu perempuan dilemahkan. Karena laki-laki, sadar akan potensi itu, perempuan bisa masuk dalam level manapun, di RT bisa, level Kelurahan bisa, lewat PKK bisa, lewat Kader Kesehatan bisa, maka perempuan itu punya power yang kuat. Inilah kenapa gerakan perempuan dilemahkan.

IBU LIZA

Sampai di sini teman-teman, kodrat itu apa?

PESERTA B

Pemberian dari Tuhan yang tidak dapat diubah.

IBU LIZA

Gender itu?

PESERTA F

Sesuatu hal yang dibentuk oleh konstruksi sosial yang bisa diubah dan dipertukarkan.

IBU LIZA

Ini adalah kontruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat sesuai dengan kondisinya, sesuai dengan waktunya. Jadi, bila kita berbicara peran suami dan peran istri kita sedang membicarakan gender. Jangan bilang ini kodrat. Kalau kita berbicara soal-soal pemberian Tuhan, yang tidak bisa diubah, itu kita berbicara persoalan gender. Kalau kita bisa tidak bisa memahami perbedaan kodrat dan gender, kita tidak bisa sampai bisa pada ketidakadilan gender bila dasarnya saja belum dipahami.

Naskahnya masih panjang, saya tidak akan memasukkan semuanya di sini. Saya yakin, akan belajar banyak sekali selama magang di sini. Terutama untuk mempertajam perspektif feminisme saya, juga perspektif lain, seperti, senin kemarin kawan-kawan dari LGBTQ datang ke kantor untuk memberi laporan dan ‘curhat-curhat’.

Bebek goreng Lamongan pinggir jalan

“Itu yang bantu-bantu jualan siapa Bu?”

“Oh itu ponakan-ponakan di kampung, Nang. Saya mintai tolong bantu-bantu di sini. Daripada mereka di kampung tidak sekolah mending saya ajak kerja di sini. Daripada nganggur di kampung.”

Ini yang selalu saya suka dari para pengusaha. Mereka mendirikan usaha bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kemaslahatan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Salah satunya menyediakan lapangan pekerjaan. Mengangkat derajat perekonomian bersama.

Saya teringat unen-unen Jawa: “urip itu urup”. Hidup itu bisa menerangi kegelapan sekitarmu. Bermanfaat untuk sesama. Jadi, sukses bukan masalah seberapa banyak kamu punya harta. Tapi seberapa banyak kamu bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitarmu.

Oh iya, jika kalian ndilalah kok ya lagi selo mampir di Semarang tak ada salahnya mampir ke sini. Selain banyak menu yang tersedia, masalah harga juga masih wajar kok, terjangkaulah untuk anak-nak mahasiswa juga. Yang sedang pedekate sama gebetan tak ada salahnya coba ajak makan ke sini. Ya, siapa tahu setelah ngemplok sambel di sini kebimbangannya hilang dan langsung menerima kamu sebagai teman terbaiknya. Saya jamin itu, asal kalian mampir ke sini ngajak saya juga haha.

Dwi Andri Yatmo menulis dengan legit tentang warung lamongan di situs Minum Kopi.

Saya juga punya pengalaman yang hampir sama dengan warung sejenis. Meski warung lamongan begitu banyaknya, saya baru mencicipinya kemarin itu malam. Kaham – seorang teman yang jauh jauh dari Semarang – datang larut malam lantas mengajak santap malam.

Penjualnya adalah ibu paruh baya yang berdandan menor, dibantu oleh pemuda seusia saya. Saat kami datang, si pemuda makan begitu lahapnya. Ia tak lupa menyunggingkan senyum ke kami. Sebelum mengangsurkan sekali lagi nasi dan daging lele goreng ke mulutnya. Begitu lahapnya pemuda ini makan, pikir saya pemuda ini belum makan tiga hari.

Warungnya tepat di pinggir jalan utama Solo – Semarang. Tapi kami, lesehan di belakang tenda, di lantai emperan depan dealer motor. Di depan kami, adalah jalan raya, truk-truk kontainer, bis malam, tenda warung, lengkap dengan si ibu yang sedang menggoreng bebek goreng pesanan kami, wajan, gas LPG, beberapa ember besar untuk mencuci, dan sandal kami sendiri. Warung makan jenis ini, tidak mengutamakan estetika.

Saya ingat betul, habis makan, ia mencuci piringnya sendiri, mengambil air, menggaruk-garuk tangannya yang mungkin kena nyamuk, mengambil air dengan ember di keran yang tak jauh dari kami duduk lesehan, lantas ia mengantar pesanan.

“Monggo, Mas!” katanya sambil tersenyum.

Kaham makan jatahnya dengan lahap, mirip cara makan si pemuda tadi. Cara makannya membuat siapapun yang melihat tak akan lagi menyia-nyiakan makanan yang ada: penuh syukur dalam tindakan. Sambil menikmati suasana asing ini, saya makan. Sesuap-sesuap. Nyatanya, bebek goreng penuh minyak itu, tandas juga meski belum lama saya makan di rumah. Tidak terlalu spesial memang, tapi enak karena citarasa lain.

Truk menutupi pandangan kami ke jalan. Ada tiga truk dari Jakarta yang mampir. Si ibu girang, si yang murah senyum – senyum kembali, menawari, “unjukane nopo, Mas?”

