When Europeans began to settle in Australia, numbers of Aborigines declined

Berhubung hari ini kuliah perdana semester enam dilaksanakan, bacaan minggu ini dan minggu-minggu ke depan mungkin buku-buku serius yang berkaitan dengan studi saya: hubungan internasional. Sebagai pemanasan saya membaca fotokopian buku — yang saya lupa judul sekaligus pengarangnya, maaf, tentang sejarah negara Australia dan Pasifik, saya baru sampai pada sejarah suku Aborigin yang menurun populasinya pasca kedatangan orang-orang Eropa.

When Europeans began to settle Australia, there were perhaps 300,000 to 500,000 Aborigines throughout the entire continent. Nobody knows for sure how many there were. Very quickly, their numbers declined for about 60,000 by 1930. They had been completely wiped out from Tasmania by 1835. However, descendents of Aboriginal Tasmanian [Palawa] mothers and European fathers retained the Aboriginal culture. They remain an important force. For example, in 1981, their protests prevented the construction of a dam that would have flooded traditionally sacred sites.

Europeans expected the Aborigines simply to disappear from the area, to go do their hunting and gathering elsewhere. Because the Aborigines were not farmers and did not own land outright as Europeans did, the settlers believed that no one owned the land. They simply took it for their ownl uses, and they reinforced their land ownership with fences.

The Aborigines’ ties to the land went far deeper than just hunting the animals and gathering plant food. One piece of land was not just as good as another, for the Aborigines’ whole way of life, including their belief system, was tied to a particular place. As Europeans migrated inland, they disrupted the estates in which the Aborigines traveled. In doing so, they tore from the Aborigines their whole identitiy and sense of place. They also destroyed the resources that sustained the Aborigine peoples.

Bahasan yang menari karena, bisa dikatakan orang-orang Eropa – terutama tahanan Inggris Raya kala itu – justru mendiskriminasi suku Aborigin, yang merupakan penduduk asli yang ada di Australia.

 

Advertisements

Mendengar Papua

Kami Papua, bukan kami tak mampu, hanya seringkali jalan begitu kelabu. Berharap bapak guru datang mengajar, tak hanya saat mulai lewat masa mengajar. Jangan tengok kaki kami yang seringkali tak mengenal sepatu, karena ke sekolah pun kami butuh waktu.

Di Jawa, kelas kosong adalah anugerah, sorak sorai bisa bolos sekolah. Bagi kami, kelas kosong adalah biasa, pacemace guru datang hanya saat akan ujian. Di Jawa, guru bingung dengan murid yang kurang ajar, sementara kami berfikir bagaimana bisa belajar.

Cobalah datang ke tanah Papua, jangan bicara seolah kau paling tahu segalanya. Kami lahir besar di tanah surga, tapi tak tahu surga macam apa. Saat semua bersorak dengan segala kemajuan, sementara betapa kami begitu ketinggalan. Kau hanya tahu surga Papua, tapi tak mau tahu susah kami segala rupa.

Rambut kami memang keriting, bukan berarti kami ajak semua orang bertanding. Sirih pinang kami suguhkan, sebagai tanda persaudaraan. Tak elok bagi kami menolak saudara, meski bukan sesama Papua.

Tapi, tak ada tempat di hati kami, para pembual, pengolok, pem-bully. Tuhan kami mengajarkan kami memaafkan, tapi bukan berarti kami bebas engkau hinakan.

Maria Apriyane Patty, “Orang Selalu Bicara Papua, Sekarang Saatnya Mendengar“.

Menilik kisah singkat perjalanan hidup Dubes Gontha

Duta Besar Indonesia untuk Polandia, Peter Frans Gontha, memiliki website ‘official’ pribadi. Saya tidak tahu kapan update terakhir dari Pak Dubes Gontha di websitenya. Tapi saya membaca artikel yang diberi judul, “Sekilas Tentang Perjalanan Hidupku” yang ditulis pada tahun 2012 di Nusa Dua, Bali. Artinya, saat itu Pak Gontha masih seorang pebisnis belum berkecimpung dalam dunia diplomatik seperti saat ini.

