Apakah traveler merusak budaya daerah yang dikunjunginya? 

Respon dari Nicholas Saputra di Whiteboard Journal.

Febrina Anindita: Kami sempat bicara dengan Butet Manurung yang menyampaikan bahwa “orang kota” kadang memaksakan standar kota ke dalam masyarakat adat. Destinasi wisata di Indonesia sendiri, kini mulai menyentuh pelosok dan tidak jarang backpacker mencari jalan untuk dapat mengeksplorasi daerah pelosok. Sebagai traveler, bagaimana Nico menyikapi hal ini?

Nicholas Saputra: Tidak bisa dibilang merusak, karena toh budaya memang tidak original, selalu berbenturan antara satu pengalaman dengan pengalaman yang lain. Mungkin dengan terbukanya akses untuk travel yang lebih mudah sebagai backpacker atau traveler, mungkin jadinya ada kemungkinan untuk mengkonstruksi suatu budaya yang baru. Mungkin kalau untuk budaya, saya tidak bilang kalau ada yang baru itu merusak, tapi justru responsnya yang menarik. Nantinya bisa jadi apa, itu yang menarik. Tapi memang kita tidak bisa memaksakan apapun, tidak bisa memaksakan sesuatu untuk berubah atau tidak berubah. Jadi kultur itu fluid.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s