Kening kukenang 

I used to think, setiap kali gue pacaran sama cowok, means I fall in love with the guy. But then, gue sangat yakin bahwa sampai saat ini I have experienced ‘what they called l-o-v-e’ just once. I mean, completely fallen in love physically, mentally and emotionally. Mungkin lo bertanya, ‘Cuma sekali? What makes you so sure?’

Pernah ngerasain perasaan yang saking senengnya sampai-sampai lo ngerasa kayak floating gitu? Rasanya sama seperti kalau lo jinjit sambil loncat dan melayang di dalam air.

Pernah ngerasain unstoppable nyengir joker seharian seperti yang dialami John Travolta waktu kotak obatnya ketuker sama Robin Williams di salah satu adegan film Old Dogs?

Pernah ngerasain jadi hypersensitif sama lagu-lagu, scent, atau apapun yang somehow reminds you of someone?

Pernah ngerasain hidup lo tiba-tiba berubah jadi oh-so-drama, sehingga seolah-olah lo adalah pemeran utama di layar lebar cerita hidup lo sendiri?

Pernah ngerasain like, you can do kayang, headbang, ngiler, salto, nangis maksimal dengan ekspresi tidak estetis, nari tori-tori, nambah porsi makan di luar etika dan akal sehat, or anything, bareng orang yang lo taksir berat tanpa takut dia bakal ilfeel sama lo? Malah bareng dia lo sepenuhnya nyaman jadi diri lo sendiri.

Beberapa hari ini saya betul-betul ingin membaca buku “Kening” yang ditulis Rakhmawati Fitri a.k.a Fitri Tropica. Tidak tau kenapa. Mungkin karena bosan dengan buku yang ditulis dengan bahasa baku, atau sejenisnya. Saya membaca buku terbitan Terrant ini pada masa putih abu-abu, isinya khas anak muda; kisah cinta [yang ditulis dengan unik], juga hal-hal seru bin aneh yang Fitrop tuliskan. Saya suka semua bab di buku ini, favorit saya, selain yang ditulis di atas, ada di Bab “Love Letter Untukmu. Dan kamu” yang romantis namun sangat komedik sehingga berbeda.

Advertisements

Bagaimana Andrea Hirata menelanjangi kita

Mungkin saya pernah mengatakan demikian: masterpiece Andrea Hirata adalah “Maryamah Karpov”. Sejam lalu, tiba-tiba saja, buku itu jatuh seperti meminta dibaca ulang. Maka saya membacanya ulang. Ini bagian yang ‘menelanjangi’ itu.

Orang Melayu, luar biasa, jika bepergian, tradisi mereka adalah membawa barang dalam jumlah tak kira-kira. Sehingga muncul istilah di antara mereka sendiri: seberat bangkit. Akibatnya antrean makin repot. Setiap anggota badan dipakai menenteng, memikul, memanggul, menjunjung, atau merengkuh sebanyak mungkin bawaan. Maka tak jarang seseorang ditambati sampai lima kardus besar tak tahu berisi apa. Meskipun isi kardus itu hanya sumbu kompor dan dengan mudah didapat di Belitong, kalau Kawan berani memberi gambaran logis, mereka tak terima.

“Jangan sembarang bicara, ya, ini sumbu kompor dari Jakarta, tahu!”

Saking terpesonanya dengan buku ini, ternyata saya membuat kutipan lain Andrea Hirata di blog ini. Yang pertama soal humor artifisial orang Melayu. Kedua, representasi Andrea saat di Eropa. Ketiga, soal cara pandang,  bagian ini menceritakan bagaimana masalah sulit bisa dipecahkan dengan mengubah cara pandang.

