Buku Minggu Ini: Trio Detektif Hitchcock dan Bangsal 13 Rudy Gunawan

Untuk minggu menjelang masa liburan usai, saya memilih buku-buku tipis – tipe sekali duduk dua jam selesai. Saya memilih Alfred Hitchcock, sebuah seri “Trio Detektif – Misteri Puri Setan”, dan satu buku adaptasi dari film, Rudy Gunawan dengan “Bangsal 13”-nya. Selesai dibaca, ada dua pebedaan besar dari gaya penulisan horor Indonesia, atau Asia sajalah, dengan horor Eropa atau Barat. Hitchcock bertutur dengan sentuhan detektif, berpijak pada nalar, bahwa hantu hanya bualan belaka, karena di akhir kisah, puri tersebut sengaja dibuat seoalh berhantu oleh pemiliknya agar tidak disita oleh bank. Sementara kisah horor yang ditulis Rudy Gunawan, mencekam sangat. Jika buku ini usai, bacaan akan berlanjut ke seri-seri Trio Detektif berikutnya. Alfred Hitchcock, tak salah bila disebut penulis yang andal, ceritanya seru dan mengagetkan.

Kisah Trio Detektif mengingatkan bacaan masa SMP saya, pemuda nakal bernama Tom Sawyer dan Huckleberry Finn yang diciptakan oleh Mark Twain.

Kutipan dari “Trio Detektif – Misteri Puri Setan”

“Di situ, dalam kamar itu, di situlah Stephen Terril yang sejati. Segala kostum itu, rambut palsu, segala film yang disimpan dalam kaleng-kaleng — itulah diriku yang sejati. Sedang diriku ini cuma alat belaka, yang menjelmakan segala kostum dan rambut palsu itu menjadi tokoh-tokoh aneh yang menghidangkan keasyikan menonton bagi berjuta-juta orang di seluruh dunia.

“Bertahun-tahun Terror Castle merupakan kebangganku yang terakhir. Di situ aku masih bisa menakut-nakuti orang, dan bukan menjadi bahan tertawaan. Dan selama itu aku berlatih keras, menghilangkan ucapan kata-kata dengan lidah pelat. Aku juga sudah berbicara dengan suara lebih berat. Aku melatih diri bersuara sebagai hantu, wanita, bajak laut, orang Arab, orang Cina – dan macam-macam lagi. Aku mengidam-idamkan akan tampil kembali dan membuat film baru.”

“Tapi ternyata film-film seperti yang kubuat dulu, sekarang sudah tidak digemari lagi. Sekarang film-film hantu malah sering dibuat sebagai lelucon. Film-film hantu lama yang dihidangkan di televisi diberi suara kocak serta ditambah suara-suara lucu, supaya orang tertawa. Aku tidak mau jika bakatku dijadikan tertawaan.”

Mr. Terril nampak bergejolak perasaannya. Dipukulkannya tinjunya ke telapak tangan. Napasnya memburu. “Sekarang aku tidak punya apa-apa lagi. Aku tidak bisa lagi menjadi hantu Puri Setan. Bahkan puri akan terlepas dari tanganku. Aku tidak lagi bisa menjadi Pembisik! Aku tidak tahu, apa yang harus kulakukan sekarang.”

Sementara itu, ini adalah kutipan dari “Bangsal 13” – Rudy Gunawan. Khususnya di bagian yang menurut saya paling mencekam. Kisah ini berakhir dengan ngeri-ngeri saja.

Sesekali Mina memanggil-manggil Nat dengan suara lirih. Tanpa disadari, Mina memasuki lorong yang menuju ke kamar mayat. Samar-samar dilihatnya beberapa kursi roda dan brankar di depan ruangan itu. Mina tak mengetahuinya. Ia tak tahu ruangan itu ruangan apa. Tapi ia merasa semakin ketakutan. Semakin bingung dan putus asa.

Ke mana ia harus mencari Nat?

Srrrrrt.

Sebuah kursi roda tiba-tiba bergerak sendiri. Perlahan. Mina mengerjapakan matanya. Angin betiup kencang, membawa tetes-tetes hujan ke dalam lorong, membuat lantai lorong sedikit basah.

“Angin..”

Mina menenangkan diri. Ia terus berjalan melewati kursi roda dan brankar-brankar kosong itu. Sebuah brankar tiba-tiba bergerak sendiri begit Mina melewatinya. Perlahan, seperti ada sesuatu yang menyeretnya dari bawah. Sebuah kursi roda lain ikut bergerak di belakang Mina yang mulai menjauh.

“Ya Tuhan.., lindungi saya..”

Mina membaca doa-doa dalam hatinya.

Di belakangnya, beberapa kursi roda dan brankar bergerak mengikuti langkahnya dari kejauhan.

Srrrt.

Srrrt.

Srrrt.

Mina mendengar suara-suara di belakangnya. Ia juga merasa mendengar kembali suara seretan berat di lantai lorong dan suara desah napas berat yang didengarnya di bangsal.

Cittt.

Tiba-tiba didengarnya suara kursi roda berdecit di belakangnya. Persis suara decit kursi roda yang membawanya ke bangsal 13. Perasaannya kian tak enak.

Mina menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Tepat ketika kepala Mina menoleh ke belakang, sebuah kursi roda menggelinding cepat ke arah dirinya.

Mina membeku satu detik dan menjerit tanpa suara. Sedetik kemudian, menyadari jeritannya sia-sia, Mina melompat ketakutan dan lari menghindar memasuki sebuah ruangan di dekatnya; sebuah gerakan spontan yang membuat Mina tak sempat melihat tulisan di atas pintu ruangan itu: kamar mayat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s