Wawancara Andhika Diskartes

Bagaimana awalnya Anda bisa terjun dalam dunia investasi?

Ketertarikan saya dengan dunia investasi sudah sejak lama, lulus SMA lebih tepatnya (2005). Kemudian ketika masuk bangku kuliah, saya mulai berlangganan majalah-majalah bidang ekonomi, investasi, perbankan. Tentu saja harus menyisihkan uang bulanan saya. Menginjak tahun kedua, saya menggunakan uang yang seharusnya bayar kos setahun, untuk membeli reksadana pertama. Setelah 3 bulan langsung dijual, karena harus bayar kos.

Berapa ‘modal’ awal saat pertama kali berinvestasi dan kesan pertama saat membeli saham pertama?

Dulu saya lulus kuliah ketika usia 21 tahun, kalau tidak salah ada batas usia minimal untuk beli saham kala itu. Atau ada hal lain yang ga bisa buat saya daftar, saya agak lupa.

Jadinya saya hanya bisa ikut seminar gratis yang diadakan di BEJ pas weekend. Kemudian ketika usia sudah 23, saya beli saham pertama kalinya. Saham-saham properti. Kesan beli saham pertama? Deg-degan, takutnya duit bakal hilang. Untung aman-aman saja, ga dibawa kabur perusahaan efek.

Modal pertama saya pas itu adalah 15 juta, ga berapa lama ternyata untung jadi 17,18, 19, hingga tembus 20 juta. Sayang ga bertahan lama karena harus mengalami pahitnya belajar di pasar modal.

Kalau masih jadi mahasiswa yang punya tabungan Rp 10.000.000, mana yang lebih baik; beli saham macam Warren Buffet, trading saham atau valas, beli reksadana atau usaha offline – semacam jual batagor atau bikin warung kopi?

Sudut pandang orang beda-beda. Saya pernah menjalankan semua opsi yang Anda tanyakan, even jual martabak. Untuk saat ini, bisnis yang paling cocok dengan saya adalah investasi saham. Mahasiswa adalah titik kritis dengan realitas dunia. Saya tidak akan menyarankan Anda untuk mencoba satu hal, tapi mencoba semuanya adalah pilihan terbaik. Toh dengan sepuluh juta memungkinkan kok. 2 juta untuk trading, 3 juta untuk investasi, 5 juta usaha offline. Beres kan?

Saya – ini pengalaman pribadi – takut untuk trading lagi, waktu itu mainnya valuta asing di IQ Option, Rp. 3.000.000 lantas trauma. Ada tanggapan soal ini? Kapan waktu yang tepat saat memulainya?

Valas adalah mata uang, bukan tempat growing aset, beda banget dengan saham, bahkan beda dengan mata uang digital yang tumbuh based on project.

Saya mempelajari valas, dan juga sempat masuk ke dalamnya, tapi tidak ketemu pola fundamental, bahkan dari sisi teknikal juga sangat susah dihitung. Oleh karena itu, saya sarankan menjauh dari valas.

Tapi jangan lantas trauma di tempat lainnya, masa mahasiswa trauma gara-gara gagal sekali? Dinginkan kepala Anda, dan kalau sudah tenang, bisa dilanjut lagi untuk memulai trading lagi.

Apakah investasi itu untuk semua orang?

Tentu saja.

Seperti apa tanggapan Bang Kartes tentang yang ditulis Kiyosaki tentang Cashflow Quadrant?

Risiko selalu berbanding lurus dengan potensi keuntungan. Sama halnya dengan kuadran Kiyosaki, dimana semakin ke kanan, akan semakin sukses. Namun tentu saja butuh modal kalau mau jadi investor atau business owner, kecuali Anda seorang putra mahkota. So, sebelum ada di kuadran kanan, mumpung masih muda carilah pengalaman dan belajar memahami pasar dengan menjadi employer. Not bad kok.

Saran seperti apa yang bisa Bang Kartes berikan agar mahasiswa lebih melek terhadap investasi dan manajemen keuangan?

Kalau kamu demen menghasilkan duit, manajemen keuangan adalah ilmu paling tepat. Itulah yang membuat saya senang belajar manajemen keuangan ketika kuliah, meski nilai lainnya gak bagus-bagus amat. Tapi nilai manajemen keuangan saya, salah satu yang bagus di antara orang lain.

