Rina Soemarno dan program YPP 2017

Kemarin, blog ini memecahkan rekor kunjungannya. Itu adalah kesenangan tersendiri buat saya. Yang menarik, di terma pencarian, ada beberapa pengunjung yang tersesat di blog ini karena ingin mencari informasi tentang Rina Soemarno, yang saat ini telah diresmikan Joko Widodo sebagai Duta Besar LBBP RI untuk Bangladesh, merangkap Republik Demokratik Nepal berkedudukan di Dhaka. LBBP, Luar Biasa Berkuasa Penuh.

Saya sendiri, pernah bertemu dengan Beliau dua kali. Pertama, saat Ibu Rina memberi kuliah di kampus. Kedua, pada 7 April lalu saat Beliau memberi kuliah di Kantor Kementerian Luar Negeri.

Pada saat yang sama (7/April), Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno L. P. Marsudi, sedang dalam kunjungan kerja di New York menemui Kofi Annan, Chair of the Advisory Commission on Rakhine State. Pertemuan itu, membahas perkembangan terbaru proses penyelesaian isu Rakhine di Myanmar. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

Dan, saat di Kemlu, saya menerima beberapa penjelasan tentang program PBB yaitu YPP (Young Professionals Programme) 2017. Tentu ini menarik. Semacam lowongan kerja bekerja untuk PBB. Klik di sini untuk informasi lengkap.

Intinya, YPP membuka jalan bagi siapa pun yang ingin berkarir di dunia Internasional, di bawah PBB. Atas nama PBB. Bukan atas nama negara masing-masing.

Warga Indonesia sendiri, sangat sedikit yang bekerja di bawah PBB. Saya lupa angkanya. Tapi, persentasenya sangat sedikit. Salah satu syarat utamanya adalah lulus S1 terlebih dulu, dan lolos test. Kemampuan bahasa juga utama, terutama Inggris, dan minimal satu bahasa besar lain; Arab, Perancis, atau Chinese.

Yang bisa berkarir di PBB, lewat program YPP tentu bukan hanya lulusan Hubungan Internasional, tetapi lulusan program studi apa pun. Perwakilan Kemlu yang memberi presentasi saat itu, menekan kan agar banyak fresh graduate yang setidaknya mencoba ikut test, siapa tahu lolos kualifikasi. Jadi, silakan dicoba.

Advertisements

Menulis Banyak Huruf untuk Diganjar Satu Huruf, Entah A, B atau C

​Wisata berbasis lingkungan, wisata budaya, wisata religi, wisata kuliner, wisata di alam liar bahkan wisata horor. Semua tersedia di Indonesia. Anda pilih mana?

Tentu semua disesuaikan keinginan, kebutuhan dan budget Anda. Tapi yang jelas, setelah semuanya tersedia di negeri sendiri, hal pertama yang dilakukan adalah berbangga hati dulu, lalu mengunjunginya satu persatu.

Saya kira, yang paling dibutuhkan untuk mengunjungi berbagai wisata yang ada hanyalah effort . Tentu hal ini selain mengidentifikasi destinasi wisata, menyiapkan

itinerary dan mencari info tentang apa yang menarik di sebuah destinasi.

Berikut kisah mengenai effort saya yang sangat memprihatinkan.

Saya sering menyalahkan diri kenapa saya ini begitu malas ke mana-mana. Betapa saya sering melewatkan hal-hal yang menakjubkan di sekitar begitu saja.

Setelah lebih dari sembilan tahun di Jakarta saya baru tahun lalu bermain ke Kepulauan Seribu. Pulau itu begitu mengesankan dan membuat saya rindu untuk mengunjunginya kembali.

Sebagai salah seorang yang sempat jadi warga jakarta walau temporer, saya menyesal hanya mengetahui Jakarta dari Monas, Kota Tua, Kemang atau Ancol saja. Padahal, ada banyak sisi lain Jakarta yang belum terjamah.

Beberapa dari kita, terlebih saya, lebih senang menikmati weekend di rumah saja. Menonton DVD, memakan camilan sambil membaca buku, tidur atau bersepeda. Padahal, banyak sudut di sekitar kita yang menawarkan pengalaman yang menarik.

Hari sabtu pagi, sering saya tergoda untuk menonton video di Youtube, tenggelam di internet. Tidak heran mengapa saya begitu kampungan saat pertama kali mendaki dan kelelahan di hamparan lapang di gunung Merapi.

Pasar Bubrah Merapi

Belakangan hamparan lapang itu saya tahu adalah Pasar Bubrah. Tempat yang katanya pasarnya hantu dan sejenisnya.
Ada kesenangan maupun kengerian tersendiri setelah sampai rumah. Ada kenangan yang mengawang, mungkin saja saya tidur disaksikan makhluk tak kasat mata.

