Langit terbuka luas mengapa tidak pikiranku-pikiranmu?

Saya, pada awalnya menyukai studi hubungan internasional. Sampai akhirnya, semester semakin bertambah, tugas kuliah semakin menggila, dan malam-malam lebih sering diisi bersama pikiran-pikiran melayang juga layar laptop.

Proses itu, saya maklumi tentu saja. Malah, saya sukai. Karena nantinya proses itu di usia tua akan dirindukan dan ditertawakan.

Yang mengganjal adalah, ketika ke luar dari pintu perkuliahan, pertanyaan-pertanyaan baru muncul. Dan itu bukan hanya dari satu mata kuliah saja. Tapi dari hampir semua mata kuliah yang sejauh ini saya ambil.

Mungkin, dosen saya betul-betul hebat. Mungkin, saya yang terlalu ambil pusing.

Saya catat materi tentang terorisme yang diampu GPH. Dipokusumo. Jujur saja, ada semacam kebodohan saat Beliau melempar pertanyaan dan kelas hampa karena tidak ada yang menyahuti. Beliau ini, luas betul pengetahuannya.

Saat bertanya tahu tentang buku ini atau tidak, kebanyakan dari kami, mahasiswanya, malah baru mendengar judul buku-buku yang Beliau sebutkan. Bagi saya sendiri, Beliau seperti Dr. Henry di Indiana Jones. Bukan dalam hal arkeologi tapi hubungan internasional. Ini bentuk kekaguman saya.

Dalam materi terorisme kemarin contohnya, dibedah sedemikian rupa sehingga perspektif kami tidak sempit-sempit amat. Ada apa di balik bom yang menyerang Stasiun Kampung Melayu itu, kenapa tidak menyerang tempat yang lebih berkelas daripada stasiun? Memang ada pawai obor, tapi tentu ada sisi lain yang harus dipelajari.

Seperti, sasaran terorisme telah berkembang dan berubah. Atau, kenapa bom itu bisa meledak, intelijen ke mana?

Atau, dalam hal lain, seperti negara yang bisa menjadi sponsor aksi teror. Karena saat suasana betul-betul kacau, akan muncul ‘pahlawan baru’. Juga dibahas dari sisi keuntungan media akibat berita buruk ini.

Rasanya, dua jam kuliah tidak akan cukup. Pertanyaan baru selalu muncul.

Sampai saat ini saja, Indonesia belum bisa mendefinisikan terorisme itu apa. RUU-nya masih digodok.

Bahkan belakangan muncul berita Osama bin Laden dilatih Amerika. Dan ISIS juga adalah buatan Amerika sebagai tandingan Al Qaeda. Ini tentu saja, tentang materi balance of power. Di mana di dunia ini, dalam hal apa pun, tidak boleh ada satu kekuatan besar yang mendominasi.

Saya, tentu saja, tidak akan menulis mendetail soal ini. Itu akan menjadi bertumpuk-tumpuk halaman makalah yang seharusnya membuat otak lebih berisi. Tapi, ini bentuk kekaguman saya kepada Beliau.

Judul diambil dari judul lagu band asal Bandung, Pure Saturday. Kemarin saya membuat akun di medium. Segala catatan musik, akan saya tulis di sana.

Advertisements