Dunia investasi sudah sangat bergeser, sehingga mahasiswa sekarang akan menemui persoalan serius ketika lulus kelak. Jaman kakek nenek, investasi wajarnya ya tanah atau rumah. Kemudian jaman saya, saham sudah sangat disambut baik. Sementara jaman kalian, investasi aset digital ‘mungkin’ akan mengambil alih peranan. Ready?

Setelah berinvestasi dan trading saham, yang disitu uang alirannya deras sekali, apa perbedaan pandangan Bang Kartes dulu – saat belum trading – dibanding sekarang mengenai uang?

Gak berubah, meski mempelajari uang, it’s just a game. Don’t think too much. Spend wisely, have fun, and make money. Again. Jangan terlalu serius, meski kata Warren Buffet, investasi yang benar adalah membosankan, tapi sayang juga kalau hidup ini dibikin bosan.

Seperti apa bentuk uang di masa depan? Apa uang kertas – konvensional – akan bertahan? Berapa lama?

Pasti bertahan, bagaimanapun dunia secara keseluruhan masih jauh dari kata canggih. Selama negara tertinggal masih ada, maka uang kertas akan tetap ada. Sementara uang digital mulai mengambil tempat. Nah seninya berarti mengkombinasi kedua mata uang tersebut.

Seperti apa manajemen keuangan Bang Kartes tiap bulannya?

Prioritas saya adalah investasi di saham dan kripto. Saya mengalokasikan minimal 50% setiap bulannya. Sisanya, digunakan untuk kegiatan sehari-hari, termasuk have fun, dan menjalankan bisnis blog.


Andhika Diskartes adalah investor dan trader saham. Ia memiliki blog yang membahas seputar keuangan, saham, uang virtual, dan reksadana. Wawancaranya sendiri via email.

Advertisements

Tanya jawab singkat dengan beberapa mahasiswa Hubungan Internasional

Artikel ini, berisi tanya jawab singkat dengan beberapa mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional. Secara acak. Tentang pengalaman menempuh studi, dan hal-hal lain.

Irma Nurlaela Sari Ramadani, Universitas Jenderal Achmad Yani.

Ada senangnya dan dukanya dimana HI adalah jurusan yang paling di utamakan, ada pengetahuan dan public speaking-nya dan kita bisa tau bagaimana berpikir secara terbuka bukan hanya kondisi dalam negeri tapi tiap-tiap negara meliputi ekonomi, keamanan, kebijakan, dan isu-isu dalam dunia internasional.

Pengalaman pertamanya dalam HI adalah bahwa kita ditekankan harus membuka pikiran-pikiran kita secara rasional dan harus mengetahui berita berita internasional terbaru. Awalnya sebelum masuk HI berita-berita internasional tidak saya butuhkan, akan tetapi setelah masuk HI, hal-hal itu menjadi penting karena materi materi HI selalu disangkut-pautkan dengan isu-isu terbaru tersebut.

Ekspetasi saya sebelum masuk HI, berasumsi bahwa HI adalah jurusan yang sangat sulit. Orang-orang bilang bahwa HI kuliahnya seperti ini, ternyata agak berbeda. Setelah masuk jurusan HI kita harus mengutamakan politic attitude dengan baik, serta cara berpikir lebih luas. Berpikir global.

Dina Adhi Sayekti, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Seru, soalnya bisa mengetahui perkembangan dunia karena hal itu yang kita pelajari. Terus bisa belajar bahasa asing selain bahasa Inggris. Bisa meningkatkan bahasa Inggris, karena tiap materi menggunakan bahasa Inggris walaupun dari kelas reguler. Pengalaman masuk pertama senang sekali karena udah bisa ngerasain masuk ke jurusan yang diinginkan dan  gak perlu pakai seragam kaya anak sekolah lagi. Hahaha.

Ekspetasinya, kirain semua pelajaran bahasa pengantarnya pakai bahasa Inggris ternyata dicampur-campur pakai bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, dan ternyata kirain semuanya tentang politik ternyata semua pelajaran dipelajari di HI.

Yang saya sukai mata kuliah Pengantar Kajian strategis, karena itu kebanyakan mempelajari tentang persenjataan dan perang.

Yosua Peranginangin, UPN Veteran Yogyakarta.

Sebelum masuk HI, ada jurusan lain yang kira-kira menarik?

Ada sih. Kemarin sebelum masuk HI sempat tertarik masuk Teknik Nuklir. Hahaha.

