Tanya jawab singkat dengan beberapa mahasiswa Hubungan Internasional

Artikel ini, berisi tanya jawab singkat dengan beberapa mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional. Secara acak. Tentang pengalaman menempuh studi, dan hal-hal lain.

Irma Nurlaela Sari Ramadani, Universitas Jenderal Achmad Yani.

Ada senangnya dan dukanya dimana HI adalah jurusan yang paling di utamakan, ada pengetahuan dan public speaking-nya dan kita bisa tau bagaimana berpikir secara terbuka bukan hanya kondisi dalam negeri tapi tiap-tiap negara meliputi ekonomi, keamanan, kebijakan, dan isu-isu dalam dunia internasional.

Pengalaman pertamanya dalam HI adalah bahwa kita ditekankan harus membuka pikiran-pikiran kita secara rasional dan harus mengetahui berita berita internasional terbaru. Awalnya sebelum masuk HI berita-berita internasional tidak saya butuhkan, akan tetapi setelah masuk HI, hal-hal itu menjadi penting karena materi materi HI selalu disangkut-pautkan dengan isu-isu terbaru tersebut.

Ekspetasi saya sebelum masuk HI, berasumsi bahwa HI adalah jurusan yang sangat sulit. Orang-orang bilang bahwa HI kuliahnya seperti ini, ternyata agak berbeda. Setelah masuk jurusan HI kita harus mengutamakan politic attitude dengan baik, serta cara berpikir lebih luas. Berpikir global.

Dina Adhi Sayekti, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Seru, soalnya bisa mengetahui perkembangan dunia karena hal itu yang kita pelajari. Terus bisa belajar bahasa asing selain bahasa Inggris. Bisa meningkatkan bahasa Inggris, karena tiap materi menggunakan bahasa Inggris walaupun dari kelas reguler. Pengalaman masuk pertama senang sekali karena udah bisa ngerasain masuk ke jurusan yang diinginkan dan  gak perlu pakai seragam kaya anak sekolah lagi. Hahaha.

Ekspetasinya, kirain semua pelajaran bahasa pengantarnya pakai bahasa Inggris ternyata dicampur-campur pakai bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, dan ternyata kirain semuanya tentang politik ternyata semua pelajaran dipelajari di HI.

Yang saya sukai mata kuliah Pengantar Kajian strategis, karena itu kebanyakan mempelajari tentang persenjataan dan perang.

Yosua Peranginangin, UPN Veteran Yogyakarta.

Sebelum masuk HI, ada jurusan lain yang kira-kira menarik?

Ada sih. Kemarin sebelum masuk HI sempat tertarik masuk Teknik Nuklir. Hahaha.

Apa perbedaan antara ekspetasi dan realita, sebelum dan sesudah masuk HI?

Ekspektasi: HI belajar budaya. Realita: di dominasi politik.

Tidak suka politik?

Suka.

Betulan? Hahaha. Padahal banyak sisi buruknya.

Gak ada sisi buruknya kalau digunakan pada kaidah-kaidah normatifnya menurutku.

Mata kuliah favorit?

Teori Hubungan Internasional.

Alasannya?

Suka gak harus ada alasan. Hahaha. Gak sih. Aku lebih suka menganalisis sesuatu dengan banyak teori dibanding sekedar asumsi. Makanya suka belajar teori.

Condong ke kiri (sosialis) atau kanan (liberal)? Jawaban tengah-tengah tidak diterima. Hahaha.

Nasionalis, Bung. Sejauh ini setelah mendalami cukup dalam, masih belum bisa milih kiri atau kanan.

Soal refugees Rohingya dari Myanmar, Indonesia harus menerima atau menolak?

Diterima kalau menurutku. Sebenarnya sih alasan normatif. Ya pandanganku sih Indonesia ini dikenal sebagai negara yang paling netral. Banyak ratifikasi perjanjian perjanjian kemanusiaan. Ya nanggung, Bung. Sudah basah mending mandi sekalian. Mungkin yang harus dihimbau bukan pemerintahnya. Tapi masyarakat Indonesia dan ASEAN-nya untuk mewadahi refugees. Mewadahi maksudku lebih seperti bantuan moral dengan datang dan berkomunikasi langsung dengan refugees. Karena refugees itu setauku gak stress karena harta mereka. Tapi karena lingkungan mereka yang gak aman dan merambat ke psikisnya. Sesuai dengan WHO tahun ini yang mendata masalah kesehatan dunia saat ini adalah masalah psikologis, dan temanya “Let’s Talk“, maka bantuan moralnya harus lebih banyak diberi.

Analieza Ilmiatun Mufiedah, Universitas Slamet Riyadi.

Pilih HI karena memang ambitious di international thingy. Sebenernya sedikit kaget karena sebanyak ini politiknya dan sebagaimana ribetnya ngurusin negara lain meanwhile negara sendiri aja konfliknya masih pointless, tapi that’s the beauty in it, I suppose. Bisa memandang dunia dengan berbagai macam teori-teori yang diajarkan di International Relations is the one that I love the most. And nggak mau munafik that prestige of being an IR student is one thing that makes me proud of being a part of it.

Ekspetasinya bisa keliling dunia dengan gratis, but hell nooo! Well, we can if we have the money, yes. But, I dont think money’s enough. Kalau ilmunya belum mencukupi ya jangan sampai malu-maluin di negeri orang gitu.

Mata kuliah paling susah, Teori Hubungan Internasional itself. Hahaha. Ya karena harus paham banyak kasus dari berbagai teori. Belum lagi analisis mana yang paling tepat.

As a feminist I’d say my role model is my mom. Intinya, she’s the one who taught me to survive in such cruel and unfair life by embracing the power of being a female.

Rana Sausan, Universitas Islam Indonesia.

Kenapa pilih HI?

Prospeknya luas.

Tempat berkarir idaman kamu nanti?

Kalau kebanyakan anak HI bilang di Kedutaan bla-bla-bla. Aku gak mesti sih.

Di mana?

Masih belum kepikiran untuk itu.

Sebelum milih HI, ada keinginan prodi lain?

Ada.

What’s that?

Wah, banyak.

😀

Advertisements

2 responses to “Tanya jawab singkat dengan beberapa mahasiswa Hubungan Internasional

Comments are closed.