Tuesday’s Expert: Manusia Bijak

Semua predator puncak di alam memiliki kondisi fisik hebat. Harimau bertubuh liat dan berkaki tangkas, dengan cakar dan gigi setajam belati. Bentuk tubuh hiu dan kulit licinnya didesain sempurna untuk meliuk di air.

Bentuk sempurna ini melalui proses evolusi jutaan tahun, ditempa seleksi alam dan adaptasi. Dibanding mereka, fisik manusia begitu rapuh. Riset Katarzyna Bozek dari Max Planck Institute for Evolutionary Biology [2014] mengonfirmasi, evolusi manusia mengarah pada pelemahan otot-ototnya. Pelemahan fisik ini berbanding terbalik dengan otaknya. Jika otot melemah delapan kali lipat, otak berkembang empat kali lebih cepat.

Perbedaan utama antara manusia modern [Homo Sapiens] dan spesies kera lain, seperti simpanse, adalah besarnya asupan energi untuk otak. Porsi otak manusia mencapai 2 persen volume tubuh menyedot 25 persen kalori. Dengan otaknya manusia berpikir. Manusia kini telah menguasai hampir seluruh bumi dan menghilangkan manusia lain, seperti Homo Neandertal, sekaligus mengancam predator-predator lain.

Dominasi manusia relatif baru jika dibandingkan dengan umur bumi yang telah 4,5 miliar tahun atau bahkan manusia arkaik, Homo Erectus yang pernah ada 1 juta tahun lalu. Sekalipun manusia modern muncul sejak 150.000 tahun lalu di Afrika, mereka baru sukses menjelajah bumi 70.000 tahun lalu.

Sebelumnya, sekitar 100.000 tahun lalu, perjalanan pertama Homo Sapiens keluar Afrika gagal. Sebagian teori menyebutkan, mereka kalah bersaing denga manusia arkaik lain, seperti Homo Neandertal yang lebih dulu menguasai Eurasia. Kepunahan itu terutama terjadi sekitar 74.000 tahun lalu ketika bumi mendingin akibat letusan Supervolcano Toba di Sumatera.

Empat ribu tahun setelah letusan Toba, manusia modern memulai perjalanan kedua meninggalkan Afrika. Kali ini mereka sukses mendesak Neandertal dan semua spesies homo yang lain. Sekitar 45.000 tahun lalu, leluhur manusia modern ini sampai Australia yang belum pernah dirambah manusia lain.

Yuval Noah Harari [2011] menyebut, periode 70.000 tahun lalu sebagai awal Revolusi Kognitif manusia modern, diduga terjadi karena mutasi genetik. Dari penciptaan rakit dan kemudian perahu, minyak lampu, busur dan panah, juga alat menjahit baju dan sehingga mampu menjelajah ke daerah dingin.

Lalu, 12.000 tahun lalu, manusia mencapai Revolusi Pertanian dengan kemampuan domestifikasi hewan dan tanaman. Sekitar 500 tahun lalu, terjadi Revolusi Ilmu Pengetahuan, yang membuat manusia melompat lebih cepat lagi meninggalkan spesies lain. Manusia menyebut dirinya Homo Sapiens – manusia bijak.

Kini, bahkan manusia menyingkirkan sesamanya. Manusia menciptakan ‘kecerdasan buatan’ yang mampu menggantikan tugas otak menghitung, membuat pola, dan membuat keputusan sehingga bisa menggerakkan mesin secara otomatis.

Michael Osborne, profesor dari University of Oxford, mengatakan, hanya soal waktu robot akan menggantikan berbagai pekerjaan manusia. Osborne memprediksi, 47 persen dari 702 jenis pekerjaan di Amerika Serikat di tingkat bawah aka diambil alih oleh komputer dalam dua dekade ke depan.

Tak hanya di Amerika, menurut laporan Organisasi Buruh Internasional [ILO] tahun 2016, ada 242,2 juta buruh [56 persen] di lima negara ASEAN, termasuk di Indonesia, akan disingkirkan mesin. Di Indonesia, pekerja yang paling berisiko tergusur adalah pramuniaga 14 juta, bagian administrasi 1,7 juta, buruh bangunan dan penjahit pakaian, masing-masing 2,1 juta dan 1,1 juta orang.

Profesi wartawan pun tidak aman. Articoolo, perusahaan rintisan asal Israel, mampu membuat berita melalui algoritma komputer. Dengan tema sama, superkomputer ini mampu membuat 100 artikel berbeda dengan cepat dan enak dibaca.

Apa keistimewaan manusia tersisa? Keistimewaan manusia adalah kemampuan berimajinasi. Sejauh ini hanya manusia yang dapat mencipta. “Anda tidak akan bisa meyakinkan monyet agar menyerahkan pisangnya dengan ganjaran pisang berlimpah setelah dia mati nanti di surga monyet,” sebut Harari.

Imajinasi telah melahirkan ekspresi kebudayaan, dari lukisan di goa hingga puisi. Imajinasi juga mewujudkan peradaban. Namun, imajinasi kini memerangkap Homo Sapiens. Duduk di sesak kereta, orang bisa tak peduli perempuan renta berdiri di sampingnya karena asyik dengan telepon genggamnya.

Ahmad Arif, Kompas 3 Mei 2017.

Advertisements