Kumar

Saat ini, kerusakan akibat dari imperialisme dan neoliberalisme terlihat begitu terang-benderangnya. Saat ratusan dari ribuan orang telah kehilangan hidup mereka atas pendudukan yang dipimpin Amerika Serikat di Irak dan Afghanistan, jutaan lainnya lebih menderita di bawah pembinasaan sehari-hari oleh pasar bebas. Namun ada rekonfigurasi kekuatan besar yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Nasionalisme sekuler, dengan daya tarik massanya yang cukup, adalah kekuatan penggerak utama atas perubahan di era 1950-an dan 1960-an. Pada 1970-an, terdapat usaha bersama rezim Arab untuk menstabilkan wilayah mereka dan bagian dari usaha itu terjabarkan dengan mendukung kekuatan ‘kaum Islamis’ melawan nasionalisme sekular dan kiri.

Pemberontakan dalam beberapa bulan terakhir tampak mengindikasikan putusnya status quo pada dua atau tiga dekade terakhir. Gerakan massa yang berkembang di wilayah ini ditujukan untuk melawan diktator yang telah memerintah dengan kekebalan hukum. Mereka juga adalah para pemberontak yang melawan sistem ekonomi dan politik yang telah dikenal sebagai neoliberalisme. Pemberontakan ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang karakter distribusi ekonomi kekayaan – yaitu siapa yang memerintah dan siapa yang punya kepentingan.

Solusi jernih yang menghubungkan perjuangan melawan kerusakan baik yang ditimbulkan oleh kapitalisme dan imperialisme di Timur Tengah, hanya dapat ditempa dengan membangun kembali kaum kiri. Seperti yang telah ditunjukkan dari berbagai perjuangan dari Pakistan dan Iran, ke Aljazair, Tunisia, dan Mesir, sistem ini memaksa orang-orang biasa untuk melawan balik. Dalam konteks inilah, kaum kiri yang ada dapat tumbuh dan memperkuat basisnya, dan sebuah kiri baru muncul. Kiri yang seperti ini tak hanya akan menunjukkan sebuah kepemimpinan yang berbeda melawan imperialisme, namun juga terorganisir melawan prioritas kapitalisme neoliberal dan kelas-kelas pemimpin lokal yang beruntung karenanya. Ini adalah tantangan milenium baru.

Ini kesimpulan dari apa yang ditulis oleh Deepa Kumar dalam, “Islam Politik: Sebuah Analisis Marxis”. Tentu Anda harus membaca isinya sebelum mencapai ke kesimpulan, jika tertarik pada analisis Marxisme. Saya mendapatkannya dalam bentuk ebook, dan diterbitkan oleh Indoprogress, pengantar oleh Coen Husain Pontoh.

Advertisements