Kau pergi, aku menemukanmu di mana-mana

Akhirnya kau pergi, dan aku menemukanmu di mana-mana.” – Aan Mansyur

Advertisements

Part of me definitely died when our daughter was born

View this post on Instagram

“My wife urged me to take this little trip to New York so that I can clear my head. It’s just for two days. But my leash has been so short lately that it feels like an eternity. Part of me definitely died when our daughter was born. I was always a free spirited person. I traveled a lot. I never had a boss. I had all the choices in the world. But a lot of that disappeared in order to make things possible for my daughter. I watch her during the day. And I’m not mad about it. This is the happiest time of my life. It would be great if my daughter was here right now. It’d be so fun to watch her run around the park. But I’d also be worried about her safety. And the diaper bag. And the car seat. And the stroller. And our next meal. And our next place to stay. There’s always a flickering flame of worry that doesn’t go away. Back home we live by the beach. And if my wife ever senses that I’m getting overwhelmed, she tells me to go jump in the ocean. And that resets me for a few days. It’s all I need. I just need a little space to be me. Because it can be so easy to get lost in helping a new person become someone.”

A post shared by Humans of New York (@humansofny) on

‘Chef’ sebenarnya punya formula yang amat sederhana yaitu tentang zero-to-hero

Carl Casper (Jon Favreau) adalah seorang chef ternama yang kini bekerja untuk sebuah restoran besar milik Riva (Dustin Hoffman) di Los Angeles. Suatu hari datanglah seorang food blogger sekaligus kritikus makanan ternama di Los Angeles, Ramsey Michel (Oliver Platt) ke restoran tersebut. Carl dan para asistennya pun mulai bekerja membuat menu baru yang spesial sebelum akhirnya Riva melakukan interupsi mendadak dan menyuruh Carl supaya tetap membuat menu standar seperti biasa. Hasilnya masakan yang ia buat pun dicela dan mendapat review buruk dari Ramsey. Bahkan tidak butuh lama, review tersebut tersebar luas lewat twitter. Carl dan Ramsey pun mulai terlibat perseteruan di twitter yang akhirnya berujung pada Carl kehilangan pekerjaannya. Disisi lain Carl pun sedang mempunyai masalah lain yang lebih personal, yaitu menjalin hubungan dengan sang putera, Percy (Emjay Anthony) yang selama ini sering terlupakan akibat kesibukan Carl.

Chef sebenarnya punya formula yang amat sederhana yaitu tentang zero-to-hero dibalut drama hubungan ayah dan anak yang renggang akibat sang ayah sibuk bekerja. Sang ayah sudah bercerai dengan sang ibu dan itu membuatnya tidak bisa meluangkan semua waktunya untuk sang anak. Sebuah formula-formula yang begitu klise dan tentu saja sudah dapat ditebak berakhir seperti apa. Jadi sebenarnya yang penting dari film semacam ini adalah prosesnya, apakah proses menuju akhir yang predictable itu menarik atau justru sama predictable-nya dan berujung pada kebosanan. Untungnya Chef punya naskah yang baik dan penyutradaraan yang kuat dari Jon Favreau. Film ini punya komedi yang sederhana dan lebih banyak muncul dari percakapan dan interaksi alamiah antara karakter-karakternya. Kelucuannya mengalir secara natural dan tidak berlebihan tapi sangat efektif. Sentuhan drama ayah-anak dalam film ini pun minim dramatisasi tapi justru itulah yang membuat dramanya kuat dan cukup menyentuh.

Ini review film “Chef” dari blog Movfreak. Saya menonton filmnya, yang dirilis tahun 2014, sabtu kemarin. Tentu saja, saya rekomendasikan untuk menontonnya.

I just traveled. Often driving alone.

Mostly, though, I just traveled. Often driving alone, first from ward to ward in Chicago, then from county to county and town to town, eventually up and down the state, past miles and miles or cornfields and beanfields and train tracks and silos. It wasn’t an efficient process. Without the machinery of the state’s Democratic Party Party organization, without any real mailing list or Internet operation, I had to rely on friends or acquaintances to open their houses to whoever might come, or to arrange for my visit to their church, union hall, bridge group, or Rotary Club. Sometimes, after several hours of driving, I would find just just two or three people waiting for me around a kitchen table. I would have to assure the hosts that the turnout was fine and compliment them on the refreshments they’d prepared. Sometimes I would sit through a church service and the pastor would forget to recognize me, or the head of the union local would let me speak to his members just before announcing that the union had decided to endorse someone else.

