Kesan di buku ‘One Second After’ terjemahan

John meluncur menuruni tanggul dan ke luar ke jalan. Dia menoleh ke belakang. Brett tak mungkin terlihat. Begitu banyak mahasiswa di sini berasal dari kota-kota kecil, dan lebih banyak pemburu, atau Pramuka atau hanya jenis penikmat aktivitas di luar ruangan. Tentu saja mereka akan belajar dan sangat tangkas. Para pengungsi bergerak di sepanjang sisi yang lain, barisan yang terentang panjang.

Mereka bergerak perlahan, menatap John dengan sedikit lesu. Orang-orang itu seperti berasal dari abad lain. Beberapa tampak jelas tidak siap; seorang pria dengan setelan bisnis tiga potong, lecet karena sepatu yang dipakainya, dan perban di kepalanya. Dia tampak seperti pengacara atau jenis korporat tingkat atas.. tanpa keahlian yang bisa dijual di sini untuk semangkuk sup encer. Orangtua berjalan berdampingan, kelelahan, mendorong kereta belanja, roda-roda aus yang mendecit, dan dua anak di dalamnya, tertidur dengan wajah pucat.

Beberapa pengungsi benar-benar bertelanjang kaki. Tak banyak yang menyadari pada hari pertama betapa berharganya sepatu, sepatu yang baik untuk berjalan, banyak berjalan. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak memikirkannya juga dan memilih beberapa pasang tambahan dari toko peralatan berkemah pada hari pertama. Pertempuran perang sipil sering bergantung pada pihak mana yang punya sepatu lebih baik, mengingat sepatu yang biasa cenderung rusak tak kurang dari satu bulan dalam pertempuran sengit. Para pengungsi mendaki 240 KM dengan wing tips atau bahkan sepatu tenis kanvas tua polos akan segera kecewa, dan beberapa orang berjalan dengan sepatu yang berbeda di setiap kakinya.

Itu kutipan dari ‘One Second After’. Saya baru di awal-awal halaman, sementara yang saya kutip ada di bab menuju akhir cerita. Buku ini, menurut saya, terjemahan bahasa Indonesia-nya masih kurang. Poin-poin tidak tersampaikan dengan baik. Coba tengok pada kutipan di atas.

Advertisements