Sepenggal dongeng bulan merah

Tengah malam itu, malam tatkala aku melihat penggalan kepala Lidia disusun dengan kepala-kepala orang lain, aku mencari cara mengambil mayat Lidia. Mayat bergelimpangan di jalan-jalan kampung. Hanya orang gila yang mau mengurusi pemakaman mereka. Darah masih menyembur dari tubuh-tubuh lain di tempat lain, perang masih terbakar dan membakar, ketegangan belum sedikit pun mereda. Berbahaya kalau ada orang memindahkan mayat-mayat dari jalan, bisa-bisa dari jauh sebatang anak panah atau mata tombak melesat masuk ke jantung atau kepala.

Tetapi aku tahu, aku harus mengambil risiko. Aku tidak bisa membiarkan tubuh dan kepala Lidia tergeletak di jalan begitu saja dan tidak berbuat apa-apa.

[Metafora Padma, Bernard Batubara]

Sudah selesai membaca kumpulan cerpen 157 halaman ini. Menarik, terutama di tiga cerpen terakhir. Saya sendiri, menyukai cerpen berjudul Kanibal. Cerpen yang absurd sekaligus horor. Sementara yang saya kutip di atas, ada di cerpen berjudul Sepenggal Dongeng Bulan Merah. Mengambil tema konflik antar suku.

Baca juga: Gru [kutipan lain di Metafora Padma]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s