Ini dari bukunya Barack Obama, “The Audacity of Hope”.

Libur lupa bawa buku

Lupa bawa satu buku menarik dari ribuan buku menarik di perpustakaan kantor. Saya lupa pula judulnya. Yang jelas, tentang ‘perempuan’, ‘feminisme’, dan ‘pemberdayaan’. Jumat jadi hari yang panjang, saya tugas ‘lapangan’ yang menyenangkan. Ke Klaten. Antar-antar undangan dan obrol macam-macam, dari perkembangan pemberdayaan perempuan hingga hal-hal klenik yang ada di pemilihan kepala desa. Bapak BPD dari sebuah desa bilang, “Mas, boleh percaya boleh tidak tapi memang hal-hal seperti itu memang ada!”. Saya mengangguk saja. Tak ambil urusan soal itu.

Ini hari libur. Kebetulan badan sedang tak enak. Syahdunya memang baca buku saja. Tapi lupa bawa buku. Tak ingin dulu membaca banyak-banyak dari layar monitor. Di kantor telah terpapar keterlaluan seringnya.

Mengurus suami saja tidak becus, kok malah jadi koordinator nasional program

“Ibu seorang janda cerai? Jadi bagaimana mungkin ibu bisa jadi Koordinator Nasional program ini, kalau mengurus suami sendiri aja ibu tidak becus? Buktinya ibu dicerai ama suami.” Kalimat ini diucapkan dengan lantang penuh penghinaan oleh seorang Pak Kecik (Kepala Desa) pada suatu pertemuanku dengan anggota kelompok perempuan kepala keluarga (Pekka) di salah satu desa, Kecamatan Idi Rayeuk, Nanggroe Aceh Darussalam, ketika mengetahui bahwa aku adalah seorang janda cerai beranak tiga.

Menyakitkan, tentu saja. Dulu aku tidak percaya bahwa masyarakat umumnya suka memandang rendah, hina dan cenderung menyalahkan perempuan yang menjadi janda karena perceraian. Tapi statusku sebagai seorang janda dan pekerjaanku mengoordinir sebuah program pemberdayaan untuk perempuan kepala keluarga yang sebagian besarnya adalah janda, membuktikan hal itu memang terjadi. Janda adalah aib karena berstatus janda berarti mempunyai kelemahan sebagai perempuan dan istri dalam sebuah perkawinan. Tanpa pernah mau melihat berbagai faktor penyebab dan kondisi perempuan menjanda, masyarakat cenderung menghakimi dan memberikan label buruk dengan kejamnya pada janda. Tidak heran banyak perempuan yang mati-matian bertahan dalam perkawinannya meskipun dia mengalami berbagai tindak kekerasan dan ketidakadilan.

Seorang temanku bahkan rela bertahan dalam perkawinannya yang penuh darah karena suaminya suka memukul sampai dia babak belur hanya karena dia merasa tidak sanggup menyandang status janda. Dan banyak juga para janda yang malu menyebutkan statusnya serta berusaha menyembunyikannya. Meskipun masyarakat lebih bisa memaklumi dan menghormati janda karena suami meninggal, namun tuntutan dan harapan terhadap mereka sama saja yaitu tidak kawin lagi – karena kawin lagi berarti perempuan ‘gatal’, berperilaku tidak sesuai gambaran tradisional tentang perempuan.

Ini dari buku “Sebuah Dunia Tanpa Suami”.

