Author Archives: Ariesusduabelas

[Kutipan Buku] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

Bertahun-tahun kemudian, ketika ia bertemu Jelita, Ajo Kawir sering teringat hari itu. Hari ketika ia memutuskan untuk menikahi Iteung. Lama setelah itu ia sering merasa keputusannya sebagai hal konyol. Hal paling konyol dalam hidupnya. Tapi siapa yang bisa menghalangi cinta? Ia mencintai Iteung, dan Iteung mencintainya. Mereka sama-sama ingin menikah. Tak peduli pernikahan itu akan berlangsung tanpa kemaluan yang bisa berdiri.
“Syarat pernikahan hanya ada lima. Paling tidak itu yang kuingat pernah kudengar dari corong di masjid. Satu, ada dua mempelai. Dua, ada wali perempuan. Tiga, ada penghulu. Empat, ada ijab kabul. Lima, ada saksi. Tak pernah kudengar pernikahan mensyaratkan burung yang berdiri,” kata Si Tokek. Kata-katanya terdengar masuk akal.

SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS – EKA KURNIAWAN

Seperti dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas

Awal membaca saya mengira ini novel erotis, lanjut ke beberapa bab selanjutnya cerita menarik dan -entah kemasukan angin apa- saya menghabiskannya sekali membaca dalam kurun tiga jam. Kemaluan, di buku ini digunakan sebagai alat penyampai maksut. Saya terheran-heran.

“Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Itu yang kupelajari dari milikku selama bertahun-tahun.”

Spiritualitas pohon

Dalam riwayat agama Buddha, kita mengetahui bagaimana Siddharta Gautama mendapatkan pencerahan lewat atau akibat pohon. Seperti ditulis Deepak Chopra dalam Buddha (2011), “Siddharta Gautama mendapati dirinya duduk di atas empuk dan lembut di bawah pohon ara.. Napas alam bercampur dengan napasnya; pohon-pohon dan tanaman rambat seakan tumbuh dari tubuhnya..”. Betapa kesatuan atau integrasi manusia dan pohon dapat meloncatkan batin atau spiritualitas ke level yang lebih tinggi.

Wilayah immaterial, tempat kesadaran mental dan spiritual kita berada, memang selalu dipenuhi ruang metafisika yang selalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Namun, ketika logika atau akal kini begitu dominan dan seolah memberi banyak aspek kemajuan pada peradaban, kearifan pada tumbuhan dan hewan justru kian terbuang. Alhasil, keselarasan alam dan harmoni antara manusia dan alam menjadi pincang. Bencana pun menggedor kehidupan kita, fisik ataupun batin.

Bencana itu, bahkan di tingkat global, kini sudah di depan mata. Bukan akan menjelang, tetapi sudah terjadi. Banyak pula negeri akan hilang. Begitu pun nyawa dan kehidupan.

Namun, kita terus saja alpa dan terus menghidupi, bahkan mengasapi, kobaran api nafsu dan syahwat kita. Api yang membakar alam, menghanguskan pohon-pohon, termasuk hati dan budaya kita. Juga tentu, masa depan anak cucu kita.

Dikutip dari kolom Teroka koran Kompas berjudul “Pohon yang Menceritakan Manusia”, ditulis oleh Saeful Achyar, Pengelola Majalah Papirus.

Pasar ekspor mebel Indonesia

Kompas hari ini (27 Maret 2017) melaporkan: “Di kawasan Asia, menurut Presiden MM Group Peter A Tjioe, Singapura salah satu pasar potensial. Negara itu sedang meningkatkan hubungan bisnis regional sehingga Indonesia sebagai negara tetangga terdekat sangat potensial mengisi peluang tersebut.”

“Hal itu, menurut Peter, lebih efektif dibandingkan mengikuti pameran. Sebab, produsen mebel melakukan jemput bola secara langsung, bukan menunggu pembeli seperti saat mengikuti pameran. Terlebih, biasanya pengunjung pameran merupakan orang yang sudah biasa bergelut di bidang industri mebel.”

“Hal yang sama disampaikan pemilik PT Multi Manao, Budianto Budi. Indonesia masih dilirik pembeli dari luar negeri karena mampu memproduksi mebel dengan desain yang rumit. Selain mengutamakan fungsi, mebel buatan Indonesia juga dikenal memiliki cita rasa seni tinggi. Pasalnya, tenaga kerja di Indonesia unggul dalam hal keterampilan.”

“Setiap tahun, tidak kurang dari 900 model mebel dibuat di perusahaan yang memiliki 3000 karyawan. Produk itu menyasar di segmen mebel fungsional, tetapi memiliki daya kreasi seni, seperti penambahan ukiran, ornamen, dan bentuk yang rumit.”

– “Tenaga kerja di Indonesia masih lebih terampil dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam.” ungkap Budi.

Gambaran makna hidup subjek ateis

Subjek ingin menciptakan dan memiliki kehidupan yang autentik dimana subjek memandang bahwa sejauhmana hasil yang dicapai dalam pemenuhan makna hidupnya itu dikarenakan oleh hasil karya dan usaha subjek sendiri. Tidak ada Tuhan, tidak ada nasib, tidak ada takdir, yang ada hanyalah apa yang telah dan dapat dicapai subjek untuk memberi suatu arti bagi hidupnya. Dengan cara itulah subjek dapat merasa hidupnya utuh, penuh, dan bahagia.

Bastaman (1996) mengatakan bahwa mereka yang tidak mendasari pemaknaan hidupnya dari nilai-nilai agama tampaknya lebih tepat jika berusaha meninggalkan inhaustic existence untuk menuju authentic existence. Adapun yang dimaksut inhaustic existence adalah corak kehidupan pribadi yang sepenuhnya ditentukan oleh tuntutan-tuntutan masyarakat tanpa mampu menentukan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Sedangkan authentic existence adalah corak kehidupan pribadi yang ditentukan oleh perilaku yang ditentukan sendiri secara bebas dan bertanggung jawab mengenai apa yang baik bagi dirinya sendiri.

Bastaman, H. D. 1996. Meraih Hidup Bermakna. Jakarta: Paramadina.

Adalah lanjutan dari postingan kemarin.