Category Archives: Blogs

Spiritualitas pohon

Dalam riwayat agama Buddha, kita mengetahui bagaimana Siddharta Gautama mendapatkan pencerahan lewat atau akibat pohon. Seperti ditulis Deepak Chopra dalam Buddha (2011), “Siddharta Gautama mendapati dirinya duduk di atas empuk dan lembut di bawah pohon ara.. Napas alam bercampur dengan napasnya; pohon-pohon dan tanaman rambat seakan tumbuh dari tubuhnya..”. Betapa kesatuan atau integrasi manusia dan pohon dapat meloncatkan batin atau spiritualitas ke level yang lebih tinggi.

Wilayah immaterial, tempat kesadaran mental dan spiritual kita berada, memang selalu dipenuhi ruang metafisika yang selalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Namun, ketika logika atau akal kini begitu dominan dan seolah memberi banyak aspek kemajuan pada peradaban, kearifan pada tumbuhan dan hewan justru kian terbuang. Alhasil, keselarasan alam dan harmoni antara manusia dan alam menjadi pincang. Bencana pun menggedor kehidupan kita, fisik ataupun batin.

Bencana itu, bahkan di tingkat global, kini sudah di depan mata. Bukan akan menjelang, tetapi sudah terjadi. Banyak pula negeri akan hilang. Begitu pun nyawa dan kehidupan.

Namun, kita terus saja alpa dan terus menghidupi, bahkan mengasapi, kobaran api nafsu dan syahwat kita. Api yang membakar alam, menghanguskan pohon-pohon, termasuk hati dan budaya kita. Juga tentu, masa depan anak cucu kita.

Dikutip dari kolom Teroka koran Kompas berjudul “Pohon yang Menceritakan Manusia”, ditulis oleh Saeful Achyar, Pengelola Majalah Papirus.

Pasar ekspor mebel Indonesia

Kompas hari ini (27 Maret 2017) melaporkan: “Di kawasan Asia, menurut Presiden MM Group Peter A Tjioe, Singapura salah satu pasar potensial. Negara itu sedang meningkatkan hubungan bisnis regional sehingga Indonesia sebagai negara tetangga terdekat sangat potensial mengisi peluang tersebut.”

“Hal itu, menurut Peter, lebih efektif dibandingkan mengikuti pameran. Sebab, produsen mebel melakukan jemput bola secara langsung, bukan menunggu pembeli seperti saat mengikuti pameran. Terlebih, biasanya pengunjung pameran merupakan orang yang sudah biasa bergelut di bidang industri mebel.”

“Hal yang sama disampaikan pemilik PT Multi Manao, Budianto Budi. Indonesia masih dilirik pembeli dari luar negeri karena mampu memproduksi mebel dengan desain yang rumit. Selain mengutamakan fungsi, mebel buatan Indonesia juga dikenal memiliki cita rasa seni tinggi. Pasalnya, tenaga kerja di Indonesia unggul dalam hal keterampilan.”

“Setiap tahun, tidak kurang dari 900 model mebel dibuat di perusahaan yang memiliki 3000 karyawan. Produk itu menyasar di segmen mebel fungsional, tetapi memiliki daya kreasi seni, seperti penambahan ukiran, ornamen, dan bentuk yang rumit.”

– “Tenaga kerja di Indonesia masih lebih terampil dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam.” ungkap Budi.

Pers Komunis

Kuba pada 2016, berada di posisi 171 dari 180 negara dengan penyensoran ketat bagi pers-nya. Ini berdasarkan data dari World Press Freedom Index.

ANTARANEWS, pada 2013 melaporkan seorang penulis blog asal Kuba mengecam sensor terhadap pers dan peraturan pembatasan kebebasan media oleh otoritas Kuba. Ia berkomentar terhadap televisi, radio, koran, dan majalah yang semuanya dimiliki pemerintah.

Sebagian besar rakyat Kuba, dinilainya, masih bergantung pada informasi yang diberikan oleh media milik pemerintah.

Masyarakat Kuba sendiri, dilarang menghabiskan sepertiga dari pendapatan bulanannya untuk mendapat akses internet selama satu jam.

Di Kuba, hanya pegawai sipil, ilmuwan, dan para guru yang bisa mengakses internet selama bekerja, sedang layanannya di rumah-rumah masih dilarang.

Di belahan dunia lain, Indonesia khususnya, sedang gencar-gencarnya melawan hoax karena warga negaranya diberi kebebasan yang luas.

Sepenggal dongeng bulan merah

Tengah malam itu, malam tatkala aku melihat penggalan kepala Lidia disusun dengan kepala-kepala orang lain, aku mencari cara mengambil mayat Lidia. Mayat bergelimpangan di jalan-jalan kampung. Hanya orang gila yang mau mengurusi pemakaman mereka. Darah masih menyembur dari tubuh-tubuh lain di tempat lain, perang masih terbakar dan membakar, ketegangan belum sedikit pun mereda. Berbahaya kalau ada orang memindahkan mayat-mayat dari jalan, bisa-bisa dari jauh sebatang anak panah atau mata tombak melesat masuk ke jantung atau kepala.

Tetapi aku tahu, aku harus mengambil risiko. Aku tidak bisa membiarkan tubuh dan kepala Lidia tergeletak di jalan begitu saja dan tidak berbuat apa-apa.

[Metafora Padma, Bernard Batubara]

Sudah selesai membaca kumpulan cerpen 157 halaman ini. Menarik, terutama di tiga cerpen terakhir. Saya sendiri, menyukai cerpen berjudul Kanibal. Cerpen yang absurd sekaligus horor. Sementara yang saya kutip di atas, ada di cerpen berjudul Sepenggal Dongeng Bulan Merah. Mengambil tema konflik antar suku.

Baca juga: Gru [kutipan lain di Metafora Padma]