Setan dan temannya, Anthony de Mello

Hasil penjelajahan internet memang tak pernah terduga. Internet masuk kategori new media, sifatnya pengguna memiliki kebebasan untuk memilih apa yang dikonsumsi. Namun begitu, internet sering menawarkan sesuatu yang menarik sehingga sulit untuk dilewatkan. Ini karena konten yang penggunanya sebar di belantara internet.

Dua hari lalu saya diperkenalkan Anthony de Mello, seorang rohaniawan Jesuit yang juga penulis buku. Saya membaca juga merefleksikan sedikit yang Mello tulis dalam bukunya “Burung Berkicau”. Di bawah ini satu cerita favorit saya:

Setan dan Temannya

Pada suatu hari setan berjalan-jalan dengan seorang temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut sesuatu dari jalan.

‘Apa yang ditemukan orang itu?’ tanya si teman.

‘Sekeping kebenaran,’ jawab setan.

‘Itu tidak merisaukanmu?’ tanya si teman.

‘Tidak,’ jawab setan. ‘Saya akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.’

Kepercayaan agama merupakan suatu tanda, yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. Orang yang kuat-kuat berpegang pada penunjuk jalan, tidak dapat berjalan terus menuju kebenaran. Sebab, ia mengira seakan-akan sudah memilikinya.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994]

Jujur saja, dari lebih dari seratus cerita yang Melo tuliskan, setengah di antaranya tidak saya pahami maksutnya. “Setan dan Temannya” di atas salah satunya. Mungkin Melo berkisah bahwa jangan menganggap diri ini benar karena berpegang teguh pada agama. Atau lain hal.

Seorang blogger mengindeks 122 cerita super pendek namun sarat makna Mello di blognya. Anda bisa menemukan cerita Melo yang lain melalui blognya.

Saya sarankan untuk membuka pikiran lebar-lebar untuk apa yang Melo tuliskan. Jangan terlalu terkungkung pada sudut pandang yang sempit.

Advertisements