Paragraf yang menceritakan masa perantauan Peter Gontha di Belanda.

Pilihan saya merantau ke negeri Belanda bukan tanpa alasan. Beberapa tahun sebelumnya almarhum Ayah saya William Gontha, telah lebih dulu bermukim di Belanda. Ayah saya pada tahun 1964 “terpaksa” meninggalkan tanah air karena berkonflik dengan jajaran pimpinan Permina / Pertamina tempat Ia bekerja ketika itu karena menulis sebuah artikel di Majalah NEWSWEEK yang bertema korupsi di perusahaan tersebut sehingga demi keselamatannya meninggalkan tanah air.

Kedatangan saya ke Belanda sungguh bukan keadaan yang mudah dan bisa bermanja-manja. Kondisi ekonomi ayah saya ketika itu sangat terbatas. Maka tidak ada pilihan, saya pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dan mencoba lepas dari tanggungan orangtua. Hidup sungguh keras. Sungguh tidak mudah bagi saya untuk beradaptasi dengan budaya Eropa yang sangat individualis dan sangat mengedepankan kemandirian. Sungguh berbeda dengan generasi muda sekarang yang datang ke Eropa untuk melanjutkan pendidikan dengan tanggungan orangtua atau bahkan beasiswa dari Negara. Melanjutkan pendidikan dengan kuliah di universitas bagi saya ketika itu sungguh menjadi barang mewah. Bisa bertahan hidup saja sudah bagus.

Berbagai pekerjaan keras sempat saya lakoni pada masa-masa awal di Belanda, seperti menjadi supir taksi, pelayan restoran, hingga tukang pembersih karat kapal. Itu semua saya lakukan untuk menyambung hidup dan memelihara harapan suatu hari bisa melanjutkan sekolah lagi.

Dua pelajaran penting dari Amerika.

Kembali kepada peristiwa di awal-awal saya merantau ke Belanda, di tahun 1968 saya berkesempatan mengenal lebih dekat Amerika, tepatnya saya berkesempatan menginjakkan kaki di New York. Kedatangan saya ke New York, walaupun sangat singkat, sungguh sangat berkesan. Terutama saya sangat terkesan dengan keseharian masyarakat Amerika secara umum. Hal yang sangat saya kagumi di antaranya adalah budaya disiplin, budaya berkompetisi dan selalu bersemangat untuk menjadi yang terbaik, budaya bekerja keras, budaya sportivitas, budaya inovasi dan lain-lain. Terkait budaya disiplin, bisa terlihat dengan keseharian mereka yang sangat menghargai waktu.

Di atas semua itu yang sangat saya kagumi adalah kecintaan bangsa Amerika pada budaya inovasi. Inovasi telah menjadi motor kemajuan ekonomi Amerika. Berbeda dengan Indonesia yang sebagian terbesar motor penggerak kemajuan ekonomi masih berasal dari aktivitas eksploitasi sumber daya alam.

[…]

Ke depan untuk menjadi Negara yang maju, Indonesia tidak lagi boleh selalu bertumpu mengandalkan berkah kekayaan alam sebagai sumber utama pertumbuhan dan kemajuan ekonomi. Belajar dari pengalaman banyak Negara yang kaya akan sumberdaya alam, tidak jarang kekayaan itu menjadi “kutukan” jika terus dieksploitasi, tanpa ada inovasi yang mengandalkan kemampuan sumber daya manusia. Sudah saatnya Indonesia memberikan prioritas bagi lahirnya karya-karya inovasi yang dapat diandalkan sebagai sumber jangka panjang kemajuan bangsa.

Satu lagi budaya bangsa Amerika yang menurut saya sangat menonjol dalam keseharian masyarakatnya adalah budaya berargumentasi. Pengalaman saya berhubungan dengan masyarakat Amerika, seringkali kita terlibat perdebatan dan argumentasi yang panjang. Namun dengan sportif mereka akan berhenti berdebat apabila kita berhasil memberikan argumentasi yang logis dan masuk akal.