[Kutipan Novel] Living Single – Holly Chamberlin

“Bagaimana pun,” JoAnne berkata dengan angkuh, “aku tetap berpendapat bahwa memberi tahu orang lain bahwa mereka bisa berubah total adalah suatu kebohongan yang diabadikan agar profesi terapis tetap laku. Perubahan memang mungkin, tetapi hanya di dalam batasan tertentu. Batasan watak dan kepribadian dan setiap hal kecil lain yang menjadikan seorang individu sebagaimana adanya.”

Living Single” – Holly Chamberlin

[Kutipan Buku] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

Si Tokek diam-diam menyaksikan itu semua, juga bagian yang ini:

Satu malam minggu, di satu tempat parkir yang lengang, Ajo Kawir dan Iteung saling merapat ke satu dinding. Mereka berciuman. Menurut Si Tokek, barangkali itu kali pertama Ajo Kawir berciuman dengan seorang gadis. Ciuman membara yang nyaris tanpa akhir.

Si gadis memegang tangan Ajo Kawir, menuntunnya masuk ke dalam pakaiannya, meletakkan di kedua dadanya. Itu membuat Ajo Kawir agak merinding, bahagia sekaligus cemas. Ia meremas dada si gadis, dan Iteung menggeliat. Suhu badannya meningkat.

Dengan napas yang berpacu, sebelah tangan Iteung menyelinap ke balik celana Ajo Kawir. Si bocah menyadari ini, buru-buru menangkap tangan Iteung. Dengan lembut menjauhkannya dari kancing celana.

Ia tahu tangan si gadis akan kembali lagi. Sebelum itu terjadi, Ajo Kawor merasa harus melakukan sesuatu. Sementara tangan kirinya terus bergerak di dada si gadis, tangan kanannya turun dan masuk ke balik rok Iteung, menyelinap ke balik celana dalam. Entah dari mana ia belajar hal itu. Jari tengahnya merayap dan menemukan sejenis celah. Gadis itu sudah basah. Jari tengahnya terus menelusuri celah itu hingga menemukan sejenis lengkungan dan tonjolan kecil. Jari tengahnya masuk perlahan dan menjelajah.

Si gadis serasa melambung, menggeram, sebelum memekikkan kalimat pendek, dan terkulai di bahu Ajo Kawir. Keduanya kemudian melorot dan duduk di tanah, bersandar ke dinding.

“Terima kasih,” kata Iteung. “Aku belum memberi bagianmu.”

“Kapan-kapan saja.” suara Ajo Kawir terdengar tak yakin.

[“Seperti Dendam, Rindu Harus di Bayar Tuntas”, Eka Kurniawan]

[Kutipan Buku] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

Bertahun-tahun kemudian, ketika ia bertemu Jelita, Ajo Kawir sering teringat hari itu. Hari ketika ia memutuskan untuk menikahi Iteung. Lama setelah itu ia sering merasa keputusannya sebagai hal konyol. Hal paling konyol dalam hidupnya. Tapi siapa yang bisa menghalangi cinta? Ia mencintai Iteung, dan Iteung mencintainya. Mereka sama-sama ingin menikah. Tak peduli pernikahan itu akan berlangsung tanpa kemaluan yang bisa berdiri.

“Syarat pernikahan hanya ada lima. Paling tidak itu yang kuingat pernah kudengar dari corong di masjid. Satu, ada dua mempelai. Dua, ada wali perempuan. Tiga, ada penghulu. Empat, ada ijab kabul. Lima, ada saksi. Tak pernah kudengar pernikahan mensyaratkan burung yang berdiri,” kata Si Tokek. Kata-katanya terdengar masuk akal.

SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS – EKA KURNIAWAN

Seperti dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas

Awal membaca saya mengira ini novel erotis, lanjut ke beberapa bab selanjutnya cerita menarik dan -entah kemasukan angin apa- saya menghabiskannya sekali membaca dalam kurun tiga jam. Kemaluan, di buku ini digunakan sebagai alat penyampai maksut. Saya terheran-heran.

“Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Itu yang kupelajari dari milikku selama bertahun-tahun.”