Calon presiden pembohong atau presiden pembohong

Kedua, para pembenci tak ada matinya. Mereka hanya pingsan sementara waktu, atau linglung sesaat seperti orang kena setrum listrik, tetapi akan segera bangkit lagi untuk melakukan serangan balasan. Ketika Ratna Sarumpaet tidak mungkin mengelak lagi dan hanya bisa meminta maaf karena telah membuat cerita karangan, para pembenci kaget, tetapi hanya sebentar. Setelah itu mereka membuat gerakan salto dan mengeluarkan pernyataan heroik: “Lebih baik calon presiden yang dibohongi dibandingkan calon presiden pembohong.”

Menurut saya dua kualitas itu sama-sama buruk. Calon presiden yang gampang dibohongi, jika ia memenangi pemilihan, tentu akan menjadi sasaran empuk bagi para politisi berwatak Sengkuni. Sedangkan calon presiden pembohong sudah pasti tidak pantas dipilih. Seorang pembohong bahkan tidak pantas menjadi calon presiden, anggota DPR, maupun ketua karang taruna.

Karena itu frase “calon presiden pembohong” saya pikir adalah tuduhan serius yang perlu dipertanggungjawabkan oleh siapa pun yang menyampaikannya. Jika tidak, ia hanya akan menjadi pamflet berisi cerita horor—atau sekadar pameran perangai kekanak-kanakan yang diwujudkan antara lain dengan memproduksi lagu-lagu dengan lirik yang berselera rendah. Kreativitas terakhir yang menunjukkan perangai kekanak-kanakan mereka adalah mengganti lirik lagu anak-anak Potong Bebek Angsa dan menjadikannya sebuah provokasi.

Ini kutipan tulisan AS Laksana di rubrik ‘Telatah’ Beritagar, “Tiga Pelajaran dari Ratna Sarumpaet“.

Advertisements

One thought on “Calon presiden pembohong atau presiden pembohong

Comments are closed.