Dan paragraf yang menceritakan kegagalan dalam berbisnisnya.

Pada kesempatan ini saya teringat kembali pada sebuah kartu pos yang dikirim Ayah saya pada pertengahan tahun 80an, “If you win the rat race, you ‘re still a rat.” Yang terjemahan sederhananya, jika kamu menang dalam kompetisi tikus, kamu tetap masih tikus. Sungguh tulisan singkat dalam kartu pos Ayah saya tersebut, telah menjadi mantra sakti dalam memotivasi saya untuk berusaha untuk maju dan semakin maju dalam kiprah professional saya hingga saat ini.

Sebagai seorang pengusaha, Saya juga tidak terlepas dari kegagalan. Saya telah banyak mengalami pahit  getirnya jatuh dalam usaha. Waktu saya membangun Indovision misalnya, menurut saya semuanya sudah melalui proses perencanaan dan pertimbangan bisnis yang sangat matang. Tapi tiba-tiba terjadi krisis moneter. Pinjaman Indovision pakai dolar dan saya berpikir, waktu dolar terus naik, nanti juga turun. Tapi kenyataannya tidak. Nah, itu salah satu kegagalan total saya.

 

Lagi bahagia “Lagu Bahagia”

Menjadi kupu-kupu di perutmu. Menjadi bunga-bunga di benakmu. Menjadi lagu-lagu telingamu. Menjadi buku-buku pikiranmu. Menjadi kabut bukit di kulitmu. Menjadi alam liar lamunanmu.

Putar player di atas, jangan sungkan. Sisir Tanah menggratiskan lagu ini di website Rolling Stone Indonesia waktu-waktu lalu. Karena hari ini sedang suka memutar ulang lagu ini, dan lagi bahagia juga, silakan nikmati sajian Sisir Tanah dengan “Lagu Bahagia”.

Giring Ganesha: “Saya mau masuk legislatif itu karena concern saya terhadap sistem pendidikan di Indonesia”

Giring Ganesha, memutuskan terjun dalam panggung politik. Dengan menggandeng [atau digandeng] Partai Solidaritas Indonesia yang identik dengan anak muda, dan tentu saja, Tsamara Amany, Giring menargetkan masuk menjadi anggota komisi X DPR RI yang ruang lingkupnya adalah pendidikan, sejarah, budaya, dan olahraga.

Saat tampil di acara Mencari Pemimpin di Kompas TV pada Jumat [16 Feb 2018] dengan tajuk ‘Mendadak Politisi’ ia menjelaskan kemampuan atau kompetensi yang dimilikinya untuk tampil di parlemen, Giring menjelaskan.

“Yang jelas salah satu niat awal saya mau masuk ke dalam legislatif itu adalah concern saya, dan juga kekhawatiran saya terhadap sistem pendidikan di Indonesia saat ini. Bahwa untuk saya, untuk anak-anak jaman sekarang, sistem pendidikan yang sekarang sudah tidak cocok. Apapun yang bisa kita cari itu ada di Google. Jadi apa yang harus kita bangun dari generasi jaman sekarang ialah budi pekerti mereka, value mereka, disiplin mereka. Jadi begitu nanti sudah 2030, di saat kita berada pada bonus demografi, saudara-saudara kita ini, teman-teman kita ini, adik-adik kita ini, sudah siap bersaing dengan tenaga kerja asing.”

“Oleh karena itu, kenapa saya mau masuk ke Komisi X, di pendidikan, saya ingin membantu siapapun yang ingin memperbaiki pendidikan di Indonesia. Baik itu dari nasib gurunya sampai ke sistemnya dan sampai ke semuanya. Bahkan saya punya ide bahwa suatu saat nanti Ujian Nasional itu sudah gak ada lagi. Karena menurut saya itu sudah gak relevan lagi.”

Dalam perbincangan yang dipandu oleh Dentamira Kusuma, menghadirkan Tri Agung Kristanto – Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas, Arief Suditomo – Jurnalis yang kini menjadi anggota Komisi I DPR RI dari partai Hanura, Eko Hendro Purnomo – komedian yang pernah menjadi anggota parlemen selama dua periode dari partai Hanura, dan Giring Ganesha – calon legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia.