Sopir truk mengambil posisi sama dengan kami, lesehan. Beberapa tersenyum ke saya. Hangat sekali. Beberapa mengajak ngobrol, sementara yang lain kami dengar mengumpati jadwal kirim muatan yang menggila, bos yang maunya cepat, dan obrolan ringan-ringan saja. Selingannya, sama dengan kami, lihat ke sana-ke mari menikmati malam.

Saya bahagia betul makan bersama orang-orang yang penuh syukur di warung tenda malam kemarin. Tak masalah lesehan, depan kami ember cucian, asap kendaraan atau sandal kami sendiri, makan kami lahap sekali.

Politikus, bacalah Multatuli

Kolonialisme wajah baru tampak dalam dominasi sistem ekonomi neoliberalisme yang melahirkan ketimpangan sosial ekonomi yang semakin besar. Versi pemerintah, angka ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia berkurang dengan Gini Ratio Indonesia pada Maret 2018 mencapai angka 0,389. Akan tetapi, kita tahu, jurang antara si kaya dan miskin masih menganga terlampau lebar. Ketimpangan pendapatan dan pengeluaran penduduk mustahil diatasi jika kita membiarkan diri dicengkeram oleh sistem ekonomi neoliberalisme yang secara struktural mengakibatkan kemiskinan pada sebagian besar kelompok tertentu di satu sisi dan mendatangkan kekayaan berlipat ganda pada sebagian kecil kelompok lainnya di sisi lain.

Akhirnya, politikus mesti membaca Multatuli karena hanya dengan mengenal sejarah bangsa ini dengan segala intrik feodalisme dan kolonialismenya, ia dapat menjadikan politik sebagai panggilan mengabdi kemanusiaan.

Silvano Keo Baghi, “Mengapa Politikus Harus Membaca Multatuli“.

Superheroes CAT CPNS

“Iya, hanya kurang satu poin saja. Memang tesnya cukup sulit. Selama 1,5 jam itu mengerjakan 100 soal pilihan ganda, ada soal logika bahasa, matematika, yang susah wawasan kebangsaan. Ya, walaupun gagal, saya sudah plong. Anggap saja pengalaman,” ujar pelamar lowongan perawat di Pemkab Sragen itu saat berbincang dengan Solopos.com seusai CAT. [link]

[ … ]

Dwi juga mengakui sebenarnya soal TIU, TKP maupun TWK berjumlah 100 yang harus dikerjakan, tak terlalu sulit. Hanya saja, untuk TKP dan TIU yang soalnya panjang-panjang, menyita banyak waktu untuk membaca sehingga menguras konsentrasi.

“Soal TKP itu panjang-panjang jadi waktunya banyak tersita untuk membaca. Tapi ya sudah lah,” ujarnya legawa.

Senada, Atik Pramitasari (28) peserta asal Manyarejo, Plupuh yang keluar di sesi yang sama, mengaku juga tak lulus. Nilainya di bawah ambang batas minimal atau passing grade. [link]

Kemarin saya juga mengantar teman tes CAT di GOR Diponegoro, Sragen.

Teman saya ini, begitu tekun belajar sebelum tes diadakan, walau hasil berkata lain: nyaris lolos. Ada ambang batas nilai yang gagal ia penuhi meski secara kumulatif nilainya tinggi. Saya tidak tahu betul mengenai ini, tapi memang ia lemah di matematika. Sepanjang mengamati hasilnya yang real time bisa disaksikan dalam layar monitor, lagu milik The Script – “Superheroes” berdengung di kepala terutama di bagian: “When you’ve been fighting for it all your life. You’ve been struggling to make things right. That’s how a superhero learns to fly” dan tentunya, “A heart of steel starts to grow”.

Yang jelas, sebelum teman saya ini masuk dalam ruang ujian, peserta ujian sebelumnya yang berjumlah 450 orang hanya meloloskan tidak lebih dari lima orang.


Biasanya kalau hidup sedang tidak bersahabat, saya selalu mengulangi kalimat ini: “Mana yang akan di jalani. Arah mana yang akan di tuju. Pilihan salah, terkadang membawa kita ke arah yang benar. Pilihan yang benar, membuka jalan menuju pengalaman. Saat di hadapan pilihan. Pilih untuk menjalani.”

Bangs, penulis yang total untuk musik

Sepanjang mereka bekerja bersama, Bangs, dalam pandangan Uhelszki adalah sosok yang jorok, tak teratur, kotor, dan lebih mirip pecundang yang menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan serta mengisap ganja setiap hari.

Namun, di luar tabiatnya yang dekaden tersebut, Bangs diakui Uhelszki, merupakan penulis yang total dan mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk musik. Ia tak ragu untuk mendengarkan musik dengan teliti, mengulangnya berkali-kali, agar dapat menilai secara maksimal, apakah musik yang sedang disajikan memenuhi kualifikasi bagus atau tidak.

M. Faisal, “Lester Bangs dan Bagaimana Menulis Musik dengan Gairah“, Tirto.

Sara Schaefer, “What I’ve Learned Performing Comedy at Over 50 College Campuses”

Performing at colleges has made me a better comedian. I am more nimble, focused, and far better equipped to handle the hypersensitive adult audiences I’ve been encountering in Trump’s America. Ironically enough, the most offended people at my shows these days are usually older white dudes who angry I made a joke about men.

Sara Schaefer, “What I’ve Learned Performing Comedy at Over 50 College Campuses“, Vulture.