Penguatan Informasi Menuju Indonesia Berkeadilan

Universitas Slamet Riyadi bekerja sama dengan Harian Joglosemar mengadakan seminar nasional bertajuk “Penguatan Informasi Menuju Indonesia Berkeadilan”, senin kemarin [10/Juli]. Ini beberapa catatan yang saya catat saat dua narasumber, Prof Dr Henry Subiakto SH MA [staf ahli Kementerian Kominfo/Dosen Universitas Airlangga] dan Anas Syahirul [Joglosemar/Ketua PWI Surakarta] menyampaikan materi.

Catatan dari Prof. Henry,

a] Ada beberapa cara untuk melemahkan Indonesia dan telah terbukti keberhasilannya; adu domba, isu etnis, membangkitkan isu komunis, membakar sentimen kelas ekonomi, meremehkan pancasila dan kebhinekan, mendelegitimasi pemerintah sah, dan memasukkan paham asing sebagai ideologi.

b] Saat semua orang bisa menjadi media, era mass self communication, keutuhan Indonesia  bisa dirongrong oleh satu senjata: komunikasi yang keliru. Maka yang perlu dilakukan adalah pintar memilah dan mengecek ulang informasi yang ada.

c] Ternyata situs berita non-mainstream [situs berita abal-abal?] memiliki hits pengunjung lebih banyak daripada situs berita betulan. Saya baru tau kalau jumlah pengunjung situs berita online Seword lebih besar daripada Tempo bahkan Antara News.

Catatan dari Anas Syahirul,

a] Konten lokal saat ini tidak mendapat porsi besar untuk tampil di media nasional. Padahal konten lokal memberi informasi lain, yang juga bermanfaat dan penting diketahui masyarakat, saat seharusnya sudah jengah dengan pemberitaan yang muncul di media nasional hal-hal itu saja. Hal-hal yang menjengahkan.

b] Anas juga bercerita soal konglomerasi dan aliansi berita agar pers tetap hidup dan menjalankan misi sebagaimana mestinya. Juga ironi senjakala media cetak saat ini.

Catatan lain: judul artikel ini berat ya? Judul-judul seminar di universitas juga mayoritas berat-berat. Padahal saat seminar berlangsung suasana menyenangkan dan banyak guyon. Prof. Henri ternyata memiliki blog aktif dan rutin update, bisa dikunjungi di sini

Advertisements