Di rumah Yahudi

Membuka kembali cerpen-cerpen yang tersebar di koran-koran bekas itu terkadang candu. Hari ini, saya membaca cerpen yang ditulis oleh Sirikit Syah di Jawa Pos tertanggal 13 September 2015 berjudul “9/11”. Tulisan penuhnya ada di blog kliping sastra satu ini,  sementara Sirikit Syah sendiri memiliki blog aktif yang tulisannya tentu jauh berkualitas dibanding blog ini. Saya kutipkan paragraf dari “9/11” yang menurut saya menarik: tentang keluarga Yahudi.

Rachel, teman kuliahku, memperkenalkan aku pada keluarganya pada libura setahun lalu. Tiba-tiba saja aku jadi akrab dengan John, kakaknya. Boleh dikata, kami kemudian menjalin hubungan. Sebagai keluarga Yahudi mereka persis seperti yang kubaca selama ini tentang orang-orang Yahudi. Mereka makan tidak mewah atau berlebihan (di Indonesia pasti disebut ‘pelit’ kepada tamu), namun menunya sehat dan begizi. Banyak sayuran dan ikan. Camilan sore/malam hari adalah potongan-potongan aneka keju di telenan yang diletakkan di meja besar depan televisi, ditemani beberapa jenis crackers, dan satu wadah penuh buah-buahan.

Rumah mereka dipenuhi buku, dari lantai ke langit-langit, di hampir semua dinding. Bila ada dinding kosong pasti ada lukisan yang indah tergantung, atau kata-kata mutiara dari kitab Taurat mereka. Yang paling mengasyikkan adalah melihat mereka bermain musik usai makan malam. John bermain piano dengan indah sekali, Rachel dan dua adiknya menyanyi. Mary, sang ibu, yang baru belajar bermain biola kadang merusak harmoni. Rob, sang ayah, asyik dengan kepulan asap yang diciptakan dari cerutunya. Aku adalah penonton yang beruntung.

Advertisements