Warung Kopi

Ini tentang obrolan warung kopi.

Kemarin, saya ikut nimbrung di warung kopi. Tidak tanggung-tanggung, hingga jam dua malam. Obrolannya macam-macam. Dan saya kira, tidak penting sama sekali untuk yang mengobrol. Hanya hiburan semata.

Topiknya pun beragam, dari perempuan seksi sampai politisi. Khusus politik, obrolan lama di isu yang sedang hangat-hangatnya: Ahok di vonis dua tahun penjara. Beberapa setuju, tapi lebih banyak yang tidak setuju. Saya sendiri, urung berkomentar. Sudah muak. Hehehe. Bukan apa-apa, topik tersebut sedang saya kerjakan dalam bentuk paper. Maklum, mahasiswa politik.

Kemudian, warung kopi makin ramai. Obrolan makin seru. Topik beralih ke biksu Ashin Wirathu di Myanmar yang menjadi disinyalir menjadi penyebar kebencian kepada muslim Rohingya.

Semester lalu, saya mengangkat topik ini untuk presentasi kuliah.

“Saya heran, kenapa Joko Widodo masih berteman sama Suu-Kyi. Padahal umat Islam di sana dibantai habis-habisan.” Salah seorang berkomentar.

“Pas ke sini juga, Jokowi gak menyinggung Suu-Kyi soal Rohingya. Lemah.” Komentar orang lain.

Saya tentu saja, urun menanggapi. Sudah bosan. Hahaha.

Lebih tertarik mendengarkan saja, sembari tersenyum kalau ada yang lucu. Satu berkomentar, yang lain menanggapi. Itu suatu yang menarik. Ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling. Tidak peduli yang diucapkan itu masuk akal atau tidak.

Seperti kasus Rohingya.

Mudah berkomentar agar Indonesia memutuskan saja hubungan diplomatiknya dengan Myanmar. Tanpa berpikir, dampak apa yang ditimbulkan setelahnya. Seperti hubungan yang saling tergantung antar dua negara di bidang apa saja. Utamanya, di ASEAN. Memangnya, Indonesia tidak butuh Myanmar. Dan sebaliknya.

Komentar receh di warung kopi itu candu teman-teman. Meski, mustahil menemui kalimat dengan struktur yang baik, dengan argumen yang terasah oleh ilmu bertahun-tahun, juga dasi dan setelan jas atau batik. Tapi, itu candu.

Bukan karena isi obrolannya, tapi kesediaan mereka membahas sesuatu yang tidak penting-penting amat itu hingga berjam-jam.

Advertisements

One response to “Warung Kopi

Comments are closed.