The power of “komedi”

Komedi hidup dalam ruang budaya tertentu. Komedi dimungkinkan oleh celah-celah yang dibangun oleh konstelasi kekuatan-kekuatan kultural masyarakat. Maka, komedi benar-benar menjadi lucu karena terhubungkan dengan realitas sosial dan kultural ini. Dalam beberapa kasus, komedi ikut juga membuka ruang budaya ini, sebuah ruang di mana segala sesuatu yang jumawa dan ideal dikuak kedoknya; sebuah ruang di mana ada keterbukaan untuk mencampur banyak hal. Tak heran, komedi pun menjadi arena di mana hibriditas dan inovasi bisa dilihat dengan jelas. Sepanjang sejarah manusia, komedi memiliki fungsi beraneka: menjadi ruang publik yang kreatif, mengajukan kritik dan pandangan alternatif dengan cara persuasif, menggugat kemapanan, dan sebagainya. Tetapi, pada saat yang sama, komedi juga merekatkan kembali masyarakat: menjadi katarsis dan ritual purifier yang menjadi celah untuk letupan-letupan sosial sehingga masyarakat tetap utuh. Kritisisme komedi tidak diharapkan menggoncangkan masyarakat secara radikal. Namun, tanpa radikalisme pun, komedi adalah sesuatu yang esensial bagi masyarakat dan budayanya.

Dikutip dari makalah yang ditulis Bagus Laksana, S.J berjudul “Humor Sebagai Ruang Budaya: Resistensi, Hibriditas, dan Ambiguitas.” Fakultas Filsafat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2014.

Advertisements