Apa perbedaan antara ekspetasi dan realita, sebelum dan sesudah masuk HI?

Ekspektasi: HI belajar budaya. Realita: di dominasi politik.

Tidak suka politik?

Suka.

Betulan? Hahaha. Padahal banyak sisi buruknya.

Gak ada sisi buruknya kalau digunakan pada kaidah-kaidah normatifnya menurutku.

Mata kuliah favorit?

Teori Hubungan Internasional.

Alasannya?

Suka gak harus ada alasan. Hahaha. Gak sih. Aku lebih suka menganalisis sesuatu dengan banyak teori dibanding sekedar asumsi. Makanya suka belajar teori.

Condong ke kiri (sosialis) atau kanan (liberal)? Jawaban tengah-tengah tidak diterima. Hahaha.

Nasionalis, Bung. Sejauh ini setelah mendalami cukup dalam, masih belum bisa milih kiri atau kanan.

Soal refugees Rohingya dari Myanmar, Indonesia harus menerima atau menolak?

Diterima kalau menurutku. Sebenarnya sih alasan normatif. Ya pandanganku sih Indonesia ini dikenal sebagai negara yang paling netral. Banyak ratifikasi perjanjian perjanjian kemanusiaan. Ya nanggung, Bung. Sudah basah mending mandi sekalian. Mungkin yang harus dihimbau bukan pemerintahnya. Tapi masyarakat Indonesia dan ASEAN-nya untuk mewadahi refugees. Mewadahi maksudku lebih seperti bantuan moral dengan datang dan berkomunikasi langsung dengan refugees. Karena refugees itu setauku gak stress karena harta mereka. Tapi karena lingkungan mereka yang gak aman dan merambat ke psikisnya. Sesuai dengan WHO tahun ini yang mendata masalah kesehatan dunia saat ini adalah masalah psikologis, dan temanya “Let’s Talk“, maka bantuan moralnya harus lebih banyak diberi.

Analieza Ilmiatun Mufiedah, Universitas Slamet Riyadi.

Pilih HI karena memang ambitious di international thingy. Sebenernya sedikit kaget karena sebanyak ini politiknya dan sebagaimana ribetnya ngurusin negara lain meanwhile negara sendiri aja konfliknya masih pointless, tapi that’s the beauty in it, I suppose. Bisa memandang dunia dengan berbagai macam teori-teori yang diajarkan di International Relations is the one that I love the most. And nggak mau munafik that prestige of being an IR student is one thing that makes me proud of being a part of it.

Ekspetasinya bisa keliling dunia dengan gratis, but hell nooo! Well, we can if we have the money, yes. But, I dont think money’s enough. Kalau ilmunya belum mencukupi ya jangan sampai malu-maluin di negeri orang gitu.

Mata kuliah paling susah, Teori Hubungan Internasional itself. Hahaha. Ya karena harus paham banyak kasus dari berbagai teori. Belum lagi analisis mana yang paling tepat.

As a feminist I’d say my role model is my mom. Intinya, she’s the one who taught me to survive in such cruel and unfair life by embracing the power of being a female.

Rana Sausan, Universitas Islam Indonesia.

Kenapa pilih HI?

Prospeknya luas.

Tempat berkarir idaman kamu nanti?

Kalau kebanyakan anak HI bilang di Kedutaan bla-bla-bla. Aku gak mesti sih.

Di mana?

Masih belum kepikiran untuk itu.

Sebelum milih HI, ada keinginan prodi lain?

Ada.

What’s that?

Wah, banyak.

😀

An interview with Sakis Gouzonis, electronic music composer

Sakis Gouzonis.

Tell me about your childhood.
I was born on 16 March 1978 to Nicolas and Frederica Gouzonis in Thessaloniki, Greece. When I was ten years old, we moved to the town of Elassona, which is located at the foot of Mount Olympus, the mythic place of the twelve Olympian gods. At the age of twelve, I asked my parents to buy me an electronic keyboard. When I touched my first electronic keyboard for the very first time, I felt a strange power all over my body. I instantly understood that music is my gift. I can still remember myself sitting at my parents’ home in Elassona, spending countless hours every single day playing, composing and arranging music.

When you were a kid, who was your favourite musician?

When I was a kid, the music from the 80’s and 90’s had a major influence on me. Some of my favorite music composers were Vangelis, Jean Michel Jarre, Yanni, John Williams, James Horner, Alan Silvestri and Danny Elfman. When I first listened to the music of the aforementioned great music composers, my life took a whole new direction.

