Link

Earthporm: “Photographer Removes Phones From Photos To Highlight Our Terrible Addiction“.

Advertisements

Penulis jaman sekarang harus punya komunitas – fanbase

“Kalau untuk aku alhamdulillah kalau udah kirim ke redaksi nggak pake seleksi, cuma tahapan lain ya tetep, kayak revisi dan segala macemnya itu.”

“Oh gitu, enak dong ya. Jadi udah ada kepastian terbit, cuma tinggal nunggu waktu. Karena setahu aku sih, ada beberapa yang ikut seleksi dan ditolak gitu naskahnya.”

“Iya ada beberapa yang gitu. Itu kenapa jaman sekarang penulis juga harus punya komunitas gitu, Kak. Kayak Tere Liye kan dia aktif di Facebook, atau Fiersa Besari dia aktif di Instagram dan Twitter, jadi dikenal dan mudah untuk proses promosi. Kanya juga nulis di Skywrite, itu yang buat Kanya punya pembaca sendiri,” jelasku. Satu hal yang aku suka dari Rega dia selalu tertarik saat aku menceritakan pekerjaanku, itu cukup membuatku merasa dihargai. Dan dia juga punya pengetahuan yang luas, jadi kami selalu nyambung saat membahas sesuatu.

Masih membaca kisah yang sama di Wattpad dengan posting kemarin.

Kanya bukunya udah berapa yang terbit? Sepuluh!

“Iya kadang kita nggak bisa nebak rejeki adanya di mana, kayak aku. Dulu mana pernah ada niat buat bener-bener jadi penulis kayak sekarang, mau berhenti juga sempet ditentang sama keluarga, takut nggak makan lah, apa lah. Ya ketakutan orangtua sih, tapi buktinya sekarang aku baik-baik saja,” terangku.

“Bisa dibayangin sih. Aku salut lho sama kamu, Nya. Pasti ngejelasin ke keluarga itu nggak mudah. Tapi bener sih, apapun profesinya kalau kita tekun pasti ada aja jalannya. Kanya bukunya udah ada berapa yang terbit?” Aku suka apresiasinya ini, tidak memandang pekerjaanku sebelah mata.

“Sepuluh.”

“Wow! Keren. Siapa tahu nanti kayak Raditya Dika bisa dibikin film, atau kayak novel Dilan tuh.”

“Kakak baca Dilan juga?”

Rega mengiyakan. “Pas lagi booming-nya, baca punya adik sih. Lucu aja gombalannya.”

Sedang membaca kisah di Wattpad, “I am a Dreamer” oleh Alnira. Hasil cari rekomendasi di internet, lalu masukkan ke perpustakaan pribadi dan langsung baca. 34 bab baru sampai di bab 5. Cocoklah buat isi-isi waktu luang.

Install XFCE menghapus Unity, bermasalah atau tidak

Aside

Setelah update ke Ubuntu 18.04, laptop menjadi berat. Entah mungkin kesalahan waktu update atau apa, Desktop Environment di Ubuntu-nya sendiri jadi macam-macam; Unity, Ubuntu on Wayland, Gnome, Gnome on Xorg, dan lain-lain.

Kemarin, waktu saya mengedit video di Open Shot, program lag dan laptop hang – tidak bisa digunakan sama sekali. Solusinya: cabut baterai. Saya mengulangi hal itu – mencopot baterai padahal laptop kondisi menyala – berulang kali.

Belum menanyakan hal ini di Grup Ubuntu Indonesia, yang jelas, saya menghapus beberapa Desktop Environment yang ada, walau beberapa tidak bisa. Lalu saya menginstall DE yang lebih light: XFCE. Hasilnya suka, namun, penggunaannya berbeda sekali dengan Gnome atau Unity. Tapi memang ringan.

Dari kemarin, gegara mengedit video tak kunjung selesai karena programnya hang, saya ngoprek Linux ini seharian – sampai sekarang. Hasilnya, ya, sedikit lebih bisa mengoperasikan Terminal. Menjalankan perintah, dan kalau biasanya hanya sebagai user biasa sudah mulai berani ke mode root Terminal. Install XFCE juga di Terminal, tidak mengunduh Software-nya lalu install menggunakan GDEBI INSTALLER.

Dua DE yang mau saya sisakan di Ubuntu 18.04 ini ada dua; Gnome dan XFCE. Penginnya Unity mau saya hilangkan juga, tapi takut sistem laptopnya crash, karena di forum-forum pengguna Linux, sistem crash itu adalah efek sampingnya.


Update: akhirnya saya uninstall Unity-nya.

Calon presiden pembohong atau presiden pembohong

Kedua, para pembenci tak ada matinya. Mereka hanya pingsan sementara waktu, atau linglung sesaat seperti orang kena setrum listrik, tetapi akan segera bangkit lagi untuk melakukan serangan balasan. Ketika Ratna Sarumpaet tidak mungkin mengelak lagi dan hanya bisa meminta maaf karena telah membuat cerita karangan, para pembenci kaget, tetapi hanya sebentar. Setelah itu mereka membuat gerakan salto dan mengeluarkan pernyataan heroik: “Lebih baik calon presiden yang dibohongi dibandingkan calon presiden pembohong.”

Menurut saya dua kualitas itu sama-sama buruk. Calon presiden yang gampang dibohongi, jika ia memenangi pemilihan, tentu akan menjadi sasaran empuk bagi para politisi berwatak Sengkuni. Sedangkan calon presiden pembohong sudah pasti tidak pantas dipilih. Seorang pembohong bahkan tidak pantas menjadi calon presiden, anggota DPR, maupun ketua karang taruna.

Karena itu frase “calon presiden pembohong” saya pikir adalah tuduhan serius yang perlu dipertanggungjawabkan oleh siapa pun yang menyampaikannya. Jika tidak, ia hanya akan menjadi pamflet berisi cerita horor—atau sekadar pameran perangai kekanak-kanakan yang diwujudkan antara lain dengan memproduksi lagu-lagu dengan lirik yang berselera rendah. Kreativitas terakhir yang menunjukkan perangai kekanak-kanakan mereka adalah mengganti lirik lagu anak-anak Potong Bebek Angsa dan menjadikannya sebuah provokasi.

Ini kutipan tulisan AS Laksana di rubrik ‘Telatah’ Beritagar, “Tiga Pelajaran dari Ratna Sarumpaet“.