Pause and take a good look at your surroundings

I decide to read this essay twice. You also have to.

Advertisements

DLS 2018: Tim Berlian

Setelah melewati puluhan hari dan ratusan laga, tim sepakbola impian saya akhirnya terwujud. Saya kira, tim yang saya beri nama Berlian ini sangat tangguh di semua lini. Penjaga gawang utama adalah Anders Lindegaard, penjaga gawang keduanya saya serahkan ke Thibaut Curtois. Karena formasinya 3 – 5 – 2, skema tiga bek saya menggunakan jasa Juan Bernat, Antonio Rudiger, dan Juanfran. Dua gelandang tengah adalah Paul Pogba dan Adrien Rabiot, kedua pemain ini posisinya adalah Central Midfielder, maka keduanya lebih bergerak dinamis. Jika menginginkan pertahanan lebih kuat, saya menggunakan jasa Fransisco Fernando dan Nemanja Matic yang posisinya Direct Midfielder. Gelandang serang di tim saya adalah Luka Modric yang pelapisnya juga tak kalah baiknya, Kevin De Bruyne. Di posisi ini, saya sudah beberapa kali membeli pemain, nama terakhir yang saya jual adalah David Silva. Dua sayap kanan – kiri adalah Gareth Bale dan Mohamed Salah, pelapisnya Ousmane Dembele untuk Bale dan Dele Alli untuk Salah. Untuk urusan mencetak gol, saya suka striker yang posisi mulanya WF – Winger Forward – karena lebih bisa aktif geraknya mencari bola, tidak model striker menunggu, nama Lionel Messi dan Antoine Griezmann adalah pilihannya. Cadangan untuk striker hanya ada satu nama, yaitu Harry Kane. Sementara itu, sebenarnya saya masih kurang sreg dengan lini pertahanan karena kurang unggul menangkal serangan dari lawan, Bernat dan Juanfran sering kalah di duel udara. Untuk itu, saya juga membeli Federico Fazio karena posturnya tinggi. Kebetulan juga Fazio sedang apik bersama AS Roma sekarang. Karena jatah kuota pemainnya tersisa satu, saya mau membeli bek lagi. Nama yang muncul adalah Alex Sandro dari Juventus.

Kekerasan media masa orde baru

Jika kita pernah menonton film The Shawsank Redemption (1994) yang diperankan oleh Morgan Freeman, tentu kita akan ingat dengan salah satu adegan di mana Brooks Hatlen, seorang penjaga perpustakaan di lembaga pemasyarakatan, yang justru merasa asing ketika bebas dari penjara dan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Brooks merupakan salah seorang tahanan yang telah menjalani hukumannya selama berpuluh tahun. Lamanya jangka waktu yang ia alami telah menyebabkannya terinstitusionalisasi dengan lingkungan penjara sehingga ia merasa lebih nyaman untuk hidup di sana. Brooks merupakan bukti bahwa hegemoni dan kekuasaan dapat berpengaruh terhadap kesadaran seseorang hingga sejauh itu.

Minanullah, “Jejak Kekerasan Media di Masa Orde Baru“.

Pasca tragedi 9/11

Dengan sistem yang cukup keras ini sebagain kelompok Salafy Jihadi bertransformasi menjadi kelompok Taliban yang memang didukung oleh Amerika Serikat lewat diberikannya pelatihan oleh CIA Amerika Serikat dan salah satu tokoh yang dilatih oleh CIA yaitu Osama bin Laden walaupun hubungan antara Amerika Serikat dan Taliban menjadi konfliktual dan saling menyerang. Memanasnya hubungan Taliban dan Amerika Serikat memuncak saat tragedi 9/11 yang menyerang Pentagon, Amerika Serikat.

Pasca tragedi 9/11 Amerika secara terang-terangan melakukan invasi ke Afganistan dengan dalih untuk melawan gerakan terorisme di dunia untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Namun, tindakan yang di ambil oleh Amerika ini malah mempengaruhi stabilitas dari Afganistan baik secara nasional, regional maupun internasional. Konflik yang beragam semakin banyak tumbuh di Afganistan sehingga Afganistan bisa dikatakan sebagai The Land of Turmoil.

Makalah salah seorang rekan di kampus yang membahas Afghanistan di tengah kepentingan nasional Amerika Serikat.

Ngudarasa penerbit indie

Ini dari Wijaya Kusuma Eka Putra yang ngudarasa tentang penerbit indie:

Jika ada anggapan penerbit indie Jogja jago bikin buku, sebenarnya enggak juga. Bukunya memang ‘keren-keren’ kalau dibahas di warung kopi, tapi di pasar bebas, ternyata keren saja tidak cukup.

Gerakan memang sat set. Malam diskusi, besoknya buku jadi.

Masalah cuap-cuap distribusi tidak khawatir. Medsos musti ramai dan berisik. Gempur terus. Jumlah pemesan harus berbanding lurus dengan jempol yang nyangkut.

Jual seratus eksemplar, megap-megap minta ampun. Jangan kira teman tujuh ribu di Facebook itu jadi jaminan buku lima ratus ludes.

Grup reseller? Tidak menjamin juga. Untuk buku tertentu, jelas jadi rebutan. Tinggal diam kayak bagi sembako. Kamu segini, kamu segitu. Giliran judul ‘tidak menjual’ ditawarkan, satu per satu tiba-tiba meninggalkan grup. Alasannya sederhana: kepencet. [Link]

 

Our beliefs is the unity of God and people

In a country where religion plays a large part in public life, followers of traditional beliefs, known generally as aliran kepercayaan, hope the ruling will finally end decades of unofficial discrimination that makes it difficult for them to get permits to open gathering places, obtain marriage licenses and get access to public services like health care and education. It also complicates efforts by those believers to get military, police or civil service jobs, or even burial plots in cemeteries.

There are hundreds of different forms of aliran kepercayaan spread across the vast Indonesian archipelago. In Java, the most populous island, it is often a mix of animist, Hindu-Buddhist and Islamic beliefs.

Forms of kepercayaan can include certain periodic religious observances, such as communal meals or acts that could be compared to Muslim men praying together on Fridays or Sunday Christian services. These may include ritual offerings to appease spirits, even though the practitioners could also be registered as Muslims, Catholics, Buddhists or one of the other recognized religions.

It is estimated that at least 20 million of Indonesia’s 260 million people practice local traditional beliefs, but the numbers could be much higher, according to analysts, as some are also followers of Islam, Christianity and other major religions.

[…]

“We’ll keep fighting for equality; we have equality, legally speaking, but in reality we don’t,” said Endang Retno Lastani, an elder with one Java-based group, whose national identity card is blank in the religious affiliation section.

“Our belief is the unity of God and people, just like other religions,” he said. “So what’s wrong with that?”

Click here for more, “Indonesia’s Ancient Beliefs Win in Court, but Devotees Still Feel Ostracized“.