Bagaimana Andrea Hirata menelanjangi kita

Mungkin saya pernah mengatakan demikian: masterpiece Andrea Hirata adalah “Maryamah Karpov”. Sejam lalu, tiba-tiba saja, buku itu jatuh seperti meminta dibaca ulang. Maka saya membacanya ulang. Ini bagian yang ‘menelanjangi’ itu.

Orang Melayu, luar biasa, jika bepergian, tradisi mereka adalah membawa barang dalam jumlah tak kira-kira. Sehingga muncul istilah di antara mereka sendiri: seberat bangkit. Akibatnya antrean makin repot. Setiap anggota badan dipakai menenteng, memikul, memanggul, menjunjung, atau merengkuh sebanyak mungkin bawaan. Maka tak jarang seseorang ditambati sampai lima kardus besar tak tahu berisi apa. Meskipun isi kardus itu hanya sumbu kompor dan dengan mudah didapat di Belitong, kalau Kawan berani memberi gambaran logis, mereka tak terima.

“Jangan sembarang bicara, ya, ini sumbu kompor dari Jakarta, tahu!”

Saking terpesonanya dengan buku ini, ternyata saya membuat kutipan lain Andrea Hirata di blog ini. Yang pertama soal humor artifisial orang Melayu. Kedua, representasi Andrea saat di Eropa. Ketiga, soal cara pandang,  bagian ini menceritakan bagaimana masalah sulit bisa dipecahkan dengan mengubah cara pandang.

Advertisements