Jaringan seksual dan penggunaan Napza pada pengguna Napza suntik di enam provinsi

Pengguna Napza suntik (penasun) memainkan peranan yang penting dalam penyebaran HIV di Indonesia. Kelompok ini bukan saja memiliki risiko tinggi terinfeksi karena perilaku berbagi jarum suntiknya, tetapi juga memiliki risiko akibat hubungan seksual berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola hubungan seksual, jejaring pasangan seksual dan perilaku menggunakan Napza, terkait dengan pengayaan dan penajaman program intervensi bagi kalangan penasun. Penelitian dilakukan di 10 kota di enam propinsi di Indonesia – Sumatera Utara, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur – dengan jumlah sampel 720 responden. Kebanyakan responden adalah berjenis kelamin laki-laki (92%) dengan usia berkisar antara 16 sampai 50 tahun. Sebagian besar responden telah mengenal atau dijangkau oleh program Harm Reduction antara tahun 2006-2008.

Beberapa hasil pokok yang dapat disebutkan di sini adalah sebagai berikut.

  1. Usia pertama kali menggunakan Napza dan usia pertama kali berhubungan seksual berada dalam satu fase yang sama, yaitu antara 16 sampai 20 tahun, dengan usia paling muda mencapai usia 10 – 11 tahun.
  2. Jenis Napza yang paling banyak digunakan pertama kali oleh penasun adalah ganja dan alkohol, dan keduanya merupakan precursor penggunaan heroin. Penasun yang mengikuti layanan rumatan metadon, sebagian di antaranya juga masih menggunakan heroin dan subutex serta jenis napza lainnya. Proporsi penasun menggunakan zat-zat lain selain opiat terlihat cukup besar. Kecenderungan pola penggunaan zat beragam (polydrugs) menunjukkan kebutuhan penangan adiksi berbeda di kalangan pecandu.
  3. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa hampir semua penasun pernah melakukan penggunaan napza suntik di luar kota, baik yang satu provinsi maupun di luar provinsi. Kota-kota besar di Jawa, terutama Jakarta, Surabaya dan Bandung merupakan lokasi yang paling sering disebut oleh penasun dari luar ketiga kota tersebut. Kenyataan ini menunjukkan betapa mudahnya infeksi penyakit yang dapat ditularkan melalui penggunaan jarum suntik non steril dari satu kota ke kota lainnya.
  4. Kebanyakan penasun pertama kali berhubungan seksual dengan pacarnya. Selain itu, selama hidupnya penasun terlibat hubungan seksual dengan berbagai jenis pasangan, yaitu pasangan seks tetap, pasangan seks kasual dan pasangan seks komersial. Pada periode yang bersamaan mereka dapat melakukan hubungan seks dengan semua jenis pasangan tersebut.
  5. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa hampir semua penasun pernah melakukan hubungan seks di luar kota, baik yang satu propinsi maupun di luar propinsi.
  6. Sebagian penasun pernah tertular penyakit menular seksual, dan sebagian juga pernah melakukan tes HIV.
  7. Teman dan petugas LSM menjadi sumber informasi tentang seks bagi penasun. Kondom juga kebanyakan diperoleh penasun dari petugas LSM.
  8. Para penasun yakin bahwa Napza – terlepas dari jenisnya – memberikan efek positif dalam berhubungan seksual seperti membuat bertahan lama, lebih berani dan percaya diri melakukan pendekatan, dan lebih merasa bergairah.
  9. Sebagian besar penasun memiliki lebih dari satu pasangan seksual dalam setahun terakhir. Sebagian dari pasangan itu juga memiliki pasangan seksual lain, termasuk pada pasangan tetap penasun (istri, suami atau pacar).
  10. Sebagian besar penasun mengetahui dan yakin bahwa kondom akan mencegah diri dan pasangannya terinfeksi penyakit menular seksual termasuk HIV. Namun penggunaan kondom yang konsisten baru dilakukan antara 19% sampai 40%, tergantung tipe pasangannya.
  11. Penggunaan kondom cenderung dilakukan oleh penasun jika pasangannya tidak tetap, tidak dikenal dan memperoleh informasi tentang seks. Sedangkan penasun cenderung tidak menggunakan kondom jika berhubungan seks dengan pasangan yang tetap, tinggal serumah, dikenal dalam jangka waktu lama

Ini dari laporan ARC Atmajaya, Pusat Penelitian HIV/AIDS Unika Atma Jaya Jakarta, “Jaringan Seksual Penasun“. Untuk laporan detail, klik di sini.

