Papua oh Papua

Yehud, salah seorang rekan mahasiswa dari Papua memasukkan saya ke Facebook Group Free West Papua. Saat bertemu dan mengobrol banyak dengannya, saya diceritakan banyak hal tentang kondisi di Papua, terutama gerakan Papua Merdeka. Obrolan itu, tak tanggung-tanggung, empat jam lamanya. Beberapa kawan Yehud yang lain, ikut mengobrol dengan kami.

Obrolan itu, tentu tidak akan saya tulis di sini. Yang jelas, sekarang cara pandang saya agak berubah. Tidak lagi memandangnya sebagai isu separatisme semata. Karena dari sejarahnya saja, saya baru tahu, wilayah Papua merupakan hasil aneksasi. Ini terjadi di era Soekarno.

Oh iya, karena grup tersebut, beranda Facebook saya terkena imbas foto-foto yang membuat merinding. Yang memposting, kebanyakan aktivis dari Free West Papua sendiri. Yang menjadi korban, adalah anggota aktivis atau keluarga mereka. Ini miris.

Yehud juga mengatakan, di Papua, utamanya Papua Barat, suasana jarang kondusif. Polisi, bahkan berlaku semena-mena terhadap masyarakat Papua. HAM seperti tidak ada nilainya. Saya sendiri, tidak langsung percaya. Karena, polisi itu tugasnya melindungi dan melayani masyarakat Indonesia. Yehud, berusaha meyakinkan.

Foto di atas adalah posting terbaru dari salah seorang anggota grup. Sebenarnya, ada empat foto yang ada. Tapi, tiga foto lain terlalu sadistik, karena diambil foto close up penuh dari beberapa korban. Foto saya edit sekedarnya, dan ukurannya juga dikecilkan.

Semoga masalah ini cepat ditemui jalan tengahnya. Yang baik bagi semua pihak. Harapan saya sendiri, satu, Papua tetap bersama Indonesia.

Terimakasih.

Advertisements