Nick Offerman’s insane giggle

Advertisements

I think I’ll shop somewhere else

“I like to shop, but I hate going to those fancy stores in midtown. They treat me like I don’t have any money. They’re always telling me prices when I didn’t ask. Either that, or they figure I’m coming in to steal. I went to one store recently, and as soon as I walked in the door, I saw the manager lean in to the clerk and say, ‘Watch her.’ And so this girl starts following me around– real close. She was acting like she wanted to help. If I picked up an item, she’d say: ‘Let me hold onto that for you.’ So I thought to myself: ‘I’ll give you something to hold.’ I walked around that entire store. I went on a real spree. By the time we were finished, she was holding 25 dresses. You could barely see her face. Then I led her up to the cash register and said, ‘You know what? I changed my mind. I think I'll shop somewhere else.’”

A post shared by Humans of New York (@humansofny) on

Kumar

Saat ini, kerusakan akibat dari imperialisme dan neoliberalisme terlihat begitu terang-benderangnya. Saat ratusan dari ribuan orang telah kehilangan hidup mereka atas pendudukan yang dipimpin Amerika Serikat di Irak dan Afghanistan, jutaan lainnya lebih menderita di bawah pembinasaan sehari-hari oleh pasar bebas. Namun ada rekonfigurasi kekuatan besar yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Nasionalisme sekuler, dengan daya tarik massanya yang cukup, adalah kekuatan penggerak utama atas perubahan di era 1950-an dan 1960-an. Pada 1970-an, terdapat usaha bersama rezim Arab untuk menstabilkan wilayah mereka dan bagian dari usaha itu terjabarkan dengan mendukung kekuatan ‘kaum Islamis’ melawan nasionalisme sekular dan kiri.

Pemberontakan dalam beberapa bulan terakhir tampak mengindikasikan putusnya status quo pada dua atau tiga dekade terakhir. Gerakan massa yang berkembang di wilayah ini ditujukan untuk melawan diktator yang telah memerintah dengan kekebalan hukum. Mereka juga adalah para pemberontak yang melawan sistem ekonomi dan politik yang telah dikenal sebagai neoliberalisme. Pemberontakan ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang karakter distribusi ekonomi kekayaan – yaitu siapa yang memerintah dan siapa yang punya kepentingan.

Solusi jernih yang menghubungkan perjuangan melawan kerusakan baik yang ditimbulkan oleh kapitalisme dan imperialisme di Timur Tengah, hanya dapat ditempa dengan membangun kembali kaum kiri. Seperti yang telah ditunjukkan dari berbagai perjuangan dari Pakistan dan Iran, ke Aljazair, Tunisia, dan Mesir, sistem ini memaksa orang-orang biasa untuk melawan balik. Dalam konteks inilah, kaum kiri yang ada dapat tumbuh dan memperkuat basisnya, dan sebuah kiri baru muncul. Kiri yang seperti ini tak hanya akan menunjukkan sebuah kepemimpinan yang berbeda melawan imperialisme, namun juga terorganisir melawan prioritas kapitalisme neoliberal dan kelas-kelas pemimpin lokal yang beruntung karenanya. Ini adalah tantangan milenium baru.

Ini kesimpulan dari apa yang ditulis oleh Deepa Kumar dalam, “Islam Politik: Sebuah Analisis Marxis”. Tentu Anda harus membaca isinya sebelum mencapai ke kesimpulan, jika tertarik pada analisis Marxisme. Saya mendapatkannya dalam bentuk ebook, dan diterbitkan oleh Indoprogress, pengantar oleh Coen Husain Pontoh.

Kepentingan pemerintah – kepentingan negara

Selama ini ada kecenderungan pemahaman filosofi politik yang berlaku umum, yaitu kepentingan pemerintah dianggap sama dengan kepentingan negara. Suara pemerintah dianggap suara negara. Yang tidak setuju terhadap tindakan pemerintah dianggap tindak melawan negara.

Padahal, negara adalah lembaga yang di dalamnya batas-batas dan sistem penyejahteraan rakyat diselenggarakan. Pemilik kedaulatan tertinggi adalah rakyat. Negara merupakan rumusan di mana sejumlah dimensi kedaulatan rakyat diformalisasikan. Sementara pemerintah sungguh-sungguh hanya merupakan sekumpulan orang yang ditugasi oleh rakyat untuk melayani kepentingan penyejahteraan tersebut.

Ini dari buku “Markesot Bertutur” lagi, Emha Ainun Nadjib, melalui buku ini seperti menjadi dosen pribadi buat saya. Menjelaskan ini itu, tidak berbelit-belit. Saya telah mengutipnya beberapa kali di blog ini, tentu tidak baik – bila terlalu banyak. Lalu saya merekomendasikan untuk membelinya, entah itu versi cetak ataupun digital. Karena ini kumpulan esai, jadi bisa dibaca saat senggang. 

Marx -Engels, surat-suratan

Tahun 1849, menyusul kekalahan revolusi 1848, Marx kembali terusir dari Brussel dan memutuskan pindah ke Inggris. Engels pun dengan segera menyeberangi perbatasan mengikuti jejak langkah karibnya itu. Marx menyewa penginapan murah di London, sementara Engels memilih pergi mengelola bisnis keluarganya di Manchester, sekitar 300 km jauhnya dari Marx. Dari 1850 hingga 1870, ketika Engels pensiun dari bisnis dan pada akhirnya bisa bergabung kembali dengan kawannya di ibukota Inggris itu, keduanya hidup pada periode yang sangat intens dalam kehidupan mereka. Mereka menulis catatan-catatan beberapa kali dalam seminggu ketika peristiwa-peristiwa politik dan ekonomi besar berlangsung pada masa itu. Lebih dari 2.500 surat menyurat saling mereka kirimkan dalam dua dekade tersebut. Keduanya juga mengirimkan sekitar 1.500 surat-surat korespondensi kepada para aktivis dan intelektual di hampir sekitar 20 negara. Untuk aktivitas yang sangat luar biasa ini, mesti ditambahkan 10.000 surat yang ditujukan kepada Marx dan Engels dari pihak ketiga, dan 6.000 surat lainnya, yang walaupun sulit dilacak, namun diketahui dengan pasti pernah ada. Ini sungguh sebuah harta karun yang tak ternilai harganya, mencakup gagasan-gagasan yang, dalam beberapa kasus, gagal mereka formulasikan secara utuh dalam tulisan-tulisannya.

Kisah yang menarik dari persahabatan Marx dan Engels, baca utuh klik di sini.