Kebanyakan berpikir pemadat adalah pemadat adalah pemadat

Di situlah aku berkenalan dengan kokain, dan rasanya seperti naik roller coaster tanpa pengaman dengan mulut terbuka sambil menghirup aroma parfum seorang wanita yang amat tajam sampai-sampai terasa seperti menyilet permukaan hidung. Bubuk ini mengisap seluruh cairan di kerongkonganmu, lalu seorang menyalakan empat ratus neon tepat di depan matamu, menarik lidahmu keluar, kemudian meletakkan tarantula di sana. Kau bahkan masih bisa merasakan sensasi kaki-kaki tarantula merayap di lidahmu sepuluh tahun kemudian saat kau pikir kau sudah lepas dari kokain. Dan kau masih bisa melihat pendar cahaya tiap kali kau mendengar nama bubuk sialan itu. Ia tidak akan melepasmu, seperti arwah leluhur yang mengikutimu seumur hidup, dan kau bisa membaui minyak wangi orang mati setiap saat. Setiap saat.

Kau boleh saja bilang aku anak manja atau pecundang atau apa pun. Namun, jika kau tak tahu betapa liatnya kesepian, membungkus hari-harimu dengan kelembaman yang berpotensi membuatmu membusuk di ranjang, sebaiknya simpan komentarmu. Kebanyakan orang hanya berpikir bahwa pemadat adalah pemadat adalah pemadat. Mereka banyak omong tanpa menawarkan bantuan. Dan saat kami ingin pergi dari benda sialan itu, mereka melihat kami seperti mayat hidup yang tak banyak gunanya. Maka, tak ada pilihan lain selain kembali lagi. Jujur saja, kokain memang membuatmu berpikir berbeda, tetapi tidak membuatmu jadi lebih baik.

Ini masih dari buku ’24 Jam Bersama Gaspar’. Saya menuntaskan kisahnya saat blog ini diposting.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s