Peredaran narkoba di Indonesia diatur dari LP

BNN [Badan Narkotika Nasional] menyatakan sebanyak 60% peredaran narkoba di Indonesia dikendalikan di dalam LP [Lembaga pemasyarakatan]. Silakan terkejut. Tapi itu faktanya. Kasus terbaru, Bareskrim POLRI berhasil menggagalkan penyelundupan 1,2 juta butir pil ekstasi yang nilainya kira-kira Rp. 600 milliar. Tiga orang pelaku ditangkap sementara satu tewas ditembak aparat polisi yang bertugas. Perlu diketahui, otak di balik penyelundupan besar itu adalah Aseng, terpidana 15 tahun dalam kasus narkoba yang kini mendekam di LP Nusakambangan.

Editorial Media Indonesia pada 3 Agustus 2017 dengan keras mengritik, 

Kukuhnya tembok penjara dan kuatnya jeruji besi bukan halangan berarti bagi Aseng untuk mengendalikan bisnis haram itu. Kita prihatin, amat prihatin, masih ada narapidana yang bisa mengendalikan bisnis narkoba dari penjara. Kita geram, amat geram, LP yang seharusnya menjadi pengekang justru menjadi pengaman sepak terjang mereka. Dalam beberapa kasus, LP pun menjadi arena peredaran bahkan pabrik pembuatan narkoba. Tak berlebihan rasanya jika kita katakan bahwa dalam kasus narkoba, sebagian aparat di Republik ini lebih dungu ketimbang keledai.

Mengingat, kasus pengendalian peredaran narkoba di Indonesia dari balik LP sudah beberapa kali tersebar beritanya.

Advertisements