Inovasi di luar pakem pewayangan

Banyak dalang sekarang tidak lagi takut dituduh melanggar ‘pakem’. Lawakan sensual sering ditampilkan, dan sering mengacu pada pelbagai “affair” di kalangan mereka yang ikut main. Dalang dan sinden sering bertukar kata untuk menciptakan momen-momen jenaka. Menarik bahwa si pesinden pun bisa membalas serangan dan sindiran dari dalang. Dalam momen jenaka dan ringan seperti ini, sensualitas pesinden sering dijadikan pusat perhatian. Posisi duduk pesinden juga dijadikan lebih sentral, sedikit dipisahkan dari area musik gamelan, disediakan tempat khusus dekat dengan dalang. Dalam perkembangan selanjutnya, ruang pesinden ini juga makin penting dan menjadi arena inovasi karena dijadikan tempat di mana orang bisa berdiri dan menari, termasuk bintang tamu (komedian) yang diundang secara khusus. Dalam momen seperti ini, dalang-nya sendiri kemudian meninggalkan tempat, seakan-akan tidak berperan sebagai komandan utama untuk sementara. Pertunjukkan wayang tidak lagi berpusat pada layar. Tentu saja inovasi seperti ini dianggap sebagai sesuatu yang radikal dan tidak sopan. Kalau ditempatkan dalam tata pergaulan dan etiket jawa, tindakan berdiri atau mengambil posisi spasial yang lebih tinggi dalam keadaan seperti itu adalah sebuah pelanggaran.

Dikutip dari makalah yang ditulis Bagus Laksana, S.J berjudul “Humor Sebagai Ruang Budaya: Resistensi, Hibriditas, dan Ambiguitas.” Fakultas Filsafat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2014.

Advertisements