Jenius verifikasi

Kaskus punya thread menarik tentang Jenius – produk Bank BTPN – klik di sini. Sampai posting ini ditulis, obrolan pengguna Jenius masih ‘hangat’. Saya sudah mendaftar ke Jenius, tentu karena membaca thread di Kaskus itu. Fiturnya oke punya. Di sisi lain, Money Smart menandingkan Jenius dengan digibank by DBS, klik di sini. Kalau soal proses verifikasi, Jenius lebih mudah. Karena bisa melakukan proses verifikasi di kantor cabang BTPN Sinaya atau Purnabakti terdekat. Siang ini saya mau ke kantor cabang BTPN Sinaya. Fitur yang saya butuhkan dari kebutuhan ‘banking’ bisa Jenius penuhi; tidak ada biaya bulanan dan fitur transfer gratis – untuk kegiatan membeli reksadana.

Advertisements

Foto foto FSTVLST manggung di Salatiga kemarin

Ini foto dari gigs musik yang kemarin saya tonton: Proudphere. Penampil utama adalah FSTVLST. Tampil memukau. Di tengah-tengah acara berlangsung, sempat-sempatnya mereka bertanya ke audiens mau dibawakan lagu apa yang susah untuk mereka cover. Hasilnya, ada “Don’t Look Back In Anger”-nya Oasis, Sheila On 7, Seringai, dan beberapa lain.

Saya terlalu menikmati pertunjukkan mereka. Bermodalkan bungkus rokok minta dari teman – karena saya bukan perokok – dan sepeda motor bonceng gratisan, saya ikut bersenang-senang. FSTVLST sedang tur 4 kota, pantau saja Instagram mereka. Kalau tidak salah, hari ini mereka manggung juga.

Foto-foto oleh Wahyu Hidayat (@hidayatwdj) yang setelah acara berlangsung saya lihat ia bawa kamera, saya minta foto hasilnya, ia mengiyakan. Yah, tiap konser, saya memang punya kebiasaan meminta foto dari orang-orang yang bawa kamera DSLR. Acak saja. Untuk dokumentasi. Kebanyakan mereka foto untuk belajar. Jadi bisa diminta secara gratis. Hehehe. Tentu hal ini berarti dua, saya bisa menikmati pertunjukkan tanpa harus membagi konsentrasi dengan memotret dan saya dapat teman baru sekaligus dokumentasi. 

Mencari deadline agar kreatif

Saya orangnya suka cari-cari deadline. Tugas yang harusnya rampung dikerjakan di waktu senggang, tidak rampung karena memang tidak dikerjakan. Giliran dekat masa deadline-nya, baru dikerjakan. Otak saya, akan bekerja lebih keras dari biasa dan saya suka hal itu. Senggang adalah waktu untuk bersantai. Titik. Tidak ada yang boleh mengganggu, apapun, siapapun. Kemarin teman saya meminta datang ke seminar proposal skripsinya. Saya, yang pengangguran terselubung ini, judul saja belum nyari lagi. Ini mendekati tengah malam dan deadline laporan magang yang sedang saya kerjakan adalah besok. Kamis lalu, dosen pembimbing magang saya ketus sekali ke saya: “kamu ke mana saja, magang selesai 21 Desember sampai sekarang laporan belum kelar.”

I’m doing well

View this post on Instagram

“I was only sixteen when I got pregnant. I was so disappointed in myself. I thought I’d end up like one of those pregnant teens on Maury. I did finish high school – I will say that. But afterwards I had no good options. My family didn’t have money. My son’s father wasn’t around. It was on me to do something. So I joined the Navy. I was basically gone for the next six years. I had to leave my son with my parents. It was an extremely hard decision. But anything I did was going to look bad—if I had stayed behind, I would have just been a bum ass ‘project girl’ with a kid. I had to provide. And I was still a kid myself, so I needed experience. When I came home for good, my son was seven years old. He lives with me now. We’re working on it. I’d love for him to be a ‘mama’s boy,’ but in a lot of ways he’s still closer to my parents. He gives them random hugs and kisses. I have to ask for mine. So we’ve still got a ways to go. But I used the GI Bill to get a bachelor's degree. And I’ve got a job where I make real money. I’m proud of myself. I work in a place that I never could have imagined when I was sixteen. I have ‘work friends.’ I spend my day with people who are motivated to be better—not just in work, but as people. I’m doing well. And considering how I started— that’s an amazing thing.”

