Setelah membaca Danur, ingin memiliki kebijaksanaan seperti William

Saya merasa kalau dunia ‘mereka’ yang berada dalam ‘alam lain’ nampaknya memiliki kebutuhan yang sama seperti manusia pada umumnya: kasih sayang, perasaan ingin didengar, dipahami, juga dimengerti. Walau, penekanan yang Risa Saraswati tonjolkan dalam kisahnya di buku ini hanya satu: ‘mereka’ pada dasarnya ingin di dengar.

Walau ada di antara ‘mereka’ ada yang menyeramkan, seperti Risa kisahkan. Dalam wujud yang tidak menyeramkannya, nampaknya ‘mereka’ ini ‘friendly’. Ini entah bagaimana saya mendapat kesan itu. Mungkin karena Risa begitu mendayu-dayu (corny?) dalam bukunya yang baik ini. Buku ini adalah kisah persahabatan yang indah.

Tentu saya bersyukur tidak diberikan kekuatan seperti Risa, tapi saya menulis blog ini untuk mereka; Peter; Hans; Hendrik; William; Janshen; Sarah; Jane; Asih; Samantha; dan lainnya. Juga untuk ‘mereka’ yang lain.

Dalam kisah ini, ada satu yang menarik perhatian saya – untuk memiliki kepribadian tangguh sepertinya, adalah William. Si pendiam yang tak banyak bicara. Berikut adalah bagian – seperti di bagian buku ini – saat Risa menjelaskan apa yang ia pelajari dari ‘teman’-nya itu,

Aku harus mengakui bahwa diriku masih belum banyak tahu tentang hidup ini, belajar banyak hal penting dari sahabat-sahabat hantuku. William lah guru yang paling berjasa. Walau tak banyak bicara, tapi kedewasaannya di umur belia, begitu kukagumi. Kepalanya lebih banyak berbicara dibanding mulutnya. Aku tak mengerti bagaimana anak sekecil Will bisa sangat pintar dalam menyikapi banyak hal, yang biasanya membuat teman-temannya merasa kebingungan.

Tempaan selama hidupnya, ternyata berhasil membuatnya bermetamorfosis menjadi seorang anak laki-laki cerdas dan bijaksana. Yang aku tahu, anak-anak orang kaya sepertinya akan berakhir menjadi anak yang manja dan menyebalkan. Tapi tidak dengannya. Dia berusaha menyingkirkan predikat itu, dan menjadi panutan di antara sahabat-sahabatnya yang lain. Wajahnya tak pernah menyiratkan kesan sedih. Selalu dingin dan berkharisma. Dia tak pernah bersikap berlebihan. Porsinya selalu pas, membuat yang lainnya merasa malu jika bersikap terlalu jahat, terlalu marah, terlalu senang, atau terlalu sedih. Terbersit dalam pikiranku, seandainya kelak aku memiliki suami saat ku dewasa, aku ingin yang seperti William. Oh, senangnya.

Will, semoga si penulis blog ini juga memiliki kebijaksanaan sepertimu.

Advertisements