Minggu pertama magang, ibu-ibu PKK dan komunitas yang menyenangkan

Magang kemarin saya tidak di kantor. Sama sekali. Menyenangkan. Kenapa? Karena sistem di tempat magang saya tidak rigid. Tidak seperti magang di instansi pemerintahan atau swasta. LSM lebih fleksibel. Kemarin, saya tugas lapangan. Menemani kepala divisi untuk hadir di acara kumpul PKK ibu-ibu. Pengorganisasian masa. Masa-nya ya, ibu-ibu tadi.

Mendengarkan sekaligus memberi arahan tentang langkah-langkah preventif jika terjadi tindak kekerasan kepada perempuan (yang telah menikah, tentunya). Yang membuat senang adalah, dapat ilmu baru; mengenai pernikahan, cerai, dan hak asuh anak. Kedua, perut kenyang. Bukan hanya camilan tapi juga makan besar. Pulang-pulang tim kami diberi bekal masing-masing dua kilo buah mangga langsung petik.

Saat ini, di internet, saya mencari formulir pendaftaran asuransi pendidikan. Kisahnya, ada pasangan suami isteri yang bercerai. Anaknya masih kecil. Kasus ini pidana. Si isteri bersedia mencabut gugatan asal pendidikan anaknya terjamin. Ia pilih asuransi pendidikan.

Saya kurang paham mengenai asuransi, tanya ke bank untuk minta formulir: tidak diberi. Katanya, harus pendaftar langsung yang mendaftarkannya, dan syarat selanjutnya adalah memiliki tabungan di bank tersebut. Makanya, sekarang saya cari asuransi semacam Prudential, Allianz, dsb, yang bukan ‘bank’.


Senin nanti, jadi minggu kedua magang. Senin, saya tugas lapangan lagi, Ke daerah lagi. Menyenangkan.

Oh iya, kalau pembaca bertanya kenapa blog ini kok isinya tentang perempuan dan LGBTQ serta hal-hal sejenis, itu karena saya, yang punya blog, memang sedang berurusan dengan hal-hal itu.

Jumat kemarin di kantor, komunitas LGBTQ datang untuk rapat rutin dengan tim dari divisi KesMas (Kesehatan Masyarakat). Saya kurang paham bahasannya. Saya bersalaman dengan mereka sebelum rapat dimulai, karena diminta untuk foto dokumentasi sebentar. Saya kira, mereka orang yang baik dan ramah. Lucu-lucu juga.

Rapat kemarin intinya adalah pendataan jumlah LSL (Lelaki Seks Lelaki), Waria, dan sebagainya di daerah masing-masing. Jadi, mereka diberdayakan. Karena ‘mereka’ ini rentan sekali dengan masalah kesehatan, sebut saja contohnya HIV AIDS. Saya tanya ke tim dari Divisi KesMas, jawabannya begini, “komunitas LGBTQ ini rentan karena dari gaya hidupnya yang suka berganti-ganti pasangan.”


Saya tak sabar untuk menanti kejutan-kejutan berikutnya.

Di tempat magang ini, saya seperti belajar feminisme dari akar rumput. Yang contoh kasusnya konkret sekali dan berwawasan lokal. Dalam kelas-kelas kan, feminisme itu rasanya tinggi dan mengawang sekali.

Link Cepat: 5

  1. Iman Brotoseno, “Haruskah Aku Memusuhi Mereka“, Blog, 2013. Ini catatan yang reflektif tentang LGBT. Saya juga mulai bisa menerima kalangan dengan orientasi seksual berbeda, tentunya dari perspektif kemanusiaan, bukan keagamaan.
  2. SRGC UI, “Arisan; Queer Politics; dari Identitas Selangkangan, hingga Identitas Kenegaraan“, 2017.
  3. KOMNAS Perempuan, “16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan“, 2017. Dimulai pada 25 November hingga 10 Januari tiap tahunnya.
  4. Jakarta Globe, “My Jakarta: Rio Damar, Founder of Melela.org“, 2014.
  5. Asad Asnawi, “10 Pertanyaan Bikin Penasaran Ingin Kalian Tanyakan Kepada Perias Jenazah“, Vice Indonesia”.