A post shared by Humans of New York (@humansofny) on

Link Cepat: 7

  1. Mimin Dwi Hartono, “Prospek Hak Asasi Manusia 2019“, Beritagar.
  2. Linda Christanty, “Suara Tuhan“, Indoprogress.
  3. Ardy Nurhadi Shufi, “Tak Ada Anak Emas, Semua Klub Liga 1 Adalah Korban“, Panditfootball.
  4. Astuti Parengkuh, “The Greatest Showman: Pertunjukkan Sirkus yang Melawan Kenormalan“, WordPress.
  5. Samuel Mulia, “Awal Tahun“, Kompas.

Renovasi Pasar Legi tanpa membunuh

Di bawah dinas pasar bernama Kabupaten Parimpuna, pasar warisan Mangkunegara I ini segera disolek. Tahun 1936 dibikin pasar permanen tersusun dari tembok berwarna putih, jika ditengok dari samping mirip sebuah benteng. Tak mandeg di situ, pertokoan berjajar di muka pasar semula berbahan kayu diganti bahan beton. Lantas, tinggi rendah dan luas bangunan disamakan. Semua itu ditata dalam bentuk toko sejajar mengelilingi pasar agar sedap dipandang bola mata.

Selokan pembuangan air juga diperbaharui. Semula halaman yang mengelilingi pasar terbuat dari aspal yang ganas diganti lantai beton. Kenyamanan pengunjung dipikirkan pula oleh petinggi praja, yakni tempat mangkal atau parkir gerobak ditata dan dipindah di belakang pasar dan ditutupi pagar. Penguasa tidak semena-mena menggusur wong cilik. Pemilik pedati yang mencari peruntungan dengan menyewakan armadanya ke pedagang ini harus direken. Pasar diramaikan pula oleh pemilik warung yang menjajakan makanan. Boleh dikatakan renovasi modern ini tidak membunuh atau menceraiberaikan ekosistem pasar yang telah terbangun selama satu setengah abad lebih.

Ini tulisan dari Hari Priyatmoko di Solopos per tanggal 31 Oktober 2018. Tulisan ini memotret kisah historis dari keramaian Pasar Legi yang mengalami kebakaran pada 29 Oktober 2018. Kemarin saya lihat, tentu, setelah sekian bulan Pasar Legi kembali aktif ke posisinya semula: menjadi juru selamat para bakul, pedagang, makelar, distributor, supir, dan masyarakat pada umumnya.

Welas asih terhadap sesama, jangan hedon

Secara alamiah, pada umumnya, manusia pun menyadari akan peringatan Mahatma Gandhi, “tersedia cukup di dunia ini segala hal bagi kebutuhan manusia, tetapi tidak akan cukup bagi keserakahan manusia.”

Jadi secara prinsip, tidak dapat dipungkiri, ada sebagian manusia yang (benar-benar) hedonis, di antara manusia yang pada umumnya mampu mengendalikan nafsu hedonistiknya.

Dalam keseimbangan dan keharmonisan hidup segenap umat manusia, perilaku hedonis jelaslah bukan perilaku mulia. Perilaku ini hanya mengedepankan ego diri. Dia tak mempedulikan kepentingan atau nasib orang lain. Dia mengabaikan soal kebutuhan versus kerakusan. Dia akan mengabaikan moralitas sebagai manusia yang beretika, yang welas asih kepada sesama.

Ini dari tulisan Pongki Pamungkas di rubrik Motivasi Solopos berjudul “Perihal Hedonis”, terbit pada 9 September 2018 lalu.