Kedigdayaan iklan rokok di Bandung

Sugeng Haryono, Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P31) Jawa Barat punya cerita tentang dominannya produk rokok dalam dunia periklanan, terutama reklame luar ruangan di Kota Bandung. Dominasi yang dimulai sejak tahun 1990-an dan terus berlangsung hingga tahun 2010-an.

“Ada tiga raja iklan ketika itu, rokok, provider seluler, dan sepeda motor. Tiga produk ini yang tampil di papan-papan reklame di Bandung. Sebesar apa pun bidangnya, semahal apa pun sewanya, mereka sanggup.” ungkap Sugeng.

Jika iklan sepeda motor dan provider kendur karena pasar yang jenuh, kedigdayaan produk rokok mulai rontok menyusul makin banyaknya gerakan dan aturan anti tembakau sejak lima tahun lalu. Jumlah reklame rokok yang resmi di jalan-jalan Kota Bandung terus berkurang.

[Laporan: Tri Joko Her Heriadi, jurnalis Pikiran Rakyat.]

Saya sendiri tidak pernah mempermasalahkan iklan produk rokok dalam medium apa pun. Soal betapa pun menariknya saya mungkin tidak tergiur membeli rokok. Karena tidak mendapat esensi kenikmatan dari merokok. Saya baru punya opini tersendiri jika iklan-iklan itu dilarang ada di konser-konser musik. Soal, jujur saja, iklan rokok bisa memberi subsidi tiket konser lebih murah untuk penonton konser macam saya. Itu patut dimanfaatkan. Lebih-lebih perusahaan rokok gemar betul menggratiskan suatu event gigs.  Tapi, tanpa ada subsidi dari iklan rokok, kalau kesempatan, untuk band kesukaan uang bukan soal tentunya.

Advertisements