Obrolan yang dihadirkan adalah topik lama dengan sudut pandang yang berbeda. Sudah ada pembahasan topik yang sama dalam talkshow sejenis sebelumnya. Tanggapan yang dihadirkan pun intinya sama. Pada akhirnya, kinerja mereka di parlemen yang akan jadi taruhan, sebagai pembuktian dari suara yang mereka perjuangkan. Apapun profesi sebelumnya bukan hal yang penting selama kinerjanya bisa dirasakan.

Korsel dan Korut: Wait and see

Di awal tahun 2018 kiranya akan memberikan harapan baru bagi kebanyakan masyarakat di Semenanjung Korea, khususnya dalam hal bilateral kedua negara. Apa pasal? Hal ini dipengaruhi oleh pidato politik awal tahun Kim Jong Un Presiden Korut.

Kim, menyatakan keinginannya untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin yang akan digelar di Pyeongchang Korea Selatan, ia berjanji mengirim atlet atlet terbaiknya. Selain itu, Kim juga membuka diri untuk melakukan perundingan dengan Seoul.

Sejatinya, pidato Kim tersebut merupakan respon atas pernyataan Presiden Korsel Moon Jae-in beberapa waktu sebelumnya, Moon menyampaikan bahwa kompetisi olahraga yang akan digelar di negeri ginseng itu dapat menjadi ajang untuk mulai menjalin hubungan baik bagi kedua negara. Perundingan ini adalah kali pertama diselenggarakan pasca dua tahun Semenanjung Korea mengalami ketegangan akibat program nuklir yang dilancarkan Korut.

Pertemuan pejabat dua Korea beberapa waktu yang lalu menghasikan beberapa kesepakatan diantaranya ialah 1) Korea Utara akan ikut serta dalam gelaran Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang Korea Selatan, 2) Korsel dan Korut akan pawai bersama saat pembukaan dan penutupan Olimpiade, 3) Kedua negara sepakat untuk menunda pembicaraan masalah militer, 4) Korsel mengajukan usulan kepada Korut untuk melanjutkan pembahasan reuni para keluarga yang terpisah akibat Perang Korea.

Beberapa butir kesepakatan dalam perundingan membawa angin segar bagi lingkungan internasional, karena dapat meredakan ketegangan yang selama ini terjadi di Semenanjung Korea, setidaknya untuk beberapa waktu kedepan. Jika dicermati secara seksama, sesungguhnya masing masing negara Korsel maupun Korut sedang dalam keadaan wait and see, menunggu dan mencermati apa yang akan dilakukan keduanya pasca perundingnan 9 Januari.

Pada poin ketiga dari kesepakatan tersebut menyiratkan bahwa keduanya tidaklah benar benar atau belum dalam keadaan ingin mewujudkan deklarasi damai. Situasi yang tengah terjadi setidaknya akibat negara sponsor masih terlalu kuat hegemoninya, secara ekonomi maupun politik.

Perbedaan ideologi dan cara pandang menentukan masa depan negara, menjadikan situasi semakin sulit. Prasyarat bagi terwujudnya perdamaian Duo Korea adalah dengan melepaskan hegemoni asing dalam sebuah negara. Atau, pilihan mereka hanyalah ilusi damai di Semenanjung Korea.

Yudi M. Permana, “Diplomasi Olimpiade Semenanjung Korea“.

Boyolali smart city – free wifi

Saya, lagi-lagi, harus menemukan alasan kenapa harus iri kepada warga daerah Boyolali. Boyolali sedang sibuk dengan program smart city-nya. Kemarin [Rabu 14 Februari 2018], Bupati Boyolali Seno Samudro meresmikan gedung Smart City Center yang akan digunakan sebagai server program smart city di Boyolali. Yang lebih menarik, tentunya, setiap areal publik dan 19 kecamatan disediakan WiFi gratis agar arus komunikasi berjalan lancar. [Link]