I dont know anything about Greek traditional music. Does it have any impact on your music?

The traditional music of Greece represents a unique fusion of eastern and western styles. The main instrument played today on most parts of the country is the violin, which arrived in Greece by the late 1600’s. The violin gradually pushed out an older instrument called the lyra, except on the island of Crete and a few other islands where the lyra is still played occasionally. Personally, I don’t listen to this type of music.

Why are your music tracks available as free downloads? What do you expect from that?

By giving away my music for free, hopefully what I will get is a lot of people on my website and at my gigs. Consider it a promotional tool. Besides, everything will be free in the future. The advances we have seen in the last few years -cars that drive themselves, humanoid robots, 3D printers, etc.- are only the beginning of what is yet to come. People will not have to work to feed themselves, clothe themselves or put a roof over their head.

As a musician, you travel constantly. What life lessons have you learned so far?

One of the most important lessons life has taught me is how incredibly valuable and important time is. We need to respect time and be very careful about how we spend it, because we can never stop time or move backwards in time. Our time is now, not tomorrow. Now is the time to follow our dreams and give our gifts back to the world.

I am twenty. What life advice would you give to someone my age?

Invest in your friends. You need two or three close friends, who you can talk to about everything. Friendship has fallen on hard times in our times, but it is one of the most precious gifts we can have.

What is your opinion about Indonesia?

The entire country is lovely. The people are really kind, open and eager to share their culture with visitors. Also, the food is very delicious. And the beach sunsets are so wonderful. There are also many great temples and other cultural sites, which I would like to visit some day. Of course, some day I would love to perform at the Aula Simfonia Jakarta. I’ve heard that it’s the best and most sophisticated concert hall ever built in Indonesia.

What do you think of yourself?

I think the three words that can describe me the most are happy, funny and mysterious. Friends usually associate me with the color yellow; sunshiny, bright, smiley and amusing.

Do you have an opinion on the guitar?

The guitar is an instrument that can be easily picked up by anyone, but its tonal options are limited. Compare a good guitar with a good synthesizer, and you will see that the synthesizer has way more tonal options; it can sound like just about anything. As much as you try to make a guitar sound like a tuba, it really won’t sound much like a tuba. On the other hand, you don’t bring a synthesizer to a campfire; it’s usually bulky, and you most likely can’t plug it in.

In closing, what are your views about the Greek government?

I never mix music with politics. My music appeals to people of all political views. Given the opportunity, I would like to invite all Indonesians and all people around the globe to visit my website at sakisgouzonis.com , where they will be able to stream and download my electronic music for free.

Empat Tentang Tonjel TANPA BATAS

Ada beberapa kemiripan antara Tonjel (Tanpa Batas) dengan Travis Barker idolanya. Pertama, Tonjel juga seorang drummer.  Kedua, tattoo di tubuhnya. Selain dua hal itu, mungkin akan banyak perbedaan di antara keduanya.

Yaiyalah!

Kali ini, Tonjel menjawab beberapa pertanyaan seputar band-nya. Hanya empat pertanyaan saja karena memang didesain agar ia tak banyak bercanda, dan saya tidak terlalu banyak mengetik.

Tonjel Tanpa Batas. Foto dokumen: Tonjel.

Tentang hubungan Endank Soekamti dengan Tanpa Batas.

Tonjel: Endank soekamti adalah band yang menginspirasi kita sehingga kita berniat melahirkan band Tanpa Batas.

Tentang berapa kali Tanpa Batas dan Endank Soekamti tampil dalam satu event yang sama.

Tonjel: Mungkin sekitar 4 – 6 event kalau gak salah.

Tentang tiga band yang mempengaruhi Tanpa Batas; Blingsatan, Endank Soekamti dan Blink 182.

Tonjel: Mungkin dari tiga band itu kita contoh konsep musiknya gimana dan cara perform-nya gimana terus kita masak jadi satu dan terbentuklah unique melodic punk yang seperti aliran di Tanpa Batas ini.

Tentang lirik yang mereka buat.

Tonjel: Lirik dari lagu lagu kita dibuat secara jamaah, jadi apa yang ada dipikiran itu ya langsung jadi lagu aja. Mau lirik humor dan nyeleneh pun tetap masuk karena kita keseharian kita juga gak jelas.

*

Arsip interview band lainnya klik di sini.