*

Bicara soal seperti apa wisata yang baik, tentu setiap orang memiliki pandangannya masing-masing.

Bagi seorang yang memiliki budget lebih, atau kalangan atas, biasanya memiliki kriteria yang lebih dibanding lainnya.

Tujuan wisata mereka tentu tempat wisata dunia, yang telah terkenal seantero dunia. Urusan penginapan memilih yang hotel berbintang. Akomodasi yang memudahkan dan, tentunya berkelas.

Tapi, pada umumnya, dalam menentukan destinasi wisata, wisatawan ingin segala sesuatunya mudah. Apalagi pilihannya banyak.

Urusan menginap, dari hotel bintang lima sampai penginapan sederhana ada. Urusan perut, banyak pilihan dari restoran mewah sampai kaki lima. Tinggal budget dan selera yang menentukan.

Mari berbicara Bali. Saya mengunjunginya saat SMP. Sebuah destinasi wisata dunia yang Indonesia miliki.

Bali memiliki tiga hal pokok; sea, sun dan sand. Alamnya juara. Budayanya memikat dunia. Infrastruktur juga sudah baik, baik itu lewat udara, air maupun jalur darat. Bandara kelas Internasional, Pelabuhan, Stasiun semua memadai.

Silakan baca review tentang berbagai destinasi wisata di Bali dan kebanyakan Anda akan menemui review yang positif. Sulit menemukan

review buruk dari wisatawan setelah merasakan wisata air di Pantai Kuta, bersantai di Seminyak, menyewa perahu mengelilingi Tanjung Benoa.

Artinya, Bali sukses membangun pariwisatanya.

Tak ada halangan jika ingin mencapai Bali. Arus turisme massal pun terjadi. Ekonomi meningkat.

**

Sebelum memutuskan untuk pergi ke mana, tentu kita membuat jadwal, seperti waktu dan berapa lama akan di sana. Hanya numpang lewat atau menginap.

Di jaman digital, tentu semua menjadi mudah. Termasuk saat memutuskan wisata.

Sudah jadi rahasia umum sebelum memutuskan sebuah destinasi, orang cenderung mencari info sebanyak-banyaknya tentang destinasi yang akan dituju.

Jadi, perkiraan apa yang akan didapat di sana pun bisa dibuat. Mana saja yang akan dikunjungi, makanan khas yang wajib dicoba, suvenir apa yang akan dibeli.

Dan hebatnya, berbagai macam informasi yang sifatnya review bisa didapat dengan mudah. Hanya bermodal handphone dan koneksi internet.

Mau cari review tentang hotel ada, situsnya banyak. Restaurant? Melimpah ruah. Agen travel yang bagus? Silakan baca blog-blog personal para traveller, cari yang bagus sekaligus murah.

*

Intinya, tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi sudut-sudut menarik di negeri ini.

Yang dibutuhkan hanya tiga; budget , tujuan dan kemauan. Tentu ini dari sudut pandang saya.

Budget bisa dicari. Tujuan bisa ditentukan. Kemauan untuk menjelajah tiap orang pasti ingin.

Saya sendiri masih ada misteri. Kenapa tujuan dan kemauan tidak sinkron dengan budget .

Catatan: Ini adalah tugas UTS mata kuliah Budaya dan Pariwisata. Tiap mahasiswa diminta membuat karangan berdasar kata yang dipilih oleh dosen pembimbing. Semakin banyak kata yang berhasil dirangkai, semakin baik nilainya.

Dua Narasumber: Rina P. Soemarno dan Muhsin Syihab

G20

Setelah libur panjang, masuk kuliah pukul 08.00 pagi adalah persoalan. Ditambah malamnya hanya tidur tiga jam adalah persoalan lain. Tapi tetap, harus fokus.

Hari ini, senin (09/05), kuliah diisi oleh sosialisasi Kemlu. Dua narasumber yang dihadirkan adalah Rina P. Sormarno selaku Sekretaris Jenderal Direktorat Multilateral Kementerian Luar Negeri dan Muhsin Syihab, Deputy Director for Sustainable Development. Mereka pernah bekerja bersama saat mengurusi urusan Multilateral di Jenewa, Swiss.

Continue reading

Budaya Politik Indonesia Mengekor Kepada?

politic

Bertambah satu lagi ilmu di kepala saya. Budaya politik Indonesia. Yang akan ditulis di sini masuk ranah budaya politik yang buruk.

Langsung saja, dibahas tanpa intro berkepanjangan. Jadi budaya politik kita mengekor kepada:

Senioritas. Siapa yang bisa mengelak akan hal ini. Figur senior yang ada di tubuh partai sangat mendominasi. Apa yang diucapkan SBY tentu lebih “bersuara” di masyarakat ketimbang yang diucapkan Ibas.

Continue reading