Pers Komunis

Kuba pada 2016, berada di posisi 171 dari 180 negara dengan penyensoran ketat bagi pers-nya. Ini berdasarkan data dari World Press Freedom Index.

ANTARANEWS, pada 2013 melaporkan seorang penulis blog asal Kuba mengecam sensor terhadap pers dan peraturan pembatasan kebebasan media oleh otoritas Kuba. Ia berkomentar terhadap televisi, radio, koran, dan majalah yang semuanya dimiliki pemerintah.

Sebagian besar rakyat Kuba, dinilainya, masih bergantung pada informasi yang diberikan oleh media milik pemerintah.

Masyarakat Kuba sendiri, dilarang menghabiskan sepertiga dari pendapatan bulanannya untuk mendapat akses internet selama satu jam.

Di Kuba, hanya pegawai sipil, ilmuwan, dan para guru yang bisa mengakses internet selama bekerja, sedang layanannya di rumah-rumah masih dilarang.

Di belahan dunia lain, Indonesia khususnya, sedang gencar-gencarnya melawan hoax karena warga negaranya diberi kebebasan yang luas.

Advertisements