Spiritualitas pohon

Dalam riwayat agama Buddha, kita mengetahui bagaimana Siddharta Gautama mendapatkan pencerahan lewat atau akibat pohon. Seperti ditulis Deepak Chopra dalam Buddha (2011), “Siddharta Gautama mendapati dirinya duduk di atas empuk dan lembut di bawah pohon ara.. Napas alam bercampur dengan napasnya; pohon-pohon dan tanaman rambat seakan tumbuh dari tubuhnya..”. Betapa kesatuan atau integrasi manusia dan pohon dapat meloncatkan batin atau spiritualitas ke level yang lebih tinggi.

Wilayah immaterial, tempat kesadaran mental dan spiritual kita berada, memang selalu dipenuhi ruang metafisika yang selalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Namun, ketika logika atau akal kini begitu dominan dan seolah memberi banyak aspek kemajuan pada peradaban, kearifan pada tumbuhan dan hewan justru kian terbuang. Alhasil, keselarasan alam dan harmoni antara manusia dan alam menjadi pincang. Bencana pun menggedor kehidupan kita, fisik ataupun batin.

Bencana itu, bahkan di tingkat global, kini sudah di depan mata. Bukan akan menjelang, tetapi sudah terjadi. Banyak pula negeri akan hilang. Begitu pun nyawa dan kehidupan.

Namun, kita terus saja alpa dan terus menghidupi, bahkan mengasapi, kobaran api nafsu dan syahwat kita. Api yang membakar alam, menghanguskan pohon-pohon, termasuk hati dan budaya kita. Juga tentu, masa depan anak cucu kita.

Dikutip dari kolom Teroka koran Kompas berjudul “Pohon yang Menceritakan Manusia”, ditulis oleh Saeful Achyar, Pengelola Majalah Papirus.

Advertisements