Kematian itu keniscayaan yang menggentayangi setiap kita

DI masa depan, barangkali pencapaian terbesar umat manusia adalah menyangkal kematian. Seorang filsuf, kita tahu siapa, menyebut kematian itu faktisitas: fakta-fakta terberi, yang tidak terhindarkan di kehidupan manusia. Kematian itu keniscayaan yang menggentayangi setiap kita.

Pemikiran itu lantas menggoda filsuf lainnya, kita juga tahu siapa, berkelakar bahwa bunuh diri adalah masalah pokok filsafat. “Jika hidup sudah tak bermakna, pantaskah untuk tetap dijalani?” Kita telanjur tak sanggup memilih sendiri kelahiran: kapan serta di mana dilahirkan, apa jenis kelamin, kewarganegaraan, bahkan agama, dan sebagainya. Namun, kita masih berkemungkinan memilih dan menentukan kematian sendiri. Pilihan dan kemungkinan itu mewujud tindakan bunuh diri.

Lebih lanjut baca di sini.

Upaya menghentikan keserakahan: Free Software

Dalam upaya menghentikan keserakahan pemodal perangkat lunak, pada tahun 1985, Richard Stallman membangun gerakan Free Software Foundation (FSF), dan menciptakan lisensi yang memberikan kebebasan kepada pengguna. Lisensi yang kemudian disebut General Public License (GPL) ini, memberikan pengguna kebebasan untuk bisa melihat kode, mempelajari, memodifikasi dan mendistribusikannya. Dengan adanya lisensi ini, terbentuk pasukan programmer dalam jumlah besar dan orang-orang biasa yang secara sukarela bekerja bersama untuk membangun perangkat lunak yang hasilnya lebih produktif daripada perusahaan perangkat lunak. Pasukan besar orang-orang di seluruh dunia ini membangun dan memperbarui perangkat lunak serta menjaganya di depan saingan komersial mereka. Kita bisa lihat hasil kerja mereka dari perkembangan pesat GNU/Linux, WordPress dan Mozilla Firefox. Perangkat lunak tersebut bisa berkembang pesat karena mewajibkan kode sumber dibuka (open source ) sehingga bisa dimodifikasi, dan memungkinkan ratusan atau ribuan orang bekerja sama secara sukarela untuk mengembangkan perangkat lunak tersebut.

Oleh Novri Oov Auliansyah di Indoprogress, “Kenapa Kita Harus Mendukung Gerakan Free Software“. Kebetulan saya menggunakan Linux – Ubuntu di laptop, meski belum sepenuhnya paham otak-atik fitur ‘bebasnya’ itu terlalu dalam.

Kabut pencapresan Prabowo

Gerindra sampai saat ini memang masih percaya diri mengusung sang ketua umum untuk bertarung melawan Jokowi. Apalagi, dalam sejumlah survei, hanya Prabowo yang dianggap mampu menyaingi elektabilitas Jokowi.

“Pak Prabowo ini elektabilitas dan popularitasnya tinggi. Hasil pilkada di Jawa Barat dan Jawa Tengah membuktikan ada faktor Prabowo di dalamnya. Kalau Prabowo, yang popularitas dan akseptabilitasnya tinggi, dan effort partai koalisi militansinya seperti di Jabar dan Jateng, ya insyaallah menang,” tutur politikus Gerindra lain, Ferry Juliantono.

Namun, yang jadi pergunjingan di publik, Prabowo belum benar-benar siap maju, terutama soal pembiayaan di ajang pilpres, yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Penggalangan dana perjuangan yang Gerindra lakukan seolah-olah memperkuat kabar kondisi Prabowo yang sedang bokek.

Baca utuh laporan reporter Detik, Ibad Durohman dan Syailendra Hafiz Wiratama klik “Kabut Pencapresan Prabowo“.