Tentang Homicide – Complete Discography

Saat bertemu di kampus hari ini, Riza, teman saya asal Pacitan itu, memberi kabar CD Homicide – “Complete Discography” selesai dia rip. Sudah dari dulu malah. Karena sudah sebulan barangkali saat saya main ke kosnya dan meminjam laptopnya untuk mendengar album penuh kritik sosial ini.

Untuk kamu yang belum memilikinya, lebih baik segera menuju toko CD terdekat. Album ini, tentu saja, wajib dimiliki. Terlebih bila ada sedikit waktu luang dan ingin berpikir keras, intrepetasikan liriknya baik-baik.

Yang kamu dapat dalam paket CD itu adalah dua keping CD, dan satu buah buku mini. Buku mini itu 149 lembar halaman. Isinya, kata pengantar dari Herry ‘Ucok’ Sutresna, foto-foto lawas mereka, poster-poster aksi, lirik, dan liner notes dari beberapa figur.

Ada nama Ahmad Hidayat, Taufiq Rahman, Samack, Chris Holm, Zam Noer, Aminudin TH Siregar, dan Wildan Pardede.

Berikut ini, saya kutipkan dari liner notes yang ditulis Taufiq Rahman.

“Kritikus musik The Guardian Dorian Lynskey pernah mengatakan bahwa tujuan utama dari musik protes sosial, atau segala bentuk seni dengan kesadaran politis, bukanlah untuk mengubah arah berputarnya dunia, lebih sederhana dari itu, musik protes sosial sebaiknya hanya soal mengubah opini dan pandangan orang. Saya pikir definisi tersebut cocok untuk menjelaskan musik Homicide. Musik mereka tidak akan mengubah dunia, sama seperti tidak ada satu pun karya seni yang akan bisa melakukan tugas itu. Karena pada akhirnya, ke mana pun Anda pergi, pemerintahan akan korup dan kapitalisme akan semakin rakus. Musik Homicide berhasil hanya karena dia telah menjadi inspirasi bagi banyak anak muda untuk ‘rage against the machine’.”

“Lima tahun sejak pertama kali mendengarkan musik Homicide, saya masih belum mengerti benar apa yang dikatakan oleh Morgue Vanguard dan Sarkasz. Mungkin saya tidak perlu harus mengerti. Saya hanya butuh memutar musik mereka ketika saya marah. Mengutip The Clash, “anger